For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

EA-6B Prowler Terakhir Pensiun, Tetapi Warisannya akan Terus Hidup

Akhirnya  EA-6B Prowler  secara resmi pensiun Korps Marinir, operator terakhir dari pesawat ini. Kisah Prowler secara perlahan merayap menuju akhir sejak Angkatan Laut Amerika mempensiun pesawat itu pada Juli 2015.  Akhir Prowler juga menandai akhir dari warisan yang sangat sukses bagi keluarga pesawat A-6 Intruder Grumman.

Semuanya dimulai dengan YA2F-1, sebuah pesawat serang berbasis kapal induk yang sangat ambisius dengan thrust vectoring nozzles dan sistem komputer yang sangat canggih untuk era di mana ia dirancang — tahun 1950-an.

Pesawat yang pertama kali terbang pada tahun 1960 dan disempurnakan menjadi A-6 Intruder, sebuah pesawat serang yang sangat berat dan tepat yang dapat mengangkut banyak bom besar ke dalam wilayah musuh dalam cuaca buruk dan pada malam hari saat terbang di tingkat yang sangat rendah.

A-6 mulai beroperasi pada tahun 1963 dan terus bertempur di Vietnam selama satu dekade dan kemudian ke Libya dan Irak dan operasi-operasi lainnya,

Grumman dan Angkatan Laut dengan cepat melahirkan EA-6A, varian peperangan elektronik dari Intruder dengan dua kursi yang dibangun untuk menghalangi radar pertahanan udara musuh. Hanya 28 unit dari pesawat ini yang dibuat, dengan yang pertama terbang pada tahun 1963.

Tetapi konsep ini sukses dan, dibantu oleh pelajaran yang didapat dengan susah payah di langit Vietnam yang berbahaya, kemudian mengantarkan lahirnya EA-6B Intruder empat kursi yang dirancang ulang. Jet peperangan elektronik dengan kemampuan beroperasi dari kapal induk ini pertama kali terbang pada tahun 1968 dan mulai beroperasi pada tahun 1971.

Selama 48 tahun karier EA-6B dengan Angkatan Laut dan Marinir Amerika, pesawat ini menjadi lebih mampu dan penting. Setelah pensiunnya EF-111 Raven USAF pada tahun 1998, EA-6B menjadi hampir satu-satunya penyedia dukungan peperangan elektronik untuk senjata udara Amerika, dengan hanya EC-130H Compass Call Angkatan Udara yang jumlahnya kecil untuk menyediakan kemampuan tumpang tindih terbatas dalam kemampuan.

Seiring berjalannya waktu, trik si Powler menjadi lebih banyak. Prowler memperoleh kemampuan untuk menembakkan Highspeed Anti-Radiation Missile (HARM) AGM-88 untuk mendukung peran penindasan terhadap pertahanan udara musuh atau suppression of enemy air defenses (SEAD) sementara juga menawarkan dukungan pod pengacau dengan pengganggu ALQ-99.

EA-6A dan EA-6B berdampingan.

Perangkat perang elektronik EA-6B juga dapat digunakan untuk menghentikan beberapa sistem komunikasi, dan menjelang akhir kariernya, komunitas Prowler menjadi cukup mampu memberikan dukungan gangguan udara yang bertujuan untuk mengganggu perangkat bahan peledak improvisasi (IED) dan meledakkan dari jarak jauh. IED telah  horor pada pasukan darat Amerika dan sekutu di Irak dan Afghanistan.

Jet terakhir terkonfigurasi dalam ICAPIII yang merupakan pesawat sangat andal. Pemutakhiran itu secara drastis meningkatkan kesadaran situasional Prowler, kemampuan berkomunikasi, efektifitas jamming, dan hubungan antara manusia-mesin atau human-machine interfaces.

Semua ini digunakan sebagai dasar untuk pengembangan sistem peperangan elektronik EA-18G Growler. Namun ICAPIII Prowler dapat melakukan beberapa hal lebih baik daripada Growler yang telah menggantikan Prowler di US Navy.

Sebagaimana ditulis War Zone, dalam beberapa tahun terakhir, segelintir dari sisa-sisa USMC Prowler masih terbang bahkan mengangkut pod penargetan LITENING, bertindak dalam peran pengawasan sambil juga menjalankan misi gangguan pada saat yang sama jika diperlukan.

Intinya, meskipun Prowler adalah pesawat yang sangat kuno, dia menjadi platform multi-peran sejati di masa senja kariernya.

Skuadron Prowler terakhir USMC, Marine Tactical Electronic Warfare Squadron 2, atau VMAQ-2 “Death Jesters,” yang berpusat di Stasiun Udara Korps Marinir Cherry Point, telah mengucapkan selamat berpisah dengan kudanya selama upacara. di pangkalan Jumat 8 Maret 2019.

USMC belum memutuskan untuk membeli EA-18G Growler atau platform peperangan elektronik khusus lainnya. Sebagai gantinya, layanan ini akan mendesentralisasikan beberapa kemampuan peperangan elektronik di seluruh armada terbangnya dengan menggunakan pod Intrepid Tiger dan drone MQ-21 Blackjack.

Tetapi  sistem-sistem ini, walaupun memiliki kemampuan sendiri, tidak menyediakan kemampuan serangan elektronik kelas atas terhadap sistem pertahanan udara musuh di area yang luas yang dapat disediakan EA-6B atau EA-18G.

F-35B dan C, yang dibeli oleh Marinir Amerika, memang memiliki rangkaian peperangan elektronik yang kuat, tetapi terfokus pada perlindungan diri lebih daripada memberikan  perlindungan kekuatan besar dan dukungan gangguan area luas yang ditawarkan oleh Prowler dan Growler.

Secara keseluruhan, komunitas EA-6B, yang relatif kecil dibandingkan dengan jet cepat lain, terbang lebih dari 260.000 jam dan merupakan bagian dari hampir setiap operasi militer utama Amerika selama layanan aktif mereka. Namun satu metrik yang tidak dapat dihitung adalah berapa banyak pilot dan pesawat yang diselamatkan oleh kemampuan mengacak radar EA-6B.

Perhatikan pod LITENING di sayap kiri pesawat.

Prowler juga telah menjadi bagian penting pengembangan pesawat stealth Amerika, bekerja sebagai bagian yang hampir esensial dari ‘koktail teknologi stealth’ Amerika, sejak F-117 menerbangkan sorti tempur pertamanya. Perlu dicatat bahwa satu-satunya F-117 yang hilang dalam pertempuran terjadi selama Operation Allied Force terjadi pada malam ketika tidak ada EA-6B yang menyediakan payung serangan elektronik untuk melindungi jet tersembunyi jauh ke dalam wilayah udara musuh.

Hal sama dapat dikatakan tentang tentara di darat. Berapa banyak yang tidak pernah tahu bahwa mereka bisa tetap hidup dengan anggota tubuh yang masih utuh karena malaikat peperangan elektronik mengorbit di atas kepala mereka.

Jadi meski EA-6B telah seluruhnya pensiun, warisannya akan hidup jauh lebih lama. Bahkan mungkin akan hidups selamanya.

 

Facebook Comments