For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Pentagon Hidupkan Kembali Assault Breaker Perang Dingin, Apa Ini?

B-52

Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) sedang meneliti senjata pintar jarak jauh baru yang dirancang untuk menghancurkan pasukan musuh yang menyerang hingga memberi waktu bagi Amerika untuk mengirim bala bantuan ketika terjadi perang di masa depan.

Program yang dikenal sebagai “Assault Breaker II,” tersebut mencerminkan program era Perang Dingin yang dirancang untuk menghentikan ujung tombak lapis baja Soviet yang siap untuk meluncur ke Eropa Barat.

Upaya itu akan terdiri dari kombinasi sensor jarak jauh dan pembom sarat dengan senjata pintar yang dirancang untuk mencari dan menghancurkan tank, kapal, dan sistem musuh lainnya.

Pada tahun 1970-an, NATO menghadapi Tentara Soviet yang unggul secara numerik di Eropa. Jika terjadi perang, pasukan Soviet akan mengalir ke Eropa Barat dengan gelombang demi gelombang pasukan tank dan divisi mekanis. Penggunaan senjata nuklir taktis untuk menyerang balik dalam skenario seperti itu, meski merupakan inti dari strategi pertahanan NATO sejak 1950-an, berisiko meningkat menjadi perang nuklir habis-habisan.

Sebagai tanggapan, memulai sebuah proyek yang dikenal sebagai Assault Breaker. Assault Breaker akan menggabungkan sensor-khususnya pesawat pengintai udara E-8C JSTARS-dengan senjata pintar jarak jauh yang dirancang untuk memburu dan menghancurkan kendaraan lapis baja musuh.

Sementara pasukan darat NATO berhadapan langsung dengan gelombang pertama dari pasukan Soviet yang menyerbu, Assault Breaker akan menargetkan tindak lanjut pasukan Soviet di belakang garis musuh higga mereka akan berdarah sebelum bahkan mencapai garis depan.

Sekarang, menurut Aviation Week & Space Technology, ide di balik Assault Breaker kembali dihidupkan. Amerika sepertinya khawatir bahwa negara-negara seperti Rusia dan China dapat melakukan serangan mendadak besar-besaran di pangkalan-pangkalan Amerika di dekatnya, menghancurkan mereka dan meninggalkan Pentagon tanpa sarana untuk melawan.

Assault Breaker II akan menjadi sistem reaksi cepat yang mampu diluncurkan beberapa jam setelah serangan. Assault Breaker II akan sangat merusak pasukan musuh di garis depan, hingga memberi waktu bagi Amerika untuk mengalirkan bala bantuan ke arena pertempuran.

Sebagaimana ditulis Popular Mechanics Selasa 5 Maret 2019, Assault Breaker II kurang lebih akan bekerja seperti ini: Katakanlah Rusia telah melancarkan serangan terhadap sisi timur NATO, terhadap negara-negara Baltik Lithuania, Latvia, dan Estonia. Pembom dan rudal jarak jauh Rusia telah menyerang pos-pos militer dan pangkalan-pangkalan udara Amerika di seluruh wilayah itu, menyebabkan banyak korban dan mencegah tanggapan segera.

Sebagai tanggapan, Angkatan Udara Amerika segera meluncurkan Skuadron 12 berkekuatan pembom berat B-52H. Pesawat JSTARS, setelah mengidentifikasi kolom lapis baja Rusia yang bergerak melintasi Baltik dan diserahkan ke B-52 untuk digempur.

Setiap bomber melepaskan 20 rudal serangan Assault Breaker. Ketika rudal itu mendekati kolom tank Rusia, rudal itu melepaskan hingga 40 submunisi cerdas, yang masing-masing berkekuatan pada sensor infra merah dan mulai berburu tank.

Setelah sebuah tank ditemukan, ia akan menembakkan sebuah penetrator yang menghantam secara eksplosif ke dalam armor tipis yang melindungi bagian atas tank atau kendaraan lapis baja, menghancurkannya.

BLU-108 submunition dispenser yang ditunjukkan dalam video di bawah ini, dapat mengemas hingga empat submunisi pemburu tank, dan satu bom CBU97 dapat mengemas hingga sepuluh BLU-108 di dalamnya.

Dengan asumsi setiap amunisi memiliki peluang 50 persen untuk menghancurkan sebuah tank, satu senjata Assault Breaker dapat memukul 20 dari 30 tank dalam sebuah batalion tank Rusia, menjadikan unit itu tidak layak untuk bertempur.

Lipat gandakan dengan 240 dan hanya dua belas pembom yang dapat melakukan pukulan melumpuhkan pada pasukan invasi maka akan melakukan hampir sepuluh ribu tembakan.

Situasi serupa dapat terjadi melawan China, meskipun tidak mungkin Amerika akan menghadapi sejumlah besar pasukan darat China di Asia-Pasifik.

Dalam skenario yang melibatkan China, Assault Breaker II akan digunakan untuk menargetkan pangkalan udara musuh, pangkalan angkatan laut, dan bahkan kapal. Amunisi dapat menargetkan pesawat yang duduk di pangkalan atau antena radar khusus pada kapal perusak angkatan laut, membutakan kapal musuh dan membuat mereka tidak bisa beraksi.

Assault Breaker II dimaksudkan untuk menjadi pencegah, menghalangi potensi musuh untuk meluncurkan serangan mendadak di AS dan tetangganya. Bahkan jika serangan seperti itu berhasil, Assault Breaker II akan mencegah pasukan musuh dari mengeksploitasi serangan, menghancurkan mereka dan pada gilirannya memegang musuh dalam risiko dari bala bantuan Amerika.

Pentagon berharap dapat membangun Assault Breaker II dalam waktu sepuluh tahun atau kurang. Hampir semua teknologi sudah matang dan telah beroperasi selama bertahun-tahun. Kali ini bahkan lebih banyak fitur baru dapat ditambahkan, , seperti mekanisme dekonflik yang dirancang untuk mencegah beberapa amunisi menyerang target yang sama, kemampuan rudal yang sama untuk digunakan terhadap target di darat dan di laut, dan mekanisme penghancuran diri untuk mencegah amunisi yang tidak meledak menimbulkan risiko bagi warga sipil.

Facebook Comments