For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Kisah Horor Saat Kanopi Jet Militer US Navy Pecah di Udara

Lepasnya kanopi F-15D Israel saat terbang pada ketinggian 30.000 kaki memang sebuah kecelakaan yang langka. Tetapi juga bukan hal pertama terjadi. Kisah mirip pernah dialami dua pilot Angkatan Laut Amerika yang harus berjuang dalam horor mengerikan sebelum kemudian bisa mendaratkan pesawat di kapal induk.

Peristiwa langka itu terjadi pada 9 Juli 1991 dan dialami Letnan Mark Baden dan Letnan Keith Gallagher yang menerbangkan KA-6D yang merupakan versi tanker dari pesawat tempur A-6 Intruder. Berbagai peralatan tempur serta dari A-6 dihilangkan untuk diganti dengan paket pengisian bahan bakar. Sebanyak 90 KA-6D diproduksi oleh Grumman untuk US Navy. Salah satu peristiwa yang paling terkenal yang melibatkan KA-6D selama beroperasi 1963-1997 adalah 9 Juli 1991.

Pada hari itu, Letnan Mark Baden dan Letnan Keith Gallagher terbang dengan call sign “Lizard 515” dari kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72).

salah satu KA-6D saat mengisi bahan bakar di udara untuk F-14

“Pada ulang tahun 26 saya dikejutkan oleh sepotong nasib buruk yang hampir membunuh saya. Hanya mukjizat yang menyelamatkan saya,” kata Gallager

Sebagaimana pernah ditulis The Aviationist, setelah ada panggilan pengisian bahan bakar ketiga, Lizard 515 segera mengambil posisi siap mengisi bahan bakar. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi.

“Saya merasakan sesuatu yang aneh terjadi: kepalaku menyentuh kanopi. Untuk sesaat aku berpikir bahwa aku telah tidak sempurna menggunakan sabuk pengamanku. Tetapi ternyata aku salah. Sebelum aku bisa menyelesaikan pikiran itu tiba-tiba ada ledakan keras, diikuti oleh angin dan kebisingan yang luar biasa keras. Kebingungan seketika menguasai pikiran saya. Saya mencoba kembali ke kursi saya. Tetapi gagal karena angin terlalu kencang. Apakah kanopi meledak? Apakah kaca depan meledak?. Semua pertanyaan ini ada di kepala saya di tengah situasi yang kacau. Saat aku melihat ke bawah yang saya lihat adalah bagian atas kanopi. Saya baru sadar saya telah keluar dari ruang kopkit dan seperti sedang duduk di atas pesawat A-6 ”

Situasi yang dialami Gallagher begitu ekstrem: “Aku tidak bisa bernapas. Helm dan masker saya telah robek, dan tanpa kedua alat itu angin menghantam muka saya dengan sangat keras. Rasanya seperti mencoba minum melalui selang pemadam kebakaran. Aku tidak menghirup udara di tengah-tengah angin. Lenganku tertarik ke belakang sampai akhirnya aku bisa menariknya dan merapatkan ke dada saya.”

Pesawat KA-6D yang pecah kanopinya saat hendak mendarat. Tampak salah satu kru (navigator) tubuhnya sudah ada di luar pesawat)

Sementara Baden mencoba melakukan pendaratan, Gallagher mencoba untuk melakukan injeksi guna melontar dari pesawat. “Aku meraih pegangan bagian bawah dengan kedua tangan dan menariknya tetapi tidak bergerak. Dalam situasi panik aku mencobanya lagi tetapi tetap tidak berhasil. Pegangan tidak akan bergerak. Aku mencoba lagi untuk mencapai pegangan tapi angin menyeret tangan saya. Yang bisa lakukan kemudian adalah hanya menahan kedua tangah di dada saya. Karena jika salah satu lepas dia akan tertarik keras ke belakang dan itu sangat buruk,” ujarnya.

Baden segera menghubungi kapal induk untuk meminta pendaratan darurat dan segera dipersilahkan. Pada titik ini Baden melihat kaki Gallagher masih bergerak hinga dia yakin kawannya belum mati. Ketika operator di kapal induk apakah Galagher masih dengan pesawat, Baden menjawab “Hanya kakinya masih di dalam kokpit.” Jawabnya. Untungnya, operator mengerti apa maksudnya yakni bahwa Gallager masih hidup.

Kondisi Gallagher benar-benar panik: “Angin telah menyiksa fisik dan emosi saya dengan luar biasa. Angin menghantam wajahku dan tubuh seperti terkena air bah tanpa henti. Suara menderu ada di telinga saya. Saya benar-benar bingung. Tekanan angin yang begitu kencang di mulut saya menjadikan saya tidak bisa bernapas. Waktu aku telah kehilangan harapan. Tiba-tiba saya teringat istri saya dan akhirnya berkeyakinan. Aku tidak ingin mati.”

Sementara Baden menuju ke USS Abraham Lincoln, dalam pikirannya dia tidak akan melakukan pendaratan sempuna (rekaman dapat dilihat dalam video di bawah): “Saya tidak berniat melewatkan kabel. Aku mendarat pendek di kawat pertama (pendaratan sempurna disebut OK 3 dan itu terjadi ketika pilot menggunakan kabel ketiga dari empat kabel serta menarik throttle ke idle). Jika pendaratan sempurna pecahan kanopi bisa langsung di depan dada BN dan akan menjadi pisau yang sangat tajam. Saya sangat khawatir perlambatan perangkap itu akan melemparkan dia ke tepi kanopi yang bergerigi.”


Pesawat KA-6D yang pecah kanopinya mendarat. Tubuh navigatornya terseret keluar pesawat sementara parasutnya terlempar hingga ke bagian ekor pesawat

Ketika Baden dan Gallagher tahu apa yang sebenarnya terjadi mereka menyadari betapa beruntungnya mereka. Ternyata parasut Gallagher telah terlontar hingga ke bagian ekor pesawat. Untungnya tidak terkembang. Satu-satunya hal yang menahan dia tetap di pesawat adalah tali parasut.

“Cedera paling serius yang saya alami adalah 1/2 lengan kanan saya (bahu, bisep, dan lengan bawah) lumpuh karena saraf. Selain itu, bahu kiri saya rusak juga. Banyak bagian terkilir. Via terapi fisik, saya sembuh dalam waktu enam bulan. Bahu kanan saya kembali dalam sekitar 1 bulan, lengan saya di sekitar 2-3 bulan, dan bisebp saya kembali dalam waktu sekitar 4-5 bulan. Aku harus melakukan semua kualifikasi saya fisiologis untuk membuktikan bahwa saya OK dan aku terbang lagi 6 bulan setelah kecelakaan itu.”

Facebook Comments

error: Content is protected !!