For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Jet Tempur F-15X dan Kebenaran Ramalan Novel Ghost Fleet

F-15X yang awalnya disebut sebagai F-15 2040C

Novel Ghost Fleet yang pernah menjadi perdebatan politik di Indonesia karena meramal Indonesia akan punah pada 2030 juga menyinggung peran sebuah jet tempur legendaris Amerika Serikat F-15.

Dalam tersebut ditulis mengandalkan jet tempur generasi ke-5 Amerika akan kesulitan melawan perang di dua medan yakni China dan Rusia di Pasifik. Dalam skenario buruk ini, Angkatan Udara Amerika akhirnya menarik pensiunan F-15  untuk melengkapi armada kerangka F-22 dan F-35.

Ramalan itu sedikit banyak mulai menjadi terkuak kebenarannya, salah satunya dengan rencana Angkatan Udara Amerika Serikat membeli F-15X, varian paling modern dari Eagle.

F-15X akan menampilkan sistem tiang baru yang memungkinkannya untuk menangani beban senjata yang lebih berat, suite peperangan elektronik yang ditingkatkan, susunan radar AESA dan bahkan sensor multi-fungsi baru yang dikenal sebagai “Pod Legiun.”  Harga dan biaya penerbangan F-15X juga relatif rendah yakni US$ 27.000 per jam penerbangan dibandingkan dengan US$ 35.000 yang dibutuhkan untuk menerbangkan Raptor jam.

Angkatan Udara Amerika memang diam-diam mengorganisir rencana untuk mengganti armada F-15 C / D dengan pesawat tempur superioritas udara F-15X Eagle. Langkah ini dapat mengisi celah karena sedikitnya F-22 Raptor atau menebus kekurangan F-35  serta meringankan biaya dalam mengoperasikan dan memelihara dua pesawat tempur generasi ke-5.

Sebagaimana ditulis Task and Purpose, awalnya ditugaskan pada pertengahan ’70 -an untuk melawan gerombolan pesawat Soviet di atas langit Eropa, Eagle telah menjadi pilhan utama di zona perang Timur Tengah dan Asia Tengah. Usia lebih dari 200 F-15 Angkatan Udara Amerika telah menjadi perhatian – terutama karena mereka menua lebih cepat dari F-35 yang mulai beroperasi.

F-35 adalah pisau Swiss Army dari sebuah pesawat terbang, sarat dengan fitur siluman dan misi udara ke darat, menjadikannya petarung yang kurang mampu daripada F-15 dalam jarak dekat. Dan jika F-35 digunakan sebagai pengangkut rudal stand-off, membawa 16 rudal udara ke udara pada tiang eksternal, itu kehilangan karakteristik siluman yang membuatnya sangat berharga (dan mahal).

F-15, di sisi lain, bisa dibilang raja jet tempur generasi keempat dalam hal pertempuran udara. Boeing terus menyempurnakan avionik internal Eagle, mengekspor varian yang ditingkatkan ke Israel, Arab Saudi, dan Qatar.

F-15X yang diusulkan akan mampu menahan 22 rudal udara ke udara. Muatan senjata ini akan menjadikan F-15X sebagai binatang buas dalam setiap pertarungan “Beyond Visual Range”, dan di zaman strategi penolakan anti access dan area denial (A2 / D2), BVR akan menjadi permainan utama di fase pembuka dari setiap konflik di Asia.

Kembali ke novel Ghost Fleet, F-15 sepertinya memang akan tetap memegang perang penting kekuatan udara Amerika Serikat. Mereka akan tetap menjadi tulang punggung dan penentu permainan ketika jet tempur generasi kelima akhirnya tidak sanggup untuk meraih kemenangan.

Ghost Fleet memamg bukan sembarang novel. Karya ini adalah tulisan fiksi ilmiah dari dua penulis asal Amerika Serikat, yakni Peter Warren Singer dan August Cole. Peter Warren Singer adalah seorang peneliti politik dan perang asal Amerika Serikat. Selain itu, dia dikenal sebagai editor lepas dari majalah sains dan teknologi, Popular Science.

Facebook Comments

error: Content is protected !!