For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Eks Jenderal Israel: Tentara Kami Tidak Siap untuk Perang Besar

Tentara Israel

Mayjen Yitzhak Brick dari Angkatan Darat Israel baru-baru ini pensiun setelah menjabat sebagai Kepala Ombudsman Pasukan Pertahanan Israel selama lebih dari satu dekade.

Sebelum kepergiannya, Brick bertengkar dengan petinggi militer Israel setelah menerbitkan laporan menyeluruh yang menunjukkan bahwa pasukan darat Israel sangat tidak siap untuk konflik besar.

Brick melanjutkan rentetan kritik terhadap militer atas tingkat kesiapan pada Rabu 9 Januari 2019 saat ia digantikan oleh mantan pengawas keuangan pertahanan Eitan Dahan.

“Jika ada perang, trauma Yom Kippur akan berjalan-jalan di taman. Itu perbandingannya,” kata Brick, berbicara kepada televisi Israel dan dikutip Sputnik Kamis 10 Januari 2018.

Brick mengacu pada Perang Oktober 1973 antara Israel dan koalisi negara-negara Arab, yang membawa Israel ke ambang kekalahan dan hampir memicu perang yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang mendukung pihak-pihak yang berseberangan dalam konflik.

Menurut perwira itu, Israel saat ini  membangun tentara ke dalam situasi di mana mereka dapat memberikan jawaban pada dua ancaman: Lebanon dan Gaza.

Tetapi telah terjadi perubahan di Timur Tengah yakni dengan kembalinya Suriah. “Ancaman utama yang belum dipertimbangkan sudah dekat kita,” katanya.

“Bagaimana Anda membangun pasukan tanpa mempertimbangkan perubahan di Timur Tengah? Ini tidak bertanggung jawab di tingkat nasional,” tambah Brick.

Pejabat pensiunan itu mengatakan misinya sebagai ombudsman adalah ‘memecahkan gelembung’ ilusi Angkatan Pertahanan Israel (IDF).

“Rahasia terdalam angkatan darat bahwa mereka melakukan segalanya untuk tetap aman. Itu yang terjadi . Mereka telah melakukannya dengan sukses luar biasa sampai hari ini, sampai Brick ini datang dan memecahkan gelembung [ilusi],” kata Brick.

Sebelum pensiun, Brick berulang kali mengkritik militer atas apa yang menurutnya tidak siap untuk perang. Juni lalu, ia mengutip kekurangan akut dokter dan psikiater, serta langkah-langkah pemotongan biaya, yang katanya memiliki efek negatif pada moral para perwira muda.

Brick menyalahkan kelemahan ini pada strategi reformasi lima tahunan  2015,  mengusulkan pengurangan jumlah prajurit yang berkarier menjadi kurang dari 40.000, dan mengurangi wajib militer sebanyak tiga bulan untuk pria.

Perubahan-perubahan ini mengakibatkan kelelahan dan hilangnya motivasi di antara para perwira yang tersisa, menurut ombudsman.

Investigasi Knesset menantang temuan Brick yang menyimpulkan akhir tahun lalu bahwa tentara dalam kondisi yang baik dan bahwa kesiapan operasional sebenarnya “meningkat secara signifikan” sejak perang Gaza 2014.

Israel memiliki pengeluaran pertahanan terbesar ke-14 di dunia pada tahun 2017, menghabiskan US$ 21,6 miliar, jauh melebihi sebagian besar pesaing regional, termasuk musuh tradisional Suriah yang  menurut Global Firepower menghabiskan US$ 1,87 miliar, dan Iran, yang menghabiskan US$ 6,3 miliar.

Israel juga diyakini memiliki antara 80 dan 400 hulu ledak nuklir, meskipun mereka tidak pernah mengkonfirmasi ataupun menolak memiliki nuklir.

Israel telah terlibat dalam 14 konflik dalam 71 tahun sejarahnya, termasuk perang dengan negara-negara Arab, serta konflik terbatas dengan kelompok-kelompok militan seperti Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hezbollah dan Hamas.

Facebook Comments

error: Content is protected !!