Rudal AGM-158B, Sebiji Harganya Rp12 Miliar, Lalu Apa Kehebatannya?

B-1 saat melepaskan Lockheed AGM-158b "JASSM"

Arsenal Angkatan Udara Amerika memiliki salah satu rudal udara ke darat yang sangat mahal. Betapa tidak, satu biji rudal ini harganya mencapai sekitar Rp12 miliar.

Senjata ini dikenal sebagai Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER) atau juga disebut AGM-158B. Serangan udara Amerika ke Suriah pada 14 April 2018 lalu menjadi debut tempur pertama rudal tersebut.

Rudal itu adalah salah satu senjata konvensional paling canggih di gudang senjata Amerika dan saat ini sedang dimodifikasi untuk menyerang sasaran laut. Bagaimana asal usul dan kemampuan senjata ini sebenarnya?

Serangan udara Amerika ke Suriah pada 14 April 2018 lalu menjadi debut tempur pertama rudal baru yang dikenal sebagai Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER).

Rudal itu adalah salah satu senjata konvensional paling canggih di gudang senjata Amerika dan saat ini sedang dimodifikasi untuk menyerang sasaran laut. Bagaimana asal usul dan kemampuan senjata ini sebenarnya?

AGM-158B  dikembangkan dari pendahulunya yakni AGM-158A  (biasa hanya disebut AGM-158) JASSM. Senjata ini lahir ketika pada awal 1990-an Angkatan Udara Amerika sedang mencari rudal jelajah presisi tinggi baru, yang dapat menembus pertahanan udara sistem pertahanan udara canggih Rusia  seperti S-300 dan turunannya.

Senjata ini direncanakan dibawa oleh pembom jarak jauh Amerika, seperti B-1 Lancer dan B-2 Spirit.  Lockheed Martin kemudian menawarkan desain AGM-158, yang berkompetisi melawan AGM-159 yang diusulkan oleh McDonnell Douglas.

Lockheed Martin memulai pengembangan rudal jelajah yang diluncurkan dari udara pada tahun 1995. Pada tahun 1998, desain AGM-158 dipilih oleh USAF. Lockheed Martin menerima kontrak pengembangan dan produksi Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM).

Tes penerbangan dimulai pada tahun 1999 dan pengembangan akhirnya selesai pada tahun 2003. Pesanan produksi pertama dibuat pada tahun 2004 dan pengiriman dimulai pada tahun 2005.

Namun setelah itu ada sejumlah peluncuran misil yang gagal. Pada 2007-2008 Pentagon bahkan berencana untuk meninggalkan program, namun Lockeed Martin akhirnya memperbaiki masalah keandalan ini.  Hingga 2010, total 1 000 rudal telah dikirimkan dan direncanakan total 4 900 rudal JASSM akan diproduksi untuk USAF.

AGM-158 JASSM

Pada tahun 2016, total 2 000 AGM-158A JASSM dan rudal AGM-158B JASSM-ER telah dikirimkan. Angkatan Laut Amerika awalnya merencanakan untuk mengakuisisi lebih dari 450 rudal AGM-158A, tetapi akhirnya membatalkan rencana ini dan memilih mendukung rudal SLAM-ER yang telah terbukti. Rudal jelajah JASSM telah diekspor ke Australia, Finlandia dan Polandia.

AGM-158 JASSM adalah rudal jelajah dengan akurasi tinggi. Peran utama dari rudal ini adalah untuk target penting dari jarak jauh tanpa memasuki zona pertahanan udara lawan.

Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 370 km. Rudal membawa hulu ledak Explosive Fragmentation (HE-FRAG) seberat 450 kg. Rudal  memiliki sistem navigasi inersia dengan pembaruan GPS juga menggunakan pencari IR untuk bimbingan terminal. Rudal ini sangat akurat. USAF melaporkan bahwa AGM-158 memiliki kesalahan akurasi hanya 3 meter.

Ketika rudal dibawa, sayap dan siripnya dilipat dan terbuk setelah rudal dilepaskan. Perjalanan rudal ini dengan kecepatan subsonik. Lebih sulit untuk mendeteksi dan mencegat rudal ini karena mengurangi penampang radar dan IR.  Kemampuan ini membuatnya lebih mudah untuk mengatasi sistem pertahanan udara canggih, seperti  S-300 dan S-400 buatan Rusia.

B-1 Lancer dapat membawa 24 JASSM rudal, B-2 Spirit dapat membawa 16 dari rudal ini, sedangkan B-52H Stratofortress dapat membawa 20 rudal. Rudal ini juga dapat diintegrasikan pada F / A-18E / F, F-15E dan F-16.

Pesawat-pesawat tempur ini dapat membawa satu atau dua rudal serangan darat ini. AGM-158 terlalu panjang untuk dibawa ke dalam teluk senjata internal pesawat tempur siluman F-35. Satu rudal AGM-158 berharga sekitar US$ 850.000 atau sekitar Rp12 miliar (dengan kurs Rp14.500).

Rudal ini memiliki sejumlah varian. Yang pertama adalah AGM-158A yang merupakan versi produksi awal. Pengembangan rudal ini akhirnya selesai pada tahun 2003 dan produksi dimulai sesudahnya. Pada tahun 2015 diumumkan bahwa produksi versi AGM-158A akan berhenti untuk kemudian beraih ke AGM-158B JASSM-ER denagn jarak leih jauh.

AGM-158B JASSM-ER adalah versi jarak jauh yang memiliki hampir dua kali lipat jangkauan dari AGM-158A JASSM. Jangkauan lebih jauh  karena mesin yang lebih efisien dan tangki bahan bakar yang lebih besar.  Namun dimensi eksternal dari rudal ini sama.

Jadi secara eksternal, dua varian ini tidak dapat dibedakan dalam penampilannya. JASSM-ER memiliki jangkauan 930 km.  Tes penerbangan pertama dilakukan pada tahun 2006 dengan produksi tingkat rendah dimulai pada tahun 2011.

USAF berhasil menyelesaikan evaluasi rudal ini pada tahun 2013 dan mengadopsinya pada tahun 2014. JASSM-ER melakukan debut tempurnya pada tahun 2018, ketika diluncurkan melawan target di Suriah. Amerika mengklaim bahwa selama serangan tersebut, sistem pertahanan Suriah gagal mencegat satupun JASSM-ER.

AGM-158C Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) adalah rudal jelajah anti-kapal. Program pengembangannya dimulai pada tahun 2009 dan didasarkan pada AGM-158B JASSM-ER. Pengembang mengklaim bahwa rudal ini memiliki jangkauan lebih dari 370 km.

Namun beberapa sumber berspekulasi bahwa itu mungkin memiliki jangkauan 560 km, mengingat bahwa rudal tersebut didasarkan pada AGM-158B JASSM-ER yang memiliki jangkauan 930 km. Rudal ini membawa 450 kg hulu ledak. Direncanakan untuk memasuki layanan dengan USAF pada 2018 dan dengan Angkatan Laut AS pada 2019.

Versi Angkatan Laut AS akan dibawa oleh F/A-18E/F Super Hornets dan pada akhirnya bisa ditembakkan dari sistem peluncuran vertikal Mk.41, yang banyak digunakan kapal perang Amerika.

Facebook Comments

error: Content is protected !!