For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika Habiskan Rp936 T untuk Pasukan Afghanistan, Tapi Tetap Berantakan

Polisi Afghanistan

Fenomena ini tidak mengherankan. Jumlah pasukan yang melonjak memungkinkan penambahan dana, peralatan, dan personil pendukung yang memungkinkan korupsi yang melumpuhkan militer Afghanistan.

Senjata, khususnya, adalah salah satu cara SIGAR dapat melacak dampak tentara hantu. Pada tahun 2014, sebuah laporan SIGAR menunjukkan bahwa 203.888 dari 474.823 senjata dengan nomor seri dicatat di Verifikasi Operasional Pasukan Nasional Afghanistan hilang. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka.

Fenomena tentara hantu juga bisa dilihat pada skala yang lebih kecil di provinsi-provinsi di seluruh negeri.

Pada 2016, kepala polisi Helmand, Aqa Noor Kintoz, melaporkan bahwa dia yakin setengah dari kekuatannya adalah hantu. Ada sekitar 10.000 personil polisi di Helmand, 16.000 tentara, dan sejumlah pasukan perlindungan publik dan pasukan keamanan perbatasan yang tidak diketahui jumlahnya.

“Sekitar 50%  tidak ada secara fisik ketika kami meminta bantuan selama operasi,” kata Kintoz kepada berita TOLO Afghanistan.

Dan menurut laporan Biro, anggota dewan di distrik Nawa di provinsi Helmand jatuh ke tangan Taliban karena diperkirakan dari 700 polisi di distrik tersebut hanya tinggal 300 yang bekerja.

Tetapi korupsi dan penyimpangan yang dilakukan oleh tentara hantu bukanlah satu-satunya masalah. Buta huruf adalah penyebab utama terputusnya antara tentara Afghanistan dan pelatih Amerika.

Laporan SIGAR menunjukkan bahwa 70% warga negara tersebut buta huruf, dan metode pelatihan Amerika tidak memperhitungkannya. Tidak hanya sebagian besar rekrutan Afghanistan yang tidak dapat membaca dan menulis, sebagian besar dari mereka juga tidak paham dengan teknologi yang digunakan barat.

“Pada satu titik, sesi pelatihan untuk polisi Afghanistan menggunakan kurikulum berbasis PowerPoint dari operasi Balkan AS-NATO,” kata Sopko di CSIS.

“Presentasi itu tidak hanya tidak cocok dengan Afghanistan, tapi juga mengabaikan tingginya tingkat buta huruf di kalangan polisi. Yang dilakikan hanya cut-and-paste dari negara lain dan dibawa ke Afghanistan. ”

Kini situasi Afghanistan benar-benar berantakan. Sayangnya, dibutuhkan 16 tahun bagi Pentagon untuk menyadarinya. Entah apakah semuanya masih bisa diperbaiki.

Sumber: Task & Purpose

Facebook Comments