For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika Habiskan Rp936 T untuk Pasukan Afghanistan, Tapi Tetap Berantakan

Militer Afghanistan/AP

Bukan rahasia lagi jika keadaan di Afghanistan tidak seperti yang diharapkan. Tetapi jika menyimak analisis terbaru di mana Washington telah menghabiskan US$ 70 miliar atau sekitar Rp936 triliun untuk membantu pasukan Keamanan Afghanistan, dan kondisinya masih berantakan maka gambarannya lebih buruk lagi: Amerika telah gagal total membangun pasukan keamanan Afghanistan.

Menurut laporan Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction (SIGAR) pada September 2017 situasi militer Afghanistan benar-benar buruk. Korupsi, gesekan, buta huruf, dan gangguan Taliban yang semakin mengganggu telah membuat Afghanistan tetap sangat bergantung pada militer Amerika. Situasi ini mungkin tidak akan pernah bisa diperbaiki meski berapapun uang dikucurkan dan waktu yang dihabiskan.

“Pemerintah Amerika tidak siap untuk melakukan program bantuan sektor keamanan yang dibutuhkan di Afghanistan,” tulis Kepala SIGAR John Spoko.

Dia menambahkan bahwa pada tahun-tahun awal setelah invasi ke-9/11 AS, Pentagon “hanya fokus pada operasi militer amerika dan tidak mencakup pengembangan tentara Afghanistan, polisi, atau lembaga tingkat menteri yang mendukung.”

Sama seperti membubarkan Angkatan Bersenjata Irak setelah invasi 2003 menciptakan hambatan besar untuk upaya keamanan di sana, yang memungkinkan sektor keamanan Afghanistan layu dan akhirnya membuat stabilitas negara tersebut tidak pernah dicapai.

SIGAR menemukan bahwa Amerika tidak mempersiapkan diri untuk memberikan bantuan sektor keamanan di negara tersebut, gagal membangun kepercayaan di kalangan prajurit yang direkrute dan dilatih dan menciptakan masalah ketergantungan dengan mengabaikan perbedaan pendidikan antara pelatih Amerika dan tentara Afghanistan.

Antara tahun 2008 dan 2014, setelah pasukan NATO akhirnya menerapkan strategi pelatihan dan pengembangan kapasitas, pasukan Afghanistan dipaksa memiliki dua kali lipat personel dari semula 80.000 menjadi 185.000, namun jumlah tersebut selanjutnya stagnan karena tingkat gesekan yang tinggi. Padahal jumlah yang harus dicapai setidaknya mencapai 352.000 personel.

Belum lagi masalah korupsi yang akut serta berbagai kecurangan yang membuat pengembangan rencana keamanan jangka panjang hampir tidak mungkin. Bahkan pejabat Pentagon dan Afghanistan benar-benar tahu berapa banyak tentara Afghanistan dan polisi sekarang ini yang benar-benar bertugas atau benar-benar memiliki kemampuan untuk operasional. Hal ini dikarenakan kacaunya sistem administrasi dan pencatatan yang dilakukan.

Kurangnya transparansi sistem admistrasi bisa dilihat dari seringnya laporan dari Bureau of Investigative Journalism, tentang “tentara hantu” yakni ┬ápasukan yang dibayar, dilengkapi, dan dilatih dengan uang Pentagon tetapi tidak aktif. Laporan SIGAR yang baru menemukan bahwa dari hampir 350.000 pasukan Afghanistan yang berada dalam daftar gaji, hampir 200.000 di antaranya adalah tentara hantu, dengan uang kemungkinan didistribusikan di antara pejabat pemerintah yang korup.

“Semua kabupaten menerima anggaran pemerintah pusat untuk memberi gaji pasukan garis depan,” tulis reporter Jessica Purkiss yang menulis untuk Biro.

“Di banyak daerah di Afghanistan, beberapa anggaran ini lenyap dan jumlah sebenarnya dari petugas yang bertugas melawan Taliban jauh lebih rendah daripada jumlah yang benar-benar dialokasikan.”

Kerugian akibat kacaunya gaji juga didokumentasikan dalam laporan SIGAR. Lebih dari US$ 300 juta gaji dianggarkan setiap tahun untuk Kepolisian Nasional Afghanistan dan dibayarkan oleh Departemen Pertahanan.

Namun angka tersebut didasarkan pada catatan  data personil yang tidak lengkap atau hilang yang berarti tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak polisi hantu di sana. Dan itu baru di kepolisian.

NEXT: RATUSAN RIBU SENJATA HILANG

Facebook Comments