
FOAB dibangun Rusia untuk menyaingi GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB) yang sering diplesetkan menjadi Mother of all bombs. Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggunakan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB) di medan pertempuran yang digunakan untuk menghantam target ISIS di Afghanistan pada 13 April 2017 malam dan menjadi senjata non-nuklir terbesar yang pernah digunakan dalam pertempuran.
Pada tanggal 11 September 2007, Rusia mengumumkan kepada dunia bahwa mereka telah berhasil menguji bom non-nuklir paling kuat di dunia.
Rusia menyebut bom yang diuji ini memiliki kekuatan bom nuklir tetapi tidak menghasilkan bahan kimia atau radioaktif. Hasil tes menunjukkan bahwa bom ini sebanding dengan senjata nuklir dalam hal efisiensi dan potensi.
Kehancuran utama ditimbulkan oleh gelombang kejut ultrasonik dan suhu yang sangat tinggi. Semua yang hidup menguap. Pada saat yang sama, saya ingin menekankan bahwa senjata ini tidak mencemari lingkungan, berbeda dengan nuklir. ”
FOAB, menurut Russian Today adalah bom panas yang meledak di udara, kemudian memicu campuran udara bahan bakar. Reaksi in menyebabkan ledakan luar biasa panas dan kuat yang menghancurkan hampir seluruh struktur yang ada di bawah ledakan. FOAB dapat menghasilkan ledakan dan gempa susulan sekuat ledakan nuklir.
Ledakan dari FOAB setara dengan hasil ledakan dari 44 ton TNT yang berarti jauh di atas MOAB yang hanya setara 11 ton TNT. Tetapi dari sisi berat FOAB hanya 7.1 ton di bawah MOAB 10,3 ton. Sedangkan dari radius ledakan MOAB hanya 150 meter sementara FOAB 300 meter.
Seluruh area yang terkena dampak MOAB akan menjadi sangat panas bahkan mencapai titik mencair dan tanah membutuhkan waktu beberapa bulan untuk bisa dipulihkan kualitasnya.
Baca juga:

