Presiden Venezuela, Nicolas Maduro telah berulang kali memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak melakukan intervensi militer ke negaranya. Maduro juga telah meminta militerya untuk bersiap jika Amerika Serikat melancarkan serangan di tanah Venezuela.
“Kalian untuk siap membela negara dengan senjata di tangan jika suatu hari kerajaan Amerika Utara berani menyentuh tanah ini, tanah suci ini,” kata Maduro dalam sebuah pidato di sebuah pangkalan militer di mana beberapa ribu prajurit hadir.
Agence France-Presse dan dikutip Sputnik Sabtu 4 Mei 2019 melaporkan seruan ini terjadi ketika pemimpin oposisi Juan Guaido diperkirakan akan melakukan upaya baru untuk merayu angkatan bersenjata dengan protes di pangkalan militer Venezuela.
Krisis politik selama bertahun-tahun di Venezuela mencapai titik didih minggu ini, ketika Juan Guaido, kepala Majelis Nasional yang dikuasai oposisi mengumumkan apa yang ia sebut dorongan terakhir untuk menggulingkan Maduro. Guaido meminta warga sipil dan militer bergabung dengan percobaan kudeta, mengatakan bahwa ia mendapat dukungan dari angkatan bersenjata.
Namun, hanya sebagian kecil dari militer yang tampaknya mengindahkan seruannya, dan Nicolas Maduro pada hari berikutnya mengatakan pemberontakan itu gagal serta berjanji untuk melawan pasukan yang bermaksud “menyerahkan negara kami ke model dominasi ekonomi neokolonial dan memperbudak Venezuela. “.
Beberapa laporan media menyatakan bahwa sekutu Maduro, termasuk Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez, telah setuju untuk pengalihan kekuasaan ke Guaido setelah berbulan-bulan negosiasi dengan perwakilan Amerika. Namun rencana itu gagal setelah Padrino Lopez berubah pikiran pada menit terakhir.

