Minggu ini, statistik baru dari World Gold Council mengungkapkan bahwa pembelian emas bersih oleh bank sentral di seluruh dunia mencapai level tertinggi sejak 2013, meningkat sebesar 68 persen menjadi 145,5 ton selama tahun lalu.
Yang menarik Bank Sentral Estonia hanya tinggal memiliki satu batang emas seberat 11 kg yang tersisa di brankasnya. Fabio Filipozzi, kepala Departemen Pasar Keuangan Bank Dunia mengatakan Estonia memang memiliki emas yang disimpan di New York untuk alasan keamanan, tetapi jumlahnya juga kecil yakni hanya 256 kilogram.
Emas yang tersisa diperkiakan senilai setengah juta euro, tetapi tidak memiliki kemurnian yang cukup untuk benar-benar digunakan dalam operasi keuangan hingga menjadikannya lebih sebagai “benda museum.”
Mengomentari kecilnya cadangan emas Estonia, yang menempati peringkat kedua terakhir di Eropa, Filipozzi sebagaimana dikutip Sputnik Sabtu 4 Mei 2019 mencatat bahwa ini adalah hasil dari penjualan sebagian besar logam mulia milik negara untuk berinvestasi dalam aset lain, seperti saham dan obligasi, setelah memutuskan hubungan dengan Uni Soviet pada tahun 1991.
Tetangga Baltik Estonia, Latvia dan Lithuania, masing-masing memiliki kepemilikan emas yang jauh lebih besar, masing-masing 6,6 ton dan 5,8 ton.
Empat dari lima negara dengan cadangan emas terbesar di dunia berada di Eropa, termasuk Jerman, dengan 3.369,7 ton, Italia, dengan 2.451,8 ton, Prancis, dengan 2.436 ton, dan Rusia, dengan 2.150 ton. Amerika Serikat memiliki kepemilikan emas terbesar di dunia, dengan 8.133,5 ton.
Penyimpanan cadangan emas di negara-negara lain sebenarnya juga memiliki risiko ketika terjadi konflik di dalam negeri. Venezuela misalnya tak bisa menarik sebagian dari emas yang mereka simpan di Inggris. Negara-negara lain, termasuk Irak dan Libya, menghadapi penjarahan dan penyitaan cadangan mereka di luar negeri setelah diserang atau dibom oleh NATO.

