For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika akan Tarik Seluruh Pasukan dari Afghanistan Lima Tahun ke Depan

Pasukan Amerika di Afghanistan/Daily Outlook Afghanistan

Rencana perdamaian yang baru diusulkan menyarankan pemotongan kontingen AS segera dan menarik pasukan yang tersisa dalam tiga sampai lima tahun.

Amerika akan menarik semua tentaranya dari Afghanistan dalam tiga hingga lima tahun di bawah rencana perdamaian baru yang diusulkan selama pembicaraan antara para pejabat Amerika dan Taliban.

Sebagaimana dilaporkan The New York Times, Kamis 28 Februari 2019, di bawah rencana perdamaian baru tersebut, Amerika akan mengurangi kehadiran militernya dari 14.000 menjadi 7.000 dalam beberapa bulan mendatang. Sedangkan 7.000 pasukan yang tersisa akan mundur bersama dengan 8.600 pasukan Eropa dan internasional yang tersisa dalam tiga hingga lima tahun.

Sampai saat itu, pasukan Amerika akan menahan diri dari pelatihan militer Afghanistan, mendelegasikan tugas ini kepada Eropa, sementara mereka akan fokus terutama pada operasi kontraterorisme terhadap sisa-sisa al-Qaeda dan ISIS di negara itu.

“Orang-orang Eropa sangat mampu melakukan misi pelatihan,” James Stavridis, pensiunan laksamana Amerika dan mantan komandan NATO, kepada wartawan. “Ini adalah pembagian kerja yang cerdas agar Amerika Serikat mengalihkan sebagian besar upayanya menuju misi pasukan khusus dan meminta orang Eropa melakukan misi pelatihan.”

Rencana tersebut dilaporkan telah diterima dengan baik di Pentagon dan markas NATO di Brussels. Namun, para pejabat Amerika yang dekat dengan perundingan memperingatkan para wartawan bahwa karena sifatnya yang tidak menentu, Presiden Amerika Donald Trump dapat membatalkan rencana itu kapan saja.

Berbicara tentang sifat presiden yang tidak menentu, penarikan Amerika dari Afghanistan telah dibahas dengan otoritas militer Eropa, tidak seperti keputusan Trump yang mendadak untuk menarik diri dari Suriah, kata laporan itu.

Pada  Senin, para diplomat Amerika bertemu dengan para pejabat Taliban di Qatar dalam apa yang digambarkan Times sebagai negosiasi tingkat tertinggi, untuk mengembangkan rencana kerangka kerja untuk perjanjian penarikan yang diputuskan pada prinsipnya bulan lalu.

Sebagai prasyarat untuk penarikan total, Amerika dilaporkan meminta jaminan dari Taliban bahwa kelompok itu akan bertanggung jawab  menggagalkan kelompok-kelompok teroris yang mungkin berusaha menyerang Amerika Serikat dan yang memandang Afghanistan sebagai tempat yang aman.

Pemerintah Afghanistan yang didukung Barat belum menjadi bagian dari negosiasi karena keengganan Taliban untuk berbicara dengan Presiden Ashraf Ghani atau utusannya.

Prospek penarikan militer Amerika telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah Ghani akan runtuh, memberikan Taliban  kekuasaan penuh atas negara itu.

Taliban tidak senang dengan prospek memiliki pasukan Am,Erika sekitar selama lima tahun lagi, tulis New York Times. Selain itu, Amerika ingin melibatkan pemerintah Afghanistan dalam proses negosiasi.

Beberapa pejabat percaya kelanjutan pendanaan untuk militer Afghanistan lebih penting daripada kehadiran pasukan internasional yang bertahan lama untuk kelangsungan hidup pemerintah Afghanistan.

Sejauh ini, Amerika telah mencurahkan miliaran dolar ke militer Afghanistan selama lebih dari satu dekade. Meskipun US$ 8 miliar atau sekitar Rp112 triliun dihabiskan untuk Angkatan Udara Afghanistan saja, audit Pentagon menunjukkan bahwa pasukan itu tidak akan mandiri sampai tahun 2030. Total biaya perang di Afghanistan diperkirakan US$ 1,5 triliun atau lebih dari Rp 2.115 triliun menurut laporan CNBC 2018.

Operasi militer Amerika di Afghanistan dimulai pada tahun 2001, sebagai bagian dari “Perang Melawan Teror” Presiden AS George W. Bush setelah serangan 9/11. Operasi itu dengan cepat menggulingkan pemerintah Taliban, tetapi  kelompok itu tetap memegang kendali atas mayoritas wilayah Afghanistan.

Intervensi itu juga gagal menggagalkan produksi opium Afghanistan, yang mencapai tingkat rekor 9.000 metrik ton pada 2017, menurut laporan Brookings Institution, kendati Amerika mengeluarkan US$8,6 miliar untuk masalah khusus ini. Menurut Kantor PBB untuk pengawasan dan Kejahatan Narkoba Afghanistan saat ini adalah negara penghasil opium terkemuka di dunia.

Facebook Comments