For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Tornado, Bertempur Hingga Akhir Hidupnya

Tornado yang segera dipensiun oleh Angkatan Udara Inggris adalah salah satu jet tempur terbaik dalam hal kemampuan menggempur target darat. Pesawat tambun ini terus bertempur hingga akhir hidupnya.

Dirancang pada awal tahun 1970 oleh konsorsium Inggris, Italia, dan kemudian Jerman Barat, Panavia Tornado tetap menjadi jet tempur tangguh setelah lebih dari empat puluh tahun terbang. Sebuah pesawat sayap ayun , desain multi-peran dimaksudkan untuk serangan tingkat rendah. Pesawat itu dikembangkan menjadi tiga versi untuk serangan, serangan elektronik, dan peran pencegat.

Angkatan Udara Jerman dan Inggris menerbangkan dua varian yakni varian tempur (IDS) dan serangan elektronik (ECR) yang kerap disebut  versi Tornado Tonka.

Bergegas di langit dengan kecepatan supersonik. Mampu beroperasi di  semua cuaca, terbang tingkat rendah, penetrasi berkecepatan tinggi ke wilayah musuh. Dirancang untuk menggantikan berbagai macam armada angkatan udara yang ada pada masanya. Tornado menjadi keajaiban yang menyatukan teknik banyak negara.

Tornado Inggris

Awalnya, Tornado merupakan hasil dari program ambisius tiga negara yang diluncurkan pada tahun 1969. Program ini dipimpin oleh Panavia dan didukung oleh kekuatan gabungan tiga negara mitra: Jerman Barat, Italia, dan Inggris. Panavia pun mengumpulkan semua keterampilan dan kemampuan negara-negara yang berbeda.

Tornado pada awalnya dikembangkan untuk skenario Perang Dingin. Pada prinsipnya adalah untuk dapat melawan setiap serangan dari Pakta Warsawa. Persyaratan untuk pesawat baru ini sangat tinggi karena akan digunakan melawan musuh yang memiliki kekuatan udara yang sangat kuat.

Ini akan menjadi sebuah pesawat yang akan menggabungkan semua kemampuan armada angkatan udara ke dalam satu badan pesawat tunggal.  Ini akan menjadi pesawat tempur multi-peran semua cuaca, tingkat rendah, penetrasi kecepatan tinggi ke wilayah musuh.

Tornado Jerman

Tantangan ini sangat besar kala itu yang akhirnya memunculkan sejumlah besar teknologi dan teknik baru dalam desain pesawat, termasuk sayap geometri variabel, sistem digital, dan penggunaan bahan titanium.

Kemampuan semua cuaca baik siang dan malam, stabilitas dan hemat bahan bakar di tingkat terbang rendah juga menjadi persyaratan yang diajukan. Pesawat awalnya juga harus bisa mendarat dan lepas landas pada landas pacu pendek yakni 800 meter.

Sepuluh tahun setelah karya desain dimulai, Tornado pertama diperkenalkan ke layanan pada tahun 1979. Pesawat lahir mengesankan banyak orang.

Ketika kemudian Tembok Berlin runtuh dan Perang Dingin berakhir pada tahun 1989, ancaman berubah. Kekuatan besar di Timur tidak lagi menjadi perhatian utama. Sebaliknya, skenario sekarang terkait dengan ancaman individu dari daerah masing-masing. Dan ketika ancaman berubah, Tornado dan bisnis Panavia juga harus beradaptasi.

Hal pertama yang terjadi adalah bahwa angkatan udara yang terlibat secara dramatis mengurangi ukuran armada mereka.  Jerman, misalnya, dari rencana membeli 300 Tornado kemudian hanya menjadi 85. Tentu, ini mempengaruhi bisnis dan operasi Panavia, belum lagi industri pemasoknya.  Bisnis menyusut, tapi kemudian upgrade Tornado diperlukan karena perubahan geopolitik baru-baru ini.

Karena kemampuan terbang tingkat rendah tidak lagi dianggap prioritas, maka Tornado dikembangkan menjadi pesawat serangan tingkat menengah.

Senjata baru dan teknologi baru harus terintegrasi dan ini memiliki efek positif pada Panavia dan industri yang terhubung dengan produksi Tornado.

Bertempur di Mana-Mana

Pada tahun 1990, Saddam Hussein menyerbu Kuwait, dan Tornado dipekerjakan dalam pertempuran untuk pertama kalinya.

Tornado yang telah berubah menjadi pesawat serang tingkat rendah memiliki kemampuan presisi dengan senjata dipandu, sementara kemampuan pengintaian dan pengawasan juga telah ditingkatkan. Sejak itu, Tornado telah digunakan dalam konflik di bekas Yugoslavia, Irak, Libya, Afghanistan, Yaman, dan di Suriah. Jet tempur ini juga terlibat dalam serangan terakhir terhadap Suriah yang dilakukan Amerika, Inggris dan Prancis pada 14 April 2018 lalu.

Sebanyak tiga versi dari Tornado dikembangkan. Pesawat terakhir yang diproduksi meninggalkan pabrik pada 1998 menjadikan total produksi pesawat menjadi 992 Tornado.

Selain Inggris, Tornado masih digunakan secara konstan oleh angkatan udara Jerman dan Italia. Selain itu juga masih digunakan oleh Angkatan Udara Arab Saudi  yang merupakan satu-satunya operator ekspor Tornado di luar tiga negara pengembang. Jerman saat ini juga sedang berusaha untuk mencari jet tempur pengganti untuk Tornado.

Dari 992 pesawat yang diproduksi, sekitar 300 Tornado masih dalam pelayanan hari ini. Ini tentu pretasi yang cukup baik mengingat sudah 40 tahun pesawat itu terbang.

Facebook Comments

error: Content is protected !!