For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Sejarah Membuktikan, Afghanistan adalah Kuburan Bagi Para Kekaisaran

Pasukan Amerika di Afghanistan

Amerika menghabiskan sekitar Rp 632 triliun per tahun untuk membiayai perang mereka di Afghansitan. Tetapi setelah 17 tahun dan diperkirakan menghabiskan biaya total hingga US$1 triliun atau sekitar Rp14.062 triliun mereka tetap belum bisa menyatakan kemenangan.

Apa yang dialami Amerika Serikat seperti mengukuhkan Afghanistan sebagai negara yang tidak mungkin untuk dikalahkan.

Bukan negara dengan tentara yang kuat. Bukan negara dengan teknologi militer sangat canggih. Bukan juga negara kaya, tetapi Afghanistan adalah sebuah negara sangat kuat yang hampir tidak mungkin ditaklukkan. Sejarah telah membuktikan hal itu.

Amerika menjadi bukti terakhir ketangguhan Afghanistan. Negara dengan kemajuan teknologi jauh di atas Afghanistan dan menjadi satu-satunya negara adikuasa di dunia, bahkan frustasi dengan negara tersebut.

Apa yang dialami Amerika memperkuat anggapan bahwa negara itu layak dijuluki sebagai “The Graveyard of Empires” atau kuburannya para kekaisaran.

Uni Soviet pernah dibuat mundur malu dari Afghanistan, Inggris tidak kalah pedihnya. Terakhir Amerika Serikat pun dibuat terjebak dalam rawa perang yang tidak ada habisnya.

Apa yang membuat Afghanistan begitu sulit direbut dan dipertahankan? Yang pertama dan terpenting adalah medan. Negara ini seperti semangkuk besar padang pasir, dikelilingi oleh beberapa puncak tertinggi di dunia.

Pasukan apa pun yang tidak dapat dihancurkan oleh seorang penyerbu bisa menghilang ke pegunungan dan menyembuhkan luka mereka sampai musim pertempuran berikutnya tiba.  Di zaman modern, puncak tinggi meniadakan keunggulan dari baju besi dan tank, sama seperti meniadakan keuntungan kavaleri berat pada zaman dulu.

Amerika Serikat adalah kekuatan tempur yang layak di Afghanistan karena keuntungan logistiknya. Jika Amerika dapat memperoleh pasokan dan pasukan keluar masuk dengan relatif mudah, Inggris yang menyerang pada tahun 1839 memiliki sistem yang jauh lebih tidak dapat diandalkan. Itu sebabnya hanya satu orang dari 16.000 tentara dan pengikut kamp yang kembali. Itulah mengapa hal itu diingat sebagai “Desaster in Afghanistan.”

Alasan lain mengapa tidak ada yang bisa menaklukkan Afghanistan adalah karena setiap penjajah harus benar-benar menundukkan penduduk. Persoalannya Afghanistan dihuni masyarakat beragam. Banyak suku seperti Pashtun, Turkmen, Baloch, Palaw, Tajik, dan Uzbek yang semua memiliki karakter dan kesetiaan serta militansi yang sangat kuat.

Tidak usah bicara bagaimana kesetiaan Taliban atau Mujahidin. Seorang Afghanistan biasa dia akan sangat setia pada klan, suku, unit, ulama dan pemimpin suku ataupun pemerintah  Bayangkan mencoba menundukkan 34 juta dari mereka, ketika Anda menyerang Afghanistan.

Mengalahkan orang-orang itu dalam pertempuran sengit juga sangat sulit. Tidak percaya? Tanyakan kepada Inggris. Membantai mereka juga tidak berhasil. Tidak percaya? Tanyakan pada Uni Soviet. Menggunakan senjata modern dan disertai dengan pendekatan politik juga mentah. Tidak percaya? Tanyakan ke Amerika.

Facebook Comments