For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

AIM-9X Block II, Revolusi Tak Terbayangkan Rudal Sidewinder

Rudal AIM-9X/US Navy

Seperti dilaporkan sebelumnya Raytheon kembali mendapatkan kontrak senilai US$ 434,4 juta atau sekitar Rp6,1 triliun untuk membangun 926 rudal udara ke udara AIM-9X Sidewinder yang digunakan jet tempur. Kontrak tersebut terdiri dari 766 rudal AIM-9X Block II dan 160 rudal AIM-9X Block II +.

Pemesanan ini menunjukkkan rudal tersebut masih belum tertandingi dalam hal membunuh pesawat lawan.

Sidewinder sebenarnya telah begitu tua karena mulai digunakan pada tahun 1950an, tetapi rudal ini terus melakukan revolusi. AIM-9X Block II keluarga terbaru dari rudal ini menjadi titik revolusi yang tidak dibayangkan sebelumnya.

AIM-9X Block II diperkenalkan pada tahun 2008, tapi masuk ke tingkat produksi penuh hingga tahun 2015. Ini adalah anggota terbaru dari keluarga rudal Sidewinder yang dibuat pertama pada pertengahan 1970-an.

AIM-9X Block II dapat melakukan hal-hal yang pendahulunya hampir tidak bisa membayangkan. Sebagai contoh, dia dilengkapi dengan kemampuan untuk menembak target 360 derajat dan link data. Hal ini, menurut Kapten Jim Stoneman, Kepala Program Rudal Udara ke Udara Kantor Angkatan Laut AS, memungkinkan pilot untuk menembakkan rudal terlebih dahulu kemudian mengarahkannya pada target.

Pilot bisa menembak dan kemudian menyampaikan informasi kepada rudal melalui link data ke vektor rudal untuk menuju target.

Pada beberapa pesawat, seperti F-35 Lightning II Joint Strike Fighter, pilot akan dapat mengarahkan rudal menggunakan layar yang ada di helm mereka.

Meskipun Sidewinder dikembangkan sebagai rudal udara ke udara jarak pendek untuk dogfighting, rentang Blok II telah ditingkatkan dua kali lipat membuatnya telah menjadi senjata untuk pertarungan pada jarak luar visual. Sebuah versi Blok III dari 9X juga tengah dirancang  tapi untuk saat ini belum tersedia

Sementara AIM-120D yang merupakan versi terbaru dari AMRAAM, yang digunakan Angkatan Laut dan Angkatan Udara sejak tahun 1987 juga dilengkapi dengan data link yang memungkinkan pilot untuk menembakkan rudal dan kemudian mengirimkan informasi tentang target.

Rudal ini memiliki sistem bimbingan yang ditingkatkan dengan menggunakan Global Positioning System dan meningkatkan kemampuan anti-jamming untuk melindungi diri dari serangan elektronik musuh yang mencoba untuk membutakannya.

 

Facebook Comments