For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Dirampas 117 Tahun Lalu, Amerika Akhirnya Kembalikan Tiga Lonceng Gereja ke Filipina

Tiga lonceng gereja yang dikembalikan Amerika ke Filipina

Pasukan Amerika merebut tiga lonceng gereja Balangiga milik gereja di Filipina sebagai rampasan perang pada tahun 1901 dan butuh  lebih dari satu abad untuk bisa mengembalikan barang tersebut ke negara asalnya.

Para pejabat Amerika menyerahkan Lonceng Balangiga kepada kepala pertahanan Filipina dalam upacara di Pangkalan Udara Villamor dekat ibu kota negara Manila Selasa 11 Desember 2018. Mereka akan dikembalikan ke Balangiga di Pulau Samar di mana pasukan Amerika membunuh ribuan penduduk desa lebih dari satu abad yang lalu.

“Merupakan kehormatan bagi saya untuk berada di sini pada penutupan bab yang menyakitkan dalam sejarah kami,” kata Sung Kim, Duta Besar Amerika untuk Filipina sebagaimana dilaporkan DW.  Dia  menambahkan bahwa mengembalikan lonceng itu dipandang sebagai hal yang memang harus dilakukan.

Pasukan pendudukan Amerika mengambil lonceng dari sebuah gereja Katolik di Balangiga menyusul serangan oleh warga desa Filipina yang menewaskan 48 tentara Amerika. Lonceng-lonceng itu dibunyikan untuk menandai serangan kejutan penduduk desa terhadap pasukan Amerika, yang membalas dengan membunuh ribuan penduduk desa, termasuk wanita dan anak-anak.

Dua lonceng telah dipajang selama beberapa dekade di Pangkalan Angkatan Udara di Wyoming sedangkan yang ketiga berada di museum Angkatan Darat Amerika di Korea Selatan.

Pertempuran di Balangiga berlangsung antara 1899-1902 konflik yang membuka jalan bagi kemerdekaan Filipina dari Amerika Serikat.

Televisi nasional di Filipina menayangkan kedatangan lonceng yang dibawa sebuah pesawat kargo militer dan upacara penyerahan di Manila. Lonceng dihormati oleh orang-orang Filipina sebagai simbol kebanggaan nasional dan para pemimpin Filipina telah lama menuntut agar mereka dikembalikan.

Menteri Pertahanan Amerika James Mattis telah berjanji kepada Presiden Rodrigo Duterte bahwa ia akan mendesak agar mereka dikembalikan. Mattis mengatakan serah terima itu adalah isyarat penting persahabatan kedua negara.

Pengembalian ini dimungkinkan setelah amandemen undang-undang Amerika yang mencabut larangan pengembalian peninggalan perang dan benda perignatan ke negara-negara asing. Beberapa veteran dan pejabat Amerika telah menentang serah terima lonceng tersebut karena menilai barang-barang itu menjadi barang peringatan untuk kematian perang Amerika.

Keputusan untuk mengembalikan lonceng bisa menjadi upaya oleh Amerika untuk menenangkan Duterte, yang telah mengutuk Amerika sebagai negara dengan sejarah kemunafikan, arogansi dan campur tangan politik.

Presiden Filipina telah mengacu pada kekerasan oleh  Amerika di Balangiga dan di pulau selatan Jojo pada awal 1900-an untuk membalas kritik Amerika atas tindakan kerasnya dalam pemberantasan obat-obatan terlarang.

Facebook Comments