Ukraina: Kekuatan Militer Rusia di Perbatasan Kami Meningkat Dua Kali Lipat

T-80

Rusia telah meningkatkan kekuatannya di dekat perbatasan dengan Ukraina sejak Agustus dan sekarang menjadi ancaman militer terbesar sejak 2014 ketika Moskow menganeksasi Krimea.

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina Viktor Muzhenko dalam wawancara dengan Reuters 4 Desember 2018 menunjukkan dokumen yang menunjuk  serangkaian citra satelit yang menunjukkan keberadaan tank T-62 M Rusia dan ditempatkan 18 km (11 mil) dari perbatasan Ukraina.

Dia menyebutkan dalam waktu dua minggu dari pertengahan September hingga 1 Oktober jumlah kendaraan militer Rusia, terutama tank, meningkat hingga dua kali lipat dari 93 menjadi 250.

Bagi Muzhenko, ini adalah bukti adanya peningkatan kekuatan Rusia dalam jangka waktu hingga 25 November, ketika Rusia menembaki dan menangkap tiga kapal Ukraina di Selat Kerch. Ukraina dan Rusia telah saling menuduh tentang siapa yang salah dalam ketegangan tersebut.

Muzhenko mengatakan tingkat pasukan Rusia berada di tingkat tertinggi sejak 2014, ketika Moskow menganeksasi Crimea dan kemudian mengerahkan pasukan ke Ukraina timur.

“Di depan kami adalah agresor yang tidak memiliki batasan hukum, moral atau lainnya,” katanya. “Sangat sulit untuk memprediksi kapan akan terjadi padanya untuk memulai aksi pertempuran aktif melawan Ukraina.” Kementerian pertahanan Rusia tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar dari Reuters.

Muzhenko mengatakan Ukraina telah mengerahkan lebih banyak pasukan darat dan udara ke wilayah itu sebagai tanggapan, dan latihan militer intensif di seluruh negeri, tetapi menolak untuk merinci.

Dia menambahkan bahwa Ukraina mengharapkan untuk menyelesaikan pembangunan pangkalan militer di Laut Azov, yang telah direncanakan sebelum bentrokan angkatan laut, pada tahun depan.

Ukraina juga mengharapkan bantuan dari sekutu, terutama Amerika Serikat, termasuk peralatan pengintaian udara dan laut, kapal dan senjata untuk pasukan darat.

Hubungan antara Ukraina dan Rusia runtuh setelah aneksasi Crimea 2014 dan dukungan Rusia untuk pemberontak separatis di wilayah Donbass bagian timur.

Konflik Donbass telah menewaskan lebih dari 10.000 orang kendati ada gencatan senjata. Rusia membantah keras mengirim pasukan dan senjata berat ke daerah itu.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko memperkenalkan darurat militer pekan lalu untuk jangka waktu 30 hari di wilayah negara yang dianggap paling rentan terhadap serangan Rusia.

Ditanya apakah militer akan membutuhkan perpanjangan setelah 30 hari masa darurat militer berakhir, dia mengatakan penilaian akan dibuat lebih dekat dengan waktu. “Status darurat militer tergantung pada Federasi Rusia,” katanya.

 

Facebook Comments

error: Content is protected !!