Senjata Super Destroyer Kelas Zumwalt is Dead

Destroyer Kelas Zumwalt

Destroyer kelas Zumwalt Angkatan Laut Amerika Serikat lahir dengan mengusung teknologi revolusioner. Sayangnya, kapal ini telah diterpa berbagai kemunduran termasuk masalah memalukan bahwa senjata supernya masih tidak berfungsi dengan baik.

Dua meriam 155mm canggih yang dikenal sebagai Advanced Gun System di Zumwalt, yang dimaksudkan untuk menyerang target lebih jauh dari 80 mil jauhnya sangat mahal untuk ditembakkan, karena satu amunisi Long Range Land Attack Projectile harganya hampir $ 1 juta atau sekitar Rp14 miliar. Pengadaan amunisi ini pun ditutup dua tahun lalu meninggalkan Zumwalt tanpa amunisi.

Itu bukan satu-satunya masalah, Breaking Defense melaporkan 30 November 2018 lalu   senjata itu juga tidak memiliki jangkauan seperti yang diharapkan.

“Kami  tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk terbang sejauh yang kami inginkan,” Vice Admiral William Merz, wakil kepala operasi angkatan laut untuk sistem peperangan kepada subkomite Angkatan Laut Komite Angkatan Bersenjata Senat.

Dia menjelaskan bahwa Angkatan Laut mungkin menyingkirkan sepenuhnya senjata ini jika tidak bisa mengembangkan amunisi yang efektif dan hemat biaya.

“Angkatan Laut akan mengembangkan amunisi yang baik atau memikirkan apa yang akan kita lakukan dengan ruang itu jika kita memutuskan untuk menghapus senjata itu di masa depan,” lanjutnya.

Dia menegaskan kelas Zumwalt baik-baik saja dan tetap akan beroperasi pada 2021 sesuai rencana. “Destroyer kelas Zumwalt tetap  platform yang sangat mampu dengan atau tanpa senjata itu.”

Kapal perusak kelas Zumwalt diharapkan melayani sebagai kapal multi-misi, dengan fokus utama pada misi serangan darat dan angkatan laut dengan kemampuan sekunder untuk misi anti-kapal dan anti-pesawat.

Angkatan Laut berencana kapal ini beroperasi di wilayah pesisir dan mendukung pasukan darat, tetapi misi itu diubah akhir tahun lalu.

Kelas Zumwalt sekarang akan berfungsi sebagai petarung permukaan, mengandalkan beragam arsenal rudal anti-kapal dan anti-udara yang mampu diluncurkan dari 80 sel Sistem Peluncuran Vertikal Mk 54, yang menurut Merz lebih besar daripada kapal permukaan lainnya hingga menciptakan lebih banyak opsi untuk persenjataan.

Namun Zumwalt,  memiliki lebih sedikit tabung rudal dibandingkan destroyer kelas Arleigh Burke dan kapal penjelajah kelas Ticonderoga, yang memiliki 96 dan 122 tabung peluncuran rudal yang dapat membawa pencegat, rudal jelajah, dan torpedo yang diluncurkan roket.

“Kami memutuskan bahwa masa depan terbaik  kapal itu adalah untuk mendapatkannya di luar sana dengan kemampuan yang dimilikinya dan menghilangkan Advanced Gun System,” kata Merz, menurut Breaking News.

 

 

Tapi senjata itu tampaknya bukan satu-satunya masalah ketika datang ke Zumwalt. Kapal juga menjadi kurang stealth karena masalah komponen  termasuk sistem antena komunikasi satelit yang dipasang di sisi dan antena vertikal frekuensi tinggi  di tengah upaya untuk memotong biaya.

Zumwalt juga mengalami masalah mesin dan listrik yang serius selama pengembangan. Meskipun demikian, turbin gas kembar Rolls-Royce MT30 dan sistem teknologi canggih menjadikannya sebagai calon rumah bagi senjata railgun dan senjata api masa depan. “Dia akan menjadi kandidat untuk sistem persenjataan canggih yang kami kembangkan,” kata Merz.

Kapal ini juga terbukti sangat mahal hingga akhirnya hanya tiga unit yang akan dibangun dari rencana awal 30.

Pesaing utama Zumwalt adalah perusak Type 055 milik Angkatan Laut China. Meskipun tidak mengemas teknologi secanggih Zumwalt,  Type 055 tetap tak tertandingi karena dilengkapi dengan 112 tabung VLS yang mampu menembakkan rudal udara HHQ-9, rudal jelajah anti kapal YJ-18, CJ- 10 rudal jelajah serangan darat  dan torpedo anti-kapal selam.

Namun misi sedikit berbeda karena Type 055 diharapkan berfungsi sebagai kapal perang pertahanan udara dan anti-kapal selam untuk mengawal kapal induk China.

Facebook Comments

error: Content is protected !!