For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Terungkap Peran Rahasia Inggris dalam Perang Soviet-Afghanistan

Mujahidin bersiap menembakkan roket saat perang melawn Soviet

Kebijakan Amerika / Inggris memiliki dampak yang signifikan tidak hanya untuk masa depan Afghanistan, tapi juga dunia. Selama konflik, banyak individu yang didanai, dipersenjatai dan dilatih oleh Barat membentuk kelompok militan, yang di tahun-tahun mendatang akan melakukan serangan di Timur Tengah, Eropa dan Amerika Utara.

Salah satunya Al Qaeda yang  dipimpin dan beranggotakan mantan anggota perlawanan anti-Soviet . Pada tulisannya di kolom untuk The Guardian 8 Juli 2005, mantan Menteri Luar Negeri Inggris Robin Cook mencatat pemimpin kelompok tersebut, Osama  Bin Laden, sepanjang tahun 1980an dipersenjatai oleh CIA, dan didanai oleh orang Saudi, untuk melakukan melawan pendudukan Rusia di Afghanistan.

“Al-Qaeda, secara harfiah pada awalnya adalah ‘database’,  komputer dari ribuan mujahidin yang direkrut dan dilatih dengan bantuan dari CIA untuk mengalahkan orang-orang Rusia,” tulis Cook. Tetapi Cook tidak menyebut Inggris dan MI6.

Selain itu, beberapa kamp yang digunakan oleh mujahidin selama perang Soviet-Afghanistan, seperti Tora Bora yang  dibangun dengan dana Inggris  selanjutnya  menjadi pusat pelatihan dan pusat perencanaan untuk serangan oleh Al-Qaeda.

Persenjataan yang diberikan Inggris kepada pasukan pemberontak juga akhirnya tidak lagi bisa dikontrol. Misalnya, rudal Blowpipe secara teratur ditemukan di gudang senjata Taliban dan Al-Qaeda di seluruh negeri sejak invasi pimpinan Amerika pada 2001.  Pada akhir tahun 2010, media arus utama melaporkan rudal yang dipecat adalah ancaman besar bagi pasukan Amerika.

Intinya, seperti Amerika, Inggris sebenarnya juga membantu lahirnya apa yang kemudian mereka sebut sebagai terorisme karena merekalah yang awalnya melatih, membiayai dan mempersenjatai mereka. Kini, kelompok-kelompok tersebut berbalik menjadi lawan tangguh bagi orangtuanya yakni Amerika dan Inggris.

 

Facebook Comments