For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Terungkap Peran Rahasia Inggris dalam Perang Soviet-Afghanistan

 

Soviet Army Guards Armor Regiment di Afghanistan

File tersebut mengungkapkan saat Amerika memberikan bantuan finansial dan materi yang lebih banyak ke Mujahidin, Inggris memainkan peran tempur langsung, dengan pasukan Inggris – khususnya SAS – yang secara praktis mendukung kelompok perlawanan.

Saat itu banyak mantan petugas SAS melatih pasukan Mujahidin di markas MI6 dan CIA di Arab Saudi dan Oman, mengajari mereka sabotase, pengintaian, perencanaan serangan, pembakaran, dan bagaimana menggunakan alat peledak, artileri berat seperti mortir, pesawat tempur dan sebagainya.

SAS bersamaan dengan pasukan khusus Amerika juga melatih Special Services Group (SSG) Pakistan, yang memimpin operasi pemberontakan di Afghanistan, dengan harapan para perwira tersebut dapat memberikan pengetahuan mereka secara langsung kepada para pemberontak Afghanistan.

Mujahidin juga dilatih di Inggris – menyelinap ke negara itu sebagai turis, mereka menghabiskan tiga minggu sekaligus di kamp-kamp yang berada di Skotlandia dan Utara Inggris. Seorang pelatih kunci adalah Brigadir Jenderal Rahmatullah Safi, mantan perwira senior tentara Afghanistan yang pernah tinggal di Inggris sejak tahun 1970an.

Dia melatih sebanyak 8.000 orang, terus tinggal di Inggris sampai tahun 1990an, ketika dia dianggap oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai perwakilan utama Taliban di Eropa.

Sosok kunci lain yang didukung oleh Inggris adalah Hadji Abdul Haq, dari kelompok Hizb-i-Islami. Dia diberi rudal rudal anti-pesawat 600 ‘Blowpipe’ dan peta posisi militer Soviet oleh MI6, dan diperkenalkan ke CIA.

Kelompok Haq inilah yang melakukan pemboman terkenal bulan September 1984 di bandara Kabul, yang menewaskan 28 orang, dan menyerang hotel-hotel.

Meskipun demikian, pada bulan Maret 1986 ia disambut di Inggris sebagai tamu Thatcher. Seorang juru bicara resmi menjelaskan pada saat Perdana Menteri menyampaikan rasa simpati tentang usaha mereka menyingkirkan penjajah di negara mereka.

Kenyataannya, jauh melampaui “tingkat simpati” dengan pejuang Afghanistan, pada saat itu peran Inggris dalam konflik tersebut melibatkan secara langsung  militer tidak hanya di Afghanistan, namun juga republik-republik Asia Tengah Uni Soviet.

MI6 mengatur dan mengeksekusi  serangan teror di Tajikistan dan Uzbekistan,  serangan langsung Barat pertama terhadap Uni Soviet sejak tahun 1950an. MI6 juga mendanai penyebaran literatur Islam ke Republik Soviet.

Pasukan Soviet pada akhirnya akan meninggalkan Afghanistan pada tanggal 15 Februari 1989. Pemerintahan Mohammed Najibullah kemudian digulingkan pada tahun 1992. Pada tahun 1996, Taliban  menguasai negara tersebut.

Next: Konsekuensi Dirasakan Sampai Sekarang

Facebook Comments