For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika Tidak Pernah Belajar dari Perang Afghanistan

Anak-anak Afghanistan isyarat pada tentara AS saat mereka berjaga-jaga di dekat sebuah pos pemeriksaan polisi Afghanistan selama misi di dekat Pangkalan Operasi Fenty di provinsi Nangarhar Afghanistan, 19 Desember 2014.

Pemilihan Umum Afghanistan 2014, meski penuh dengan “penyimpangan,” menjadi suskesi kekuasaan kepresidenan damai pertama di Afghanistan, dari Hamid Karzai ke Ashraf Ghani. Dengan situasi ini memberi harapan baru bahwa mimpi  demokrasi damai bergaya Afghanistan bisa berjalan baik.

Harapan tetap besar meski wakil presiden Ghani yakni  Abdul Rashid Dostum adalah seorang panglima perang Uzbek yang terkenal karena kejahatan perang karena tindakannya yang brutal.

2014 juga merupakan tahun Presiden Obama memilih untuk mengakhiri perang di Afghanistan untuk selamanya. Yang terjadi sebenarnya Amerika belum menang, tetapi tentu saja negara dengan militer terkuat di dunia ini tidak akan mau mengakui kekalahan.

Tetapi Ashraf Ghani yang pernah menulis  buku ilmiah yang berjudul berhak ‘Memperbaiki Negara Gagal,’ tetap saja gagal memperbaiki tanah kelahirannya. Ghani sebelum jadi presiden Afghanistan adalah warga negara Amerika.

Dan sekarang Donald J. Trump  mengadopsi ‘keahlian’ para jendralnya, dan menghidupkan kembali api yang mulai padam. Kali ini, dia bersumpah, “Kami bukan pembangunan bangsa lagi. Kami membunuh teroris. ”

Upaya Amerika sekarang adalah operasi militer sepenuhnya. Tidak akan ada batasan jumlah pasukan atau waktu yang dihabiskan di sana, juga tidak ada pengungkapan rencana kepada musuh atau publik Amerika.

Tidak ada lagi pembicaraan tentang demokrasi atau hak-hak perempuan atau hak asasi manusia atau perundingan damai. “Kami tidak dapat membiarkan Afghanistan menjadi tempat yang aman bagi teroris,” tegas Trump.

Trump, menurut Jones, tampaknya tidak sadar bahwa teroris yang melakukan tindakan serangan 9/11 telah menemukan tempat yang aman di San Diego dan Oakland, California, Phoenix dan Mesa, Arizona, Fort Lee dan Wayne, New Jersey, Hollywood dan Daytona Beach, Florida, dan Newton, Massachusetts, dan kota-kota Amerika lainnya.

“Pada serangan 9/11, sebanyak 19 teroris tersebut memiliki 63 SIM Amerika yang sah yang dikeluarkan oleh berbagai negara bagian. Di Amerika Serikat 19 teroris tersebut menemukan keamanan. Di sinilah, bukan di Afghanistan, bahwa calon pilot pesawat yang dibajak itu belajar terbang,” katanya.

Tetapi Amerika telah mengambil keputusan untuk melanjutkan perang. Ini menjadi bukti mereka tidak pernah memahami dan mau belajar tentang Afghanistan.

Facebook Comments