For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika Tidak Pernah Belajar dari Perang Afghanistan

 

Jones menceritakan pengalamannya bekerja di Afghanistan sejak 2002 dalam misi bantuan dan pendampingan untuk hak-hak wanita. Dia mengatakan sebenarnya pada awal kedatangan Amerika, sebagian besar rakyat Afghanistan memiliki harapan besar untuk bisa membangun sistem yang demokratis.

Ketika perang dimulai, sebenarnya Afghanistan masih belum pulih dari perang  yang dilakukan berbagai  faksi mujahidin, fundamentalis Afghanistan, dengan dukungan Amerika, Saudi, dan Pakistan untuk mendorong Tentara Merah keluar dari negara mereka pada tahun 1989. Bahkan kota masih penuh dengan reruntuhan.

Pada tahun 2001, ketika orang Amerika membuat rencana untuk mengebom Kabul untuk menggulingkan rezim Taliban, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld mengeluh bahwa “tidak ada target bagus yang tersisa untuk dibom.”

Pada saat itu dia merasakan bahwa orang-orang Afghanistan memang masih waspada tetapi terbuka dan penuh harapan. “Taliban telah selesai diganti dengan pemerintah baru dipasang Amerika. Mereka miskin dan menderita tetapi siap untuk memulai sebuah awal yang baru, dan mereka terbuka untuk siapa saja yang tampaknya datang untuk membantu,” katanya

Seiring meningkatnya kehadiran Amerika, optimisme Afghanistan meluas. Para pemimpin setempat menghadiri pertemuan  yang diminta oleh pejabat Amerika. Mereka bahkan tidak pernah mengeluh ketika anjing militer yang agresif dan najis menurut hukum Islam menggeledah tempat tersebut dan terkadang mendengus orang-orang Afghanistan sendiri.

“Mereka mendengarkan rencana Amerika untuk membangun  negara mereka dengan sistem politik terbaik: demokrasi. Ada pembicaraan tentang penghormatan terhadap hak asasi manusia; ada janji investasi, kemakmuran, kedamaian, dan terutama pembangunan”.

Menjelang akhir tahun kedua dalam pertemuan semacam itu, Jones mengisahkan ada seorang warga Afghanistan bangkit untuk mengajukan dua pertanyaan yang memalukan: “Di mana uang yang Anda janjikan kepada kami? Di mana perkembangannya?”

Duta Besar Amerika sudah siap dengan jawaban. Dana yang dijanjikan digunakan awalnya untuk mendirikan kantor-kantor Amerika (dengan pemanasan, penyejuk udara, Internet) dan untuk membayar ahli Amerika yang pada akhirnya akan memberikan pembangunan yang dijanjikan dan dalam prosesnya, menanamkan penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan oh, ya, wanita

Tetapi kekecewaan demi kekecewaan telah membunuh harapan itu dan berbalik menjadi kebencian.  “Antara saat itu dan 2015, saya kembali ke Afghanistan hampir setiap tahun untuk memberikan bantuan kepada organisasi wanita dan anak perempuan Afghanistan. Namun, saya belum pernah kembali dua tahun terakhir sejak saya menyadari  orang Amerika menjadi bahaya bagi rekan-rekan mereka di Afghanistan dan keluarga mereka.”

Menurut Jones orang Afghanistan yang bekerja sama dengan orang Amerika sekarang dihina disebut seperti anjing, bertulang rusuk babi. Mereka begitu marah dengan berbagai tindakan Amerika seperti serangan udara Amerika kepada orang-orang tak bersalah terjadi didesa-desa, rumah sakit, pesta pernikahan, dan Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan telah menambahkan semua kekerasan itu selama bertahun-tahun, membuat orang Amerika tidak disukai dan teman Afghanistan mereka menjadi target. Afghanistan menjadi daerah yang semakin berbahaya dan penuh dengan kekerasan.

NEXT: AMERIKA GAGAL TETAPI TAK MUNGKIN MENGAKU KALAH
Facebook Comments