Dapatkan Rusia Menembak F-22, F-35 atau B-2 di Suriah?
F-22

Dapatkan Rusia Menembak F-22, F-35 atau B-2 di Suriah?

Saat hubungan Washington dan Moskow makin memanas terkait situasi di Suriah, militer Rusia mengingatkan bahwa mereka akan mampu menembak pesawat tempur Amerika termasuk jet tempur F-22 dan F-35 atau bomber B-2 yang ketiganya mengandalkan kemampuan siluman.

Rusia telah mengirimkan sistem pertahanan udara S-400 (NATO: SA-21 Growler) ke Suriah dan kini diperkuat dengan kehadiran S-300V4 (penyebutan NATO SA-23 Gladiator) yang diyakini akan menjadi malapetaka bagi pesawat atau rudal apapun yang mencoba mengganggu mereka.

“Sistem pertahanan udara S-300, S-400 yang ditempatkan di Pangkalan Udra Hmeymim and dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus memiliki rentang tempur yang mungkin akan mengejutkan bagi target udara tak dikenal,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov sebagaimana dikutip Sputnik beberapa hari lalu. “Setiap ilusi tentang pesawat tak terlihat akan hancur dalam kekecewaan,” tambahnya.

Benarkah demikian? Meski Moskow mengklaim bahwa S-400 dan S-300 bisa menjadi counter-stealth, hal yang harus diingat adalah bahwa jika Rusia masih menggunakan radar pencari dan akuisi dengan low-frequency atau frekuensi rendah memang dapat mendeteksi pesawat tempur taktis seukuran F-22 atau F-35, tetapi radar fire control yang beroperasi di band C, X dan Ku tidak dapat menjerat pesawat low observable (LO) kecuali pada jarak yang sangat dekat.

Siluman berarti dia tidak terlihat oleh mata tetapi dia memiliki kemampuan untuk menunda deteksi radar sehingga akan menjadikan musuh tidak memiliki banyak waktu untuk merespon. Pesawat siluman akan mampu menyerang dan segera pergi ketikaa sistem pertahanan musuh belum sempat membuat langkah perlawanan.

Radar yang beroperasi pada frekuensi lebih rendah seperti S atau L band memang dapat mendeteksi dan melacak pesawat siluman. Tetapi frekuensi rendah tidak bisa digunakan untuk menentukan track yang bisa digunakan untuk membimbing rudal.

Memang ada upaya untuk mengembangkan kemampuan tersebut, tetapi sejauh ini belum ada yang mampu menggunakan radar frekuensi rendah untuk mengunci tarket dan membimbing rudal. Dengan kata lain sistem pertahanan bisa mendeteksi tetapi tidak tahu persis titik pesawat ada di mana.

“Stealth adalah menunda deteksi serta menunda musuh untuk mampu menembak. Radar SAM (Surface-to-Air Missile) yang menggunakan frekuensi yang lebih rendah dibandingkan dengan yang dimiliki pesawat siluman Amerika akan tidak efektif,” kata Mark Gammon, Program Manager for Advanced Capabilities F/A-18E/F dan EA-18G Boeing sebagaimana dikutip Dave Majumdar di National Interest Minggu 9 Oktober 2016.

Radar dengan frekuensi lebih rendah dibanding pesawat siluman menurut Kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat Michael Pietrucha di Aviation Week & Space Technology beberapa tahun silam menyebut bahwa mungkin secara teknis mungkin, tetapi secara taktis sangat sulit.

Kesimpulannya, gertakan Rusia yang mengatakan akan dengan mudah menghancurkan pesawat siluman dengan S-400 atau S-300 di Suriah tidak akan dengan mudah untuk dilakukan, meski juga tidak bisa diremehkan. Kemampuan siluman tetaplah menjadi salah satu hal yang cukup sulit untuk ditangani saat ini.

Satu hal lagi, dalam scenario pertempuran sebenarnya tidaklah mungkin akan terjadi pertempuran head to head antara satu senjata dengan senjata lain.

Tidak mungkin akan ada pertarungan satu lawan satu antara S-400 dan F-22, tetapi pertempuran akan melibatkan banyak sistem yang akan menjalankan kerjanya masing-masing. S-400 dan S-300 akan didukung kekuatan lain termasuk jet tempur di udara, sementara F-22 juga tidak akan sendirian, pasti akan didampingi oleh platform lain.

Baca juga:

F-35 vs S-400, Pertarungan Iblis Darat dan Siluman Langit