Seorang profesor terkemuka China Zhe Sun pada sebuah forum keamanan di Washington membuat pernyataan yang mengejutkan dengan mengatakan Beijing mulai merenungkan untuk melakukan serangan untuk melawan kediktatoran di Korea Utara. Hal itu muncul setelah rezim Kim Jong-Un melakukan dua uji coba nuklir dalam waktu kurang dari sebulan.
Menurut sebuah laporan oleh Korean Times yang dikutip Sputnik Minggu 9 Oktober 2016, Profesor Zhe Sun mengatakan para pemimpin China tengah memperdebatkan cara terbaik untuk berurusan dengan rezim Korea Utara yang semakin tidak bisa dikendalikan dan terus membangun kekuatan rudal balistik antarbenua yang mengancam dunia
“Beberapa sarjana dan pembuat kebijakan China mulai berbicara tentang mendukung ‘serangan mematikan dan pemenggalan kepala’ oleh AS dan Korea Selatan sebagai salah satu pilihan kebijakan,” kata profesor tersebut.
“Proposal yang lebih radikal menunjukkan bahwa China harus mengubah rezim di negara tersebut, mengirim pasukan melintasi perbatasan dan menduduki DPRK, memaksa DPRK agar memberikan nuklirnya dan mulai terbuka dan reformasi.”
Jika benar, tentu laporan ini sangat mengejutkan. Selama ini Beijing dikenal sebagai satu-satunya sekutu Pyongyang. China juga selalu menentang sikap keras Amerika dan Korea Selatan untuk menggunakan militer karena akan menambah rumit situasi di semenanjung tersebut. Belum pernah ada laporan yang menyebutkan China mempertimbangkan perubahan rezim di Korea Utara. China juga mendukung Korea Utara ketika perang Korea.
Korea Utara telah menjadi perhatian masyarakat internasional setelah menunjukkan kemampuan untuk menyempurnakan proses miniaturisasi yang diperlukan untuk memuat hulu ledak nuklir ke rudal balistik antarbenua.
Selain miniaturisasi, Korea Utara juga semakin agresif melakukan pengujian rudal nuklir dan balistik akhir-akhir ini.
PBB telah dmemperluas sanksi yang sudah belum pernah terjadi sebelumnya di negara yang terisolasi dan miskin tersebut, tetapi kemampuan rezim untuk membangun persenjataan terus berkembang.
Baca juga:

