For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Teluk Manila Jadi Awal Amerika, Pertempuran Tsushima Melahirkan Raksasa Jepang

Lukisan USS Olympia di latar depan kiri, memimpin Skuadron Asiatic Amerika saat menghancurkan armada Spanyol di Teluk Manila, 1 Mei 1898.

Amerika dan Jepang merupakan kekuatan militer yang disegani di dunia. Pada era Perang Dunia, Angkatan Laut Jepang dan Amerika menguasai banyak samudera. Pertempuran pertama menjadi tonggak penting bagi keduanya.

Angkatan Laut Amerika menjadi kekuatan besar tidak lepas dari pertempuran Teluk Manila 1 Mei 1898. Meskipun pertempuran menggunakan kapal pra-perang, Pertempuran Teluk Manila melibatkan kapal-kapal uap dengan menara besar dan senjata api yang menjadi cikal-bakal kapal perang di Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Pertempuran Teluk Manila yang menjadi pertarungan pertama Spanyol dan Amerika. Skuadron Pasifik Spanyol Skuadron dihancurkan oleh Skuadron Asiatic Amerika Serikat. Dari 13 total kapal di skuadron Spanyol, delapan kapal tenggelam – tujuh kapal penjelajah dan satu transportasi. Sebanyak 77 pasukan Spanyol tewas dan lebih dari 200 terluka.

Sementara di pihak Amerika hanya satu kapal penjelajah mereka yang rusak, satu pelaut tewas dan sembilan pelaut terluka.

Pertarungan tersebut menunjukkan bahwa Amerika mulai menunjukkan dirinya sebagai kekuatan global yang mampu mengalahkan negara-negara Eropa kuat kala itu seperti Spanyol. Hal ini juga memungkinkan Amerika untuk menduduki Manila yang akhirnya menyebabkan Spanyol menyerahkan kontrol Filipina pada Washington.

Laksamana Tōgō di jembatan Mikasa, pada awal Pertempuran Tsushima pada tahun 1905./Komik UNESCO

Pertempuran Tsushima

Dikenal di Jepang sebagai Pertempuran Laut Jepang, Pertempuran Tsushima menjadi awal munculnya kekuatan Kekaisaran Jepang di dunia global. Mereka harus melawan gabungan kekuatan armada Baltik dan Pasifik Rusia.

Angkatan Laut Rusia telah mencegah Imperial Jepang mengendalikan laut, dan bermaksud untuk mengepung Angkatan Laut Jepang dengan kekuatan gabungan mereka dengan harapan bisa mengakhiri Perang Rusia-Jepang.

Taruhannya begitu tinggi sehingga Laksamana Jepang Tōgō Heihachirō mengatakan kepada pelautnya tepat sebelum pertempuran, “Nasib Kekaisaran bergantung pada hasil pertempuran ini, biarkan setiap orang melakukan tugasnya yang terbaik.”

Pelaut Jepang akhirnya menghancurkan Angkatan Laut Rusia. Dua pertiga armada Rusia, sekitar 21 kapal, tenggelam dalam pertempuran – dengan enam lainnya ditangkap. Lebih dari 4.000 pelaut Rusia terbunuh dan 5.000 lainnya ditangkap.

Di pihak Jepang hanya tiga kapal yang tenggelam, lebih dari 100 orang tewas, dan sekitar 530 terluka. Sir George Sydenham Clarke, seorang perwira Inggris dan administrator kolonial saat itu, menulis bahwa “Pertempuran Tsu-shima sejauh ini merupakan peristiwa angkatan laut terbesar dan paling penting sejak Trafalgar.”

Tsushima membuktikan bahwa Kekaisaran Jepang adalah kekuatan besar. Rusia mengakui kekalahan di Treaty of Portsmouth empat bulan kemudian.

Facebook Comments