For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Proses Rumit Menyelematkan Presiden Amerika Saat Perang Nuklir

Sebagai negara dengan kekuatan nuklir terkuat, salah satu ketakutan utama dari Amerika adalah mendapat serangan nuklir dari negara lain.

Ketika itu terjadi, maka salah satu langkah yang harus dilakukan adalah menyelematkan Presiden Amerika Serikat agar tetap bisa memegang komando.

Ketika tidak dalam kondisi darurat, saat Presiden Amerika Serikat bergerak, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Ribuan orang ikut bergerak baik secara bersamaan maupun secara terpisah. Mereka bergerak dalam misi yang berbeda-beda dan dalam waktu serta tempat yang terpisah.

Salah satu hal yang menjadi bagian penting dalam pengamanan presiden adalah bagaimana mengevakuasinya ketika terjadi kondisi darurat.

Jalur udara masih menjadi alat utama untuk mengamankan pemimpin Gedung Putih ini dengan tetap mampu menjalankan tugasnya memimpin negara.

Selama ini Air Force One yang banyak dikenal sebagai pesawat utama kepresidenan. Tidak hanya membawa presiden terbang ke manapun, pesawat ini juga akan berfungsi sebagai alat evakuasi. Tetapi sebenarnya, tidak hanya Air Force One yang digunakan.

Ada banyak pesawat yang terlibat dan disiapkan untuk misi ini. Bahkan ada pesawat yang sangat rahasia yang dia akan selalu ada di sekitar kunjungan presiden Amerika ke manapun. Seperti bunglon pesawat ini menyamar di bandara-bandara di seluruh dunia.

Bagaimana sebenarnya gambaran evakuasi seorang presiden Amerika Serikat? Mari kita lihat

Air Force One dan E-4B

Prosedur evakuasi kepresidenan  dimulai dengan menggunakan pesawat Air Force One sebagai armada utama.

Sebagai contoh pada  tanggal 11 September 2001, saat Presiden George W. Bush diterbangkan  menyusul kunjunganya  di sebuah sekolah di Sarasota, Florida, awak pesawat mengaktifkan sebuah rahasia yakni  kemampuan  747 yang bisa terbang ke udara dengan cepat.

Pesawat melesat ke langit dengan tingkat kecuraman tinggi  untuk meminimalkan serangan rudal yang mengancam.

“Hanya ada dua 747 di dunia yang bisa lepas landas seperti itu,” kata salah satu pelayan penerbangan pada saat itu. “Dan mereka berdua disebut Air Force One.”

E-4B

Ada lagi armada presiden yang lebih besar  yang siap untuk digunakan dalam kondisi darurat. Angkatan Udara memiliki empat Boeing 747 yang dilengkapi secara khusus, yang dikenal sebagai pesawat E-4B Nightwatch , yang dapat berfungsi sebagai “Pusat Operasi Lintas Udara Nasional.”

Beroperasi sejak tahun 1970an, Pos komando udara ini telah lama dianggap sebagai kesempatan terbaik bagi presiden  untuk bertahan dalam serangan nuklir.

Berbeda dengan Air Force One yang  fokus pada keamanan dan kenyamanan, pos komando udara E-4B terbang ke ruang perang dan  dikelola oleh puluhan analis militer, ahli strategi dan ajudan komunikasi yang akan membimbing presiden sampai hari-hari pertama sebuah perang nuklir.

Pesawat tersebut juga membawa peralatan khusus seperti kawat antena  sepanjang lima mil yang akan memastikan bahwa presiden dapat tetap berhubungan dengan armada kapal selam nuklir bahkan setelah komunikasi berbasis darat  hancur.

Setelah Perang Dingin berakhir, pesawat E-4B Nightwatch tetap selalu siaga  di Pangkalan Angkatan Udara Andrews. Mereka siap untuk terbang hanya 15 menit setelah peringatan.

Bahkan saat ini, salah satu dari empat pesawat “Doomsday”,  secara teratur bepergian dengan atau dekat presiden, terutama untuk perjalanan ke luar negeri.

Ketika presiden berada di Amerika Serikat, sebuah E-4B selalu waspada di Pangkalan Angkatan Udara Offutt di Omaha, Nebraska, mesinnya menyala 24 jam sehari, siap diluncurkan dan bertemu dengan presiden jika terjadi evakuasi darurat.

Namun, pesawat Doomsday juga hanya sebagian kecil dari  armada udara darurat yang ada di ujung jari presiden.

Next: Pesawat C-20C

Facebook Comments