For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Uni Emirat Arab, Negara Kecil Ini Semakin Melenturkan Kekuatan Militernya

F-16 Uni Emirat Arab

Uni Emirat Arab merupakan negara kecil tetapi kaya raya. Negara yang selama ini khas dengan kemewahan tersebut secara pelan namun pasti juga terus melenturkan otot militer mereka dan melakukan ekspansi kekuatan yang merambah ke Afrika dan wilayah Timur Tengah lainnya.

Negara ini menjadi salah satu sekutu utama Washington di wilayah Arab dalam perang melawan ISIS. UEA  menampung sekitar 5.000 personel militer, jet tempur dan pesawat tak berawak Amerika. Tidak cukup dengan itu, mereka juga menerjunkan langsung kekuatan mereka. Abu Dhabi menunjukkan dirinya sebagai sebuah negara semakin siap untuk melenturkan otot tubuhnya sendiri di tengah kecurigaannya tentang Iran.

Uni Emirat Arab  telah mendaratkan pasukan ekspedisi di Afghanistan dan Yaman. Pangkalan luar negerinya yang baru di benua Afrika menunjukkan negara ini pernah disebut Menteri Pertahanan Amerika Jim Mattis sebagai “Sparta Kecil,” yang memiliki ambisi  besar.

UAE, sebuah federasi dari tujuh wilayah, baru menjadi sebuah negara pada tahun 1971 setelah  menjadi protektorat Inggris selama beberapa dekade dan beberapa emirat memiliki pasukan keamanan mereka sendiri. Pasukan mereka  bergabung menjadi kekuatan militer internasional yang ambil bagian dalam Perang Teluk 1991 pimpinan Amerika Serikat untuk mengusir pasukan Irak yang menduduki Kuwait.

UEA mengirim pasukan ke Kosovo sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian pimpinan NATO  mulai tahun 1999, memberikan kekuatannya pengalaman berharga yang bekerja di samping sekutu Barat di lapangan.

Setelah serangan 11 September 2001, Abu Dhabi juga  mengerahkan pasukan khusus di Afghanistan untuk mendukung perang pimpinan AS melawan Taliban. Personel Emirat di sana juga termasuk  mengerjakan proyek infrastruktur di desa-desa dan bertemu dengan tetua setempat.

Saat ini, UEA menjadi tuan rumah pasukan Barat di pangkalan militernya, termasuk tentara Amerika dan Prancis. Pelabuhan Jebel Ali di Dubai berfungsi sebagai pelabuhan  terbesar untuk Angkatan Laut Amerika di luar Amerika Serikat.

UEA dalam beberapa tahun terakhir memutuskan untuk menumbuhkan kekuatan militernya karena kekhawatiran tentang kebangkitan Iran di wilayah tersebut setelah kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia dan keterlibatan Teheran dalam perang di Suriah dan Yaman.

Pada tahun 2011, UAE mengakui bekerja sama dengan kontraktor militer swasta, termasuk sebuah perusahaan yang dilaporkan terkait dengan pendiri Blackwater Erik Prince, untuk membangun militernya.

Associated Press juga melaporkan bahwa sejumlah pangeran terlibat dalam program bernilai jutaan dolar untuk melatih pasukan untuk memerangi perompak di Somalia, sebuah program yang dilakukan oleh beberapa negara Arab, termasuk UEA.

“Seperti yang Anda harapkan dari anggota masyarakat internasional yang proaktif, semua kegiatan Angkatan Bersenjata UEA mematuhi undang-undang internasional dan konvensi yang relevan,” ata Jenderal Juma Ali Khalaf al-Hamiri, seorang pejabat militer senior Emirat,  dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip kantor berita UEA, WAM.

Media di Kolombia juga melaporkan bahwa warga Kolombia bekerja sebagai tentara bayaran yang bertugas di militer UEA.

Pada tahun 2014, UEA memperkenalkan wajib militer untuk semua laki-laki Emirat berusia antara 18 sampai 30 tahun. Sementara bagi wanita wajib militer sebagai pilihan bukan kewajiban.

“Pesan kami kepada dunia adalah pesan damai, semakin kuat kami, semakin kuat pesan kami,” kata  Perdana Menteri UEA Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum beberapa waktu lalu melalui akun Twitter.

Next: Perang Yaman dan Melebarkan Kekuatan ke Afrika
Facebook Comments

error: Content is protected !!