For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Bagaimana Brasil Menyulap F-5E Tiger Tua Menjadi Lebih Mematikan?

F-5E Tiger adalah salah satu keberhasilan ekspor industri kedirgantaraan terbesar di Amerika. Didesain sebagai jet tempur berbiaya ringan, F-5E masih dioperasikan oleh banyak negara di seluruh dunia meskipun jet tempur modern terus bermunculan.

Jet tempur ini masih bisa terus bertahan memanfaatkan sistem elektronik yang semakin mungil hingga memungkinkan radar yang lebih kuat dan lebih banyak sistem untuk diintegrasikan ke dalam ruang yang sama dengan sistem aslinya. Pendekatan ini dicontohkan oleh F-5EM yang dioperasikan oleh Brasil, salah satu varian paling canggih dari F-5E yang terbang hari ini.

Brasil pertama kali mengakuisisi F-5E pada 1974 dalam kompetisi mengalahkan beberapa jet tempur seperti Harrier, Jaguar, Fiat G.91 dan A-4 Skyhawk.  Sebanyak 40 unit dibeli pada awalnya, diikuti oleh 26 unit lagi pada 1980-an.

Pesawat ini bertugas tanpa banyak modifikasi sampai latihan udara CRUZEX I pada tahun 2002. Latihan ini menyimulasikan konflik antara Angkatan Udara Brasil (FAB) dan pasukan Armee de l’Air Prancis yang dilengkapi dengan Mirage 2000 dengan dukungan E-3 Sentry AWACS.

Hasilnya buruk,  dengan kesimpulan Prancis mengambil keunggulan udara jika terjadi konflik nyata meskipun beberapa dalam simulasi beberapa kali F-5E Brasil juga berhasil mempecuncangi Mirage III Prancis.

Hal ini memicu dorongan signifikan untuk memodernisasi kemampuan Angkatan Udara Brasil untuk mempertahankan wilayah udara mereka. Modernisasi Mirage III dieksplorasi tetapi dianggap tidak efektif secara biaya. F-5E lebih menunjukkan banyak harapan.

Pada 1990-an, Chili, menghadapi kebutuhan serupa untuk memodernisasi, menciptakan varian mereka sendiri, Tiger III Plus dengan bantuan dari Israel Aircraft Industries. Program serupa dengan teknologi yang lebih baru dapat dilakukan dengan F-5E Brasil.

Program ini dimulai pada 2000-an ketika sebuah kontrak diberikan kepada Embraer Brasil untuk memodernisasi 46 F-5E dengan teknologi Eropa dan Israel. Aspek kunci dari modernisasi adalah untuk “memperluas” F-5E  dari jet tempur “point defense” jarak pendek ke pesawat yang dapat memantau lebih lebih banyak wilayah Brasil yang besar.

Untuk tujuan ini, radar ditingkatkan menjadi SELEX Grifo-F, yang melibatkan pemanjangan kerucut hidung pesawat untuk menempatkan antena radar yang lebih besar. F-5EM juga dirancang dengan tautan data yang aman untuk terhubung ke pesawat FAB E-99 AWACS dan radar darat, yang diperkirakan akan mem-vektor F-5 ke target.

Peran tautan data dalam doktrin Angkatan Udara Brasil sangat penting. Selain dominasi yang diperlihatkan oleh Mirage Prancis yang bekerja dengan E-3 selama CRUZEX, FAB selalu memilih memandu jet tempur mereka dari radar yang lebih kuat karena pengalaman buruk dengan radar F-5E asli.

Selama pencegatan malam [ada pembom Vulcan Inggris pada tahun 1982, radar onboard F-5E tidak dapat secara efektif mencari pesawat besar, para jet tempur bergantung pada radar darat.

Untuk mengambil keuntungan dari jangkauan tambahan link data dan sistem radar, rudal udara ke udara jarak menengah Derby Israel diintegrasikan ke dalam F-5EM.

Selain Derby, rudal jarak pendek Python III Israel juga terintegrasi. Layar yang dipasang helm DASH Israel dipasang di kokpit untuk memberi isyarat kepada misil-misil itu, menjadikan F-5EM jet tempur jarak dekat yang tangguh.

Radar peringatan, sistem penghasil oksigen, throttle dan hand stick serta navigasi INS / GPS semuanya disertakan. Meriam kanan M39A2 20mm  dilepas untuk memberikan ruang bagi elektronik dalam jet.

Akhirnya untuk mengatasi kapasitas bahan bakar internal F-5E yang sedikit, kemampuan untuk pengisian bahan bakar di udara ditambahkan.

Program modernisasi F-5E berlanjut hingga 2000-an dan 2010-an, dengan jet terakhir dikirim pada 2013. Sebelas F-5E tambahan diperoleh dari Angkatan Udara Yordania pada 2009 untuk meningkatkan jumlah armada Brasil.

Pesawat ini diharapkan tetap melayani hingga 2025, dengan integrasi rudal udara ke udara luar visual A-Darter diharapkan akan segera dilakukan. Gripen E baru yang diakuisisi oleh FAB diharapkan untuk melengkapi F-5EM.

Para ahli Brasil menekankan bahwa kesenjangan kemampuan Angkatan Udara Brasil dengan angkatan udara tetangga telah dipersempit oleh peningkatan F-5EM.

Namun demikian, harus diakui jet tempur ini masih kalah dalam pertempuran udara modern karena kekurangan dan desain lama. Hanya saja ini adalah yang terbaik yang bisa dilakukan Angkatan Udara Brasil dengan anggaran terbatas dan pesawat yang dihasilkan pun cukup baik jika dilihat dari uang yang dihabiskan.

 

 

Facebook Comments