For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika Pergi, Kurdi Suriah Frustrasi

Seorang pejuang YPG Kurdi berpatroli di dekat sebuah tank Turki di Aleppo Suriah pada tahun 2015 /Aljazeera

Keputusan Amerika untuk meninggalkan Suriah telah membuat Kurdi yang menjalankan sebagian besar wilayah utara menjadi frutasi. Tidak ada cara lain kecuali mengubah sikap dan kini mereka mendesak Rusia dan sekutunya Damaskus untuk mengirim pasukan untuk melindungi perbatasan dari ancaman serangan Turki.

Seruan mereka ini menunjuk kedalaman krisis yang mereka hadapi setelah keputusan tiba-tiba Presiden AS Donald Trump untuk menarik pasukan. Selama ini mereka adalah kelompok yang selalu berseberangan dengan pemerintah bahkan dicap sebagai pemberontak.

Meski sampai saat ini masih sedikit perubahan di darat  tetapi karena pasukan Amerika masih dikerahkan dan Trump mengatakan penarikan akan lambat,  pejabat Kurdi berjuang untuk strategi baru melindungi wilayah mereka dari Turki sebelum Amerika Serikat pergi.

Pembicaraan dengan Damaskus dan Moskow tampaknya menjadi fokus bagi kepemimpinan Kurdi. Ketakutan terburuk mereka adalah terulangnya serangan Turki yang mengusir warga Kurdi dan milisi YPG keluar dari kota Afrin di barat laut awal tahun ini.

Mereka juga berusaha meyakinkan negara-negara Barat lainnya untuk mengisi kekosongan ketika Washington menarik sekitar 2.000 tentara yang kehadirannya di Suriah utara dan timur telah menghalangi Turki sejauh ini.

Wilayah yang dipertaruhkan meliputi sekitar seperempat wilayah Suriah, sebagian besar di sebelah timur Sungai Efrat, yang dikendalikan oleh Syirian Democratic Force (SDF), sebuah kelompok yang didominasi oleh YPG Kurdi. Wilayah ini berbatasan dengan Irak di timur dan mencakup tiga kota besar – Qamishli, Hasaka dan Raqqa.

SDF telah menjadi mitra utama Washington Suriah di dalam pertarungan melawan ISIS, tetapi Turki memandang para pejuang YPG sebagai ancaman dan telah bersumpah untuk menghancurkan mereka.

Para pejabat  Suriah utara, yang pergi ke Moskow pekan lalu, akan segera kembali ke sana lagi dengan harapan Rusia akan mendorong Damaskus “memenuhi tugas kedaulatannya.”

“Kontak kami dengan Rusia, dan rezim, adalah untuk mencari mekanisme yang jelas untuk melindungi perbatasan utara,” kata  politisi terkemuka Kurdi Aldar Xelil mengatakan kepada Reuters dan dikutip JejakTapak Jumat 28 Desember 2018. Xelil merupakan seorang arsitek rencana otonomi di Suriah utara. “Kami ingin Rusia memainkan peran penting untuk mencapai stabilitas.”

Presiden Bashar al-Assad, yang sudah memimpin sebagian besar Suriah dengan bantuan dari Iran dan Rusia, telah berjanji untuk memulihkan wilayah SDF. Wilayah itu, yang kaya akan minyak, air, dan tanah pertanian, dipandang penting bagi rekonstruksi Suriah.

Meskipun otonomi yang diinginkan selalu ditolak Damaskus, pasukan Kurdi sebagian besar menghindari konflik langsung dengan pemerintah selama perang, kadang-kadang bahkan melawan musuh bersama. Mereka mengadakan pembicaraan politik musim panas ini yang tidak berhasil.

Tetapi dengan posisi negosiasi mereka yang sangat lemah oleh langkah Trump, pihak berwenang Kurdi mungkin berpacu dengan waktu untuk memotong kesepakatan karena Turki mengancam untuk meluncurkan ofensifnya di sebelah timur Sungai Eufrat.

Turki memandang YPG sebagai perpanjangan dari gerakan PKK Kurdi  yang telah melancarkan pemberontakan selama 34 tahun di Turki tenggara. Ankara telah memanfaatkan proksi pemberontak Suriah untuk membantu memerangi YPG di utara.

Khawatir pengumuman AS dapat membuka jalan bagi serangan Turki, SDF telah memperingatkan ancaman yang masih dimiliki oleh ISIS.

“Untuk mengusir serangan Turki, kami sedang mendiskusikan berbagai opsi. Kami telah melakukan kontak dengan Rusia, Prancis dan negara-negara Uni Eropa untuk membantu,” kata Badran Jia Kurd, seorang pejabat senior Kurdi yang pergi ke Moskow minggu lalu untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat kementerian luar negeri Rusia.

“Adalah tanggung jawab pemerintah Suriah untuk melindungi perbatasan wilayah ini dan ini sedang dibahas,” katanya kepada Reuters.

Dalam serangan terakhir Turki di Afrin awal tahun ini, SDF merasa dikecewakan  Rusia yang sebelumnya diyakini telah memberikan jaminan bahwa Turki tidak akan menyerang wilayah tersebut.

Pemberontak Suriah yang didukung Turki mengatakan mereka telah memobilisasi untuk meluncurkan ofensif berikutnya, dengan target pertama mereka kota Manbij yang berbatasan dengan wilayah di bawah kendali mereka.

Sharfan Darwish, juru bicara Dewan Militer Manbij yang beraliansi dengan SDF yang menguasai kota itu mengatakan pasukan Amerika masih berpatroli di dekat Manbij dan sejauh ini tidak ada yang berubah.. “Tetapi dalam koordinasi dengan dewan, pemerintah dan Rusia mengirim pasukan di dekat kota pada hari Selasa,” katanya.

Politisi ternama Kurdi Suriah Ilham Ahmed, yang mengadakan pembicaraan dengan Damaskus awal tahun ini, mengatakan kontak dengan negara tidak pernah berhenti.

“Kami sekarang dalam fase meluncurkan inisiatif baru,” katanya pada pertemuan suku di Raqqa, Rabu. “Kami akan berusaha dengan segala cara untuk menekan rezim ini untuk melakukan penyelesaian politik

Facebook Comments

error: Content is protected !!