For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

NATO: Perilaku Rusia Makin Berbahaya dan Tidak Bisa Diterima

Jens Stoltenberg

Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengatakan Perang Dingin memang telah berakhir tetapi dunia tetap menghadapi tantangan yang semakin besar. Seperti biasa Stoltenberg menuduh Rusia sebagai biang dari ketidakstabilan yang mengancam sejumlah wilayah.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan pola perilaku yang semakin berbahaya dan tidak dapat diterima dari Rusia,” kata Stoltenberg dalam opininya yang dimuat di Defense News Senin 10 Desember 2018.

Stoltenberg menyebut Rusia telah melakukan  penumpukan militer dan tindakan agresif dari utara Eropa hingga Timur Tengah, termasuk dengan memabngun rudal jarak menengah baru yang melanggar perjanjian kontrol senjata. Selain itu Rusia juga menggunakan taktik hybrid termasuk serangan cyber, disinformasi dan campur tangan dengan proses demokrasi negara lain. Tidak lupa Stoltenberg mengutip penggunaan agen saraf yang mematikan di Inggris, yang merupakan kasus pertama di tanah NATO.

“Negara ini  juga terus melemahkan kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina dengan konflik di timur negara yang telah menelan biaya lebih dari 10.000 jiwa,” tambahnya.

Sayangnya, lanjut Stoltenberg, tidak ada indikasi bahwa Rusia bermaksud untuk mengubah perilakunya. Sampai itu terjadi, NATO akan mempertahankan pendekatan dual-lintasan yakni penangkalan dan pertahanan yang kuat dikombinasikan dengan upaya membangun dialog.

“Pada pertemuan puncak kami pada bulan Juli, para pemimpin NATO mengambil keputusan yang diperlukan untuk memperkuat pencegahan dan pertahanan kami. Mereka menyetujui inisiatif kesiapan baru,” katanya. Insiatif kesiapan baru itu yang dikenal sebagai Four Thirties yakni  30 batalyon mekanik, 30 skuadron udara dan 30 kapal tempur yang siap digunakan dalam 30 hari atau kurang.

Tetapi Stoltenberg menegaskan Rusia bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi NATO termasuk kemungkinan masih adanya ancaman terorisme.

“Kami telah melihat munculnya ISIS di Irak dan Suriah dan meski mungkin melemah, itu masih menjadi ancaman. Untuk membantu mencegah ISIS kembali, kami telah meluncurkan misi pelatihan baru di Irak untuk mendirikan sekolah militer profesional bagi pasukan Irak, menggunakan pelajaran yang telah kami pelajari dari Afghanistan. Kami juga meningkatkan dukungan kami untuk Yordania dan Tunisia untuk lebih memperkuat kemampuan mereka dalam memerangi terorisme. Dan kami siap mendukung Libya.”

Facebook Comments