For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Benarkah Radar Frekuensi Rendah Bisa Digunakan untuk Membunuh Pesawat Siluman?

USAF

Pesawat dan bomber siluman harus diakui sebagai teknologi yang menakjubkan, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa dikalahkan

Bahkan perangkat pemrosesan sinyal relatif sederhana, dikombinasikan dengan rudal dengan hulu ledak besar dan sistem bimbingan terminal sendiri, berpotensi memungkinkan radar frekuensi rendah dan sistem senjata dikabarkan bisa menargetkan dan menembak  pesawat generasi terbaru Amerika.

Ini adalah fakta yang dikenal dalam Pentagon dan kalangan industri sebagai radar frekuensi rendah yang beroperasi di  band VHF dan UHF  dan  mendeteksi serta melacak pesawat rendah diamati.

Secara umum dinyatakan  bahwa radar tersebut memang tidak dapat memandu rudal ke target  karena tidak bisa menghasillan  track senjata secara berkualitas. Tetapi menurut beberapa ahli sebenarnya pendapat itu tidak sepenuhnya tepat.

Secara tradisional, membimbing senjata dengan radar frekuensi rendah telah dibatasi oleh dua faktor. Salah satu faktor adalah lebar antenna radar, sedangkan yang kedua adalah lebar gelombang radar. Namun kedua  keterbatasan ini dapat diatasi dengan pemrosesan sinyal.

Lebar  radar secara langsung berhubungan dengan desain antena yang tentu harus besar karena frekuensi rendah. Radar frekuensi rendah awal seperti radar VHV P-14 Tall King yang dibangun Rusia berukuran sangat besar  dan menggunakan bentuk semi-parabola untuk mengurangi lebar radar.

Kemudian ada radar  P-18 Spoon Rest  menggunakan array Yagi-Uda yang lebih ringan dan lebih kecil. Tapi radar frekuensi rendah awal ini memiliki beberapa keterbatasan serius dalam menentukan jangkauan dan arah yang tepat dari kontak.

Selain itu, mereka tidak bisa menentukan ketinggian karena beam radar yang diproduksi oleh sistem ini memiliki luas beberapa derajat di azimuth dan puluhan derajat di ketinggian.

Keterbatasan  radar band VHF dan UHF lain adalah bahwa lebar gelombang panjang dan mereka memiliki pulse repetition frequency [PRF]  rendah yang berarti sistem tersebut tidak akurat untuk  menentukan kisaran.

Mike Pietrucha, seorang mantan perwira peperangan elektronik USAF yang menerbangkan  McDonnell Douglas F-4G Wild Weasel  dan Boeing F-15E Strike Eagle sebagamana dikutip National Interest beberapa waktu silam mengatakan  lebar gelombang  20 mikrodetik akan menghasilkan gelombang kira-kira sepanjang 19.600 kaki. Itu berarti bahwa rentang tidak dapat ditentukan secara akurat dalam jarak 10.000 kaki. Selanjutnya, dua target yang berdekatan  tidak dapat dibedakan.

Defense gov
Defense gov

Masalah Dipecahkan

Pengolahan sinyal  memecahkan sebagian masalah resolusi kisaran. Kuncinya adalah proses yang disebut frequency modulation on pulse  yang digunakan untuk mengkompresi gelombang radar.

Keuntungan menggunakan kompresi gelombang adalah bahwa dengan gelombang 20 mikrodetik, resolusi kisarannya berkurang menjadi sekitar 180 kaki atau lebih. Ada juga beberapa teknik lain yang dapat digunakan untuk mengkompres sinyal radar seperti phase shift keying.

Menruut  Pietrucha, teknologi kompresi gelombang telah  berusia puluhan tahun dan telah diajarkan di petugas peperangan elektronik Angkatan Udara selama tahun 1980. Kekuatan pemrosesan komputer yang ada saat ini sangat mendukung.

Para insinyur  memecahkan masalah resolusi directional atau azimuth dengan menggunakan desain radar array bertahap, yang menghilangkan  kebutuhan untuk array parabola. Tidak seperti array mekanis tua  , radar bertahap  mengarahkan  radar mereka secara elektronik.

Kekuatan komputasi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas ini telah tersedia pada akhir tahun 1970 yang kemudian menjadi sistem tempur Aegis yang digunakan Angkatan Laut yang digunakan di  penjelajah  kelas Ticonderoga dan destroyer  kelas Arleigh Burke. Sementara active electronically scanned array jelas lebih baik dan lebih akurat.

Dengan hulu ledak rudal cukup besar, rentang resolusi tidak harus tepat. Sebagai contoh, S-75 Dvina yang  di NATO disebut sebagai SA-2 Guideline memiliki hulu ledak 440 pound dengan radius mematikan lebih dari 100 kaki.

Dengan demikian, menurut teori Pietrucha gelombang 20 mikrodetik yang dikompresi  dengan resolusi kisaran 150 kaki harus memiliki resolusi kisaran untuk meledakkan  hulu ledak cukup dekat. Artinya, tembakan tidak harus telak menghantam pesawat siluman, cukup pada rentang hulu ledak maka pesawat siluman seperti F-22 dan F-35 akan merasakan efek fatalnya.

Facebook Comments