Vostok-2018 dan Diplomasi Heavy Metal ala Putin

Latihan perang Vostok-2018 / TASS

Angka-angka yang dimunculkan dalam latihan militer Rusia dengan sandi Vostok-2018 sangat mengesankan. Latihan yang sedang digelar ini dilaporkan melibatkan 300.000 tentara, 36.000 tank dan kendaraan lainnya, 80 kapal, dan 1.000 pesawat yang beroperasi di lebih dari setengah negara.

Angka ini dua kali lipat dari kekuatan angkatan bersenjata Inggris. Juga dua kali lipat dibandingkan latihan perang Vostok terakhir yang diadakan pada 2014. Juga latihan terbesar setelah Soviet runtuh. Seakan itu tidak cukup, sekitar 3.200 pasukan dan 30 pesawat China juga terlibat, bersama dengan pasukan kecil Mongolia.

Vostok bukan hanya latihan militer besar, ini adalah operasi perang psikologis besar-besaran dan langkah pertama geopolitik, yang dilakukan oleh Rusia karena mereka memperoleh kembali semangat bela diri dan kemampuannya untuk melakukan dan mengoordinasi operasi yang kompleks.

Latihan ini bisa disebut sebagai “diplomasi heavy-metal” yakni  penggunaan militer Rusia untuk mengatasi dan menyesatkan Barat.  Diplomasi dengan menggunakan angka-angka fantastis juga sudah mulai terlihat ketika Rusia menggelar latihan Zapad tahun lalu.

Saat itu Moskow menurunkan jumlah tentara yang berpartisipasi agar tetap di bawah batas maksimal di mana negara-negara Barat akan dapat mengirim pengawas sesuai kesepakatan yang ada. Kali ini Rusia tampak senang memainkan angka-angka itu.

Tetapi angka 300.000 kalau mau jujur juga terlalu dramatis. Bahkan mungkin yang terlibat sebenarnya mungkin mendekati 150.000. Jumlah itupun masih sangat besar.  Melihat apa yang terjadi di Zapad tahun lalu, banyak dari tentara ini tidak mungkin meninggalkan barak mereka. Mereka akan “terlibat” dalam latihan di pos komando masing-masing, bukan di lapangan.

“Jika katakanlah, hanya satu resimen brigade yang benar-benar terlibat dalam Vostok, maka Rusia akan memasukkan seluruh brigade dalam hitungannya,” kata analis pertahanan Michael Kofman sebagaimana dikutip Mark Galeotti dalam tulisannya di  Atlantic Kamis 13 September 2018. Mark Galeotti adalah anggota Jean Monnet di European University Institute dan Senior Non-Resident Fellow di Institute of International Relations Prague.

Presiden Rusia Vladimir Putin melihat latihan perang Vostok-2018 / TASS

Memindahkan sepertiga dari seluruh angkatan bersenjata Rusia di sekitar Siberia dan Rusia Timur Jauh juga bukan hal yang murah, bahkan sangat mahal.  Dalam situasi ekonomi yang masih berat, sulit bagi Rusia untuk memiliki uang tunai dan kemampuan transportasi untuk memindahkan banyak pasukan tanpa menyebabkan gangguan.

Namun Putin akan berusaha menunjukkan angka-angka raksasa. Dia ingin memproyeksikan citra negara yang berbahaya namun percaya diri, negara yang harus ditenangkan, tidak ditantang. Oleh karena itu, hampir bisa dipastikan, akan banyak muncul gambar-gambar tank-tank yang bergemuruh di padang rumput, drone, pesawat dan senjata-senjata lainnya. Rudal-rudal berbagai jenis akan ditembakkan.

Vostok juga merupakan langkah awal geopolitik.. Dimasukkannya kontingen Cina yang relatif kecil dalam edisi tahun ini sebenarnya bukanlah sinyal dari aliansi militer yang sebagian orang lihat, tetapi hal ini tentu saja membuat Barat memperhatikan.

Pada saat Washington dan Eropa berusaha mengisolasi Moskow secara diplomatis, ini jelas dimaksudkan sebagai pesan bahwa Putin masih mampu membuat hubungan dengan negara-negara yang tidak mau mengikuti Barat.

Tetapi seperti yang telah dicatat oleh Alexander Gabuev dari Pusat Carnegie Moscow, Moskow juga mengirim pesan yang lebih dalam ke Washington: Kami tidak ingin mengunci diri menjadi sebuah aliansi dengan China yang lebih kuat, lebih kaya, dan lebih kuat secara militer. Namun jika Anda mendorong kami terlalu jauh, kami tidak akan memiliki alternatif.

Facebook Comments