For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Apa Masuk Akal? Amerika Sedang Mempersiapkan Perang Antar-Galaksi

Rencana Presiden Amerika Serikat untuk membangun Force Space atau Angkatan Luar Angkasa yang terpisah telah mendorong Angkatan Udara Amerika memunculkan berbagai ide, bahkan termasuk yang hampir tidak masuk akal.

Angkatan Udara Amerika selama ini merupakan pihak yang paling banyak terlibat dalam ruang angkasa. Hal ini menjadikan mereka yang akan paling banyak kehilangan kekuasaan ketika Space Force terbentuk. Kepemimpinan senior USAF tampak sangat ingin menunjukkan bahwa mereka yang paling memahami ruang angkasa, dan potensi ancaman terhadap aset Amerika di atas sana.

Tetapi beberapa pernyataan yang dibuat oleh individu-individu ini, termasuk gagasan tentang persediaan preposisi di orbit geosynchronous atau persiapan untuk memantau aktivitas di galaksi lain.

Pada 3 Agustus 2018,  kita Stephen Trimble,  editor Biro Amerika Flightglobal, sebagaimana dikutip War Zone mengatakan bahwa masalah mengawasi ancaman di luar Milky Way telah muncul dalam sesi tanya jawab dengan Letnan Angkatan Udara Amerika Jenderal Veralinn Jamieson , Wakil Kepala Staf Layanan untuk Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian, setelah pidatonya di sebuah acara yang telah diselenggarakan oleh Asosiasi Angkatan Udara sehari sebelumnya.

Pada pertemuan terpisah, Jenderal Angkatan Udara AS Carlton Everhart, kepala Komando Mobilitas Udara, telah dengan segera meningkatkan kemungkinan menggunakan ruang angkasa sebagai tempat penyimpanan kargo yang sangat besar.

“Saya yakin bahwa ada lebih banyak domain – domain buatan manusia – yang akan datang, dan saya akan menawarkan Anda bahwa jika kita melihat galaksi – kedengarannya gila – tetapi akan ada domain buatan manusia dalam galaksi-galaksi,” kata Letnan Jenderal Jamieson.

“Saya tidak tahu apa yang Anda maksud – galaksi?” tanya Stephen Trimble.

“Ruang angkasa punya galaksi berbeda. Dan di galaksi-galaksi itu di masa depan kita akan benar-benar memiliki kemampuan yang kita miliki sekarang di udara. Kami tidak tahu apa itu karena kami belum membebaskan pikiran kami untuk memikirkan apa ruang angkasa dan bagaimana kami akan memanfaatkannya. Ruang angkasa akan diperebutkan. Itu akan terjadi, ” jawab Jamieson.

Trimble tetap mengaku bingung dengan arti galaksi-galaksi ini, apalagi kita. Mari kita perjelas, ruang memang memiliki banyak galaksi yang berbeda dan ruang angkasa di atas planet Bumi semakin diperebutkan oleh para aktor militer.

Bumi berada di galaksi yang disebut sebagai Milky Way dan tetangga terdekatnya adalah Galaksi Andromeda yang berjarak 2,5 juta tahun cahaya. Sementara sampai saat ini manusia baru sebatas vusa bepergian ke planet Mars, tetangga terdekat bumi yang jaraknya 48 juta mil. Jarak yang sangat pendek dibandingkan dengan jarak ke Andromeda.

Para penentang menyebut ada sedikit atau bahkan tidak ada bukti nyata bahwa teknologi untuk mencapai Andromeda diperlukan apalagi militarisasi ke wilayah yang sangat amat luas tersebut.

Komentar-komentar ini muncul setelah Jenderal Everhart telah menyebabkan keributan dengan menyebutkan bahwa ia telah mengunjungi perusahaan peluncuran ruang angkasa SpaceX dan Virgin Orbit dan memunculkan kemungkinan memindahkan kargo dan personel dari satu titik di Bumi ke tempat lain jauh di ruang angkasa. Dia mengatakan juga akan menemui perusahaan lain seperti Blue Origin untuk membahas ini dan topik lainnya.

“Pikirkan tentang ini. Tiga puluh menit, 150 metrik ton, [dan] biaya kurang dari pesawat kargo C-5,”katanya pada 2 Agustus 2018.“ Saya katakan, saya perlu mendapatkan beberapa dari itu. Bagaimana aku melakukan itu?”

Itu memang pertanyaan yang bagus tetapi masalah ini sudah muncul sejak awal Space Race pada akhir 1950-an dan semuanya berakhir dengan kegagalan.

Konsep art dari sekitar tahun 1963 yang menggambarkan pesawat kargo dan personel Douglas Ithacus T-100 yang membawa roket meluncurkan Marinir siap diluncurkan dari kapal induk

 

Tak perlu dikatakan bahwa kemampuan untuk menggunakan ruang angkasa sebagai rute transportasi hipersonik untuk mengirimkan kargo dan personel dengan cepat dapat merevolusionerkan operasi rutin dan memungkinkan strategi ofensif dan defensif yang sama sekali baru.

Tetapi mengembangkan suatu sistem yang bekerja dengan aman dan dapat diandalkan dan berada di mana saja secara fiskal layak, apalagi lebih murah daripada alat transportasi tradisional, untuk volume kargo yang besar, adalah suatu tantangan yang sangat tinggi.  Ide menempatkan kargo yang  membawa satelit ke orbit dan mampu meminta penurunan pasokan orbital dengan satu sentuhan tombol bahkan lebih fantastis.

“Saya pikir dalam lima tahun ke depan kita bisa tepat di tahap konsep itu,” kata Everhart. “Rutinitas yang sebenarnya, mungkin dalam 10 tahun berikutnya.”

Proyek militer AS terakhir di bidang ini adalah Program Small Unit Space Transport and Insertion atau SUSTAIN yang dimulai pada tahun 2002 dan menerima dukungan dari Korps Marinir Amerika. Kala itu dikatakan program bisa bisa dilakukan dalam jangka waktu 5-10 tahun atau  pada 2009. Pada akhir tahun itu, program itu secara efektif mati.

Memang sejak itu, SpaceX, khususnya, telah membuat kemajuan serius pada pemacu roket yang dapat digunakan kembali untuk membantu mengurangi biaya yang kemudian dipilih Angkatan Udara Amerika.  SpaceX, serta pesaingnya, berharap untuk memanfaatkan teknologi itu menjadi kendaraan peluncuran hemat biaya ke planet lain terutama ke Mars,

Sementara militer Amerika mungkin dapat setidaknya mempertimbangkan sebagai pilihan untuk penempatan personil dan material yang bergerak cepat mengelilingi Bumi di masa depan. Tetapi masih belum ada bukti bahwa ini dapat dikerjakan secara fiskal. Berapa biayanya, per putaran, untuk hanya membawa beban amunisi senapan 5.56mm standar dari orbit?

Pengiriman kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional adalah pekerjaan yang mahal, mulai dari US$ 150 juta hingga US$ 250 juta per peluncuran. Peluncuran satelit dapat secara signifikan lebih murah, tetapi hanya membawa muatan lebih ringan yang tidak diminati militer.

Defense Advanced Research Projects Agency saat ini sedang mengerjakan bukti konsep pesawat ruang angkasa yang dapat digunakan kembali yang mungkin hanya menelan biaya US$ 5 juta per peluncuran, tetapi akan terbatas membawa muatan 3.000 pon. Angkatan Udara juga telah bereksperimen dengan X-37B, pesawat luar angkasa kecil lainnya, selama hampir satu dekade.

C-5 Galaxy menghabiskan dana sekitar US$ 100.000 per jam  terbang. Bahkan dengan misi 24 jam, tetap lebih murah dibandingkan kebanyakan peluncuran ruang komersial dan setengah dari harga dari pgoram DARPA.

Galaxy A dapat membawa lebih dari 450.000 pon kargo. Pengiriman kargo terakhir ke ISS kurang dari 8.000 pound dan itu adalah beban terbesar yang pernah ada untuk pesawat ruang angkasa tak berawak Cygnus milik Orbital ATK.

Jenderal Everhart tampaknya tidak menyadari masalah ini.  “Ini saya berpikir keras,” katanya. “Saya tidak tahu, saya akan bertanya pada industri . Jika Anda punya ide, saya akan mengambilnya.”

Angkatan Udara Amerika tampaknya memiliki ketakutan yang semakin nyata untuk tertinggal di luar angkasa hingga konsep-konsep yang dihasilkan oleh Hollywood diadopsi untuk direalisasikan.

Apakah layanan ini akhirnya dapat membuat transportasi hipersonik berbasis ruang angkasa yang cukup terjangkau untuk pengiriman rutin yang besar setelah lebih dari enam dekade gagal mencoba melakukannya?   Dan apakah itu memang diperlukan?

Facebook Comments