For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Semakin Membingungkan, Korea Utara Kembangkan Kapal Selam Rudal Balistik Baru

KCNA

Korea Utara diperkirakan akan mengembangkan kapal selam baru yang mampu meluncurkan rudal balistik bersenjata nuklir. Hal ini semakin memunculkan kebingungan dan pertanyaan tentang komitmen Kim Jong un tentang pelucutan nuklir dan rudalnya.

Seorang anggota senior Parlemen Korea Selatan menyebut hal ini menandakan meningkatnya ancaman terhadap pasukan Amerika dan sekutu serta meningkatkan keraguan tentang janji rezim untuk melucuti senjatanya.

“Bukti yang dikumpulkan oleh militer Korea Selatan menunjukkan bahwa Pyongyang sedang mengerjakan kapal selam di pantai timurnya,” kata Kim Hack-yong, yang memimpin komite pertahanan legislatif sampai masa jabatannya berakhir beberapa minggu lalu.

Kim, yang berasal dari partai oposisi konservatif sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal Jumat 6 Juli 2018 addalah pihak yang skeptis dialog dengan Pyongyang akan membawa hasil dan  menyebutkan data intelijen yang dia miliki didapat dari para pejabat pertahanan.

Citra satelit yang ditinjau oleh pejabat intelijen Korea Selatan menunjukkan pergerakan pekerja dan material di pelabuhan Sinpo, di mana kapal selam tampaknya sedang dibangun di fasilitas dalam ruangan, kata seorang asisten Kim.

Seorang jurubicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan dia tidak dapat berkomentar mengenai rincian yang berkaitan dengan kegiatan intelijen tetapi menekankan bahwa Seoul dan Washington terus memantau fasilitas militer Korea Utara.

Para pejabat amerika menganggap program rudal balistik kapal selam milik Pyongyang merupakan ancaman karena itu akan memberi Korea Utara elemen kejutan yang lebih besar dalam meluncurkan serangan nuklir. Kedutaan Besar Amerika di Seoul tidak menanggapi permintaan untuk komentar.

Perkembangan ini datang ketika Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengunjungi Pyongyang, menambah keraguan tentang komitmen pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk denuklirisasi menyusul persetujuannya dengan Presiden Donald Trump di Singapura bulan lalu. Pernyataan bersama mereka kurang spesifik, meninggalkan ruang gerak rezim seperti apa sebenarnya denuklirisasi.

Di Pyongyang pada Jumat 6 Juli 2018, Pompeo diperkirakan akan mendesak pejabat Korea Utara untuk langkah-langkah konkret untuk mewujudkan janji-janji itu, seperti garis waktu untuk perlucutan senjata.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, citra satelit mengindikasikan Korea Utara sedang memperluas fasilitas produksi rudal dan mendirikan sebuah gedung baru di salah satu reaktor penghasil plutonium.

Kim Hack-yong juga mengatakan, Korea Utara tampaknya mempersiapkan untuk latihan militer musim panas tahunannya dan belum berhenti mengirim pesan ke mata-mata di Korea Selatan melalui pesan berkode.

“Bukti terbaru menunjukkan perlunya mempertahankan tekanan terhadap Korea Utara dan memaksa rezim untuk bernegosiasi,” kata Yang Uk, analis pertahanan utama di Forum Pertahanan dan Keamanan Korea, sebuah think tank swasta yang bermarkas di Seoul.

“Terlalu dini untuk mengatakan jika Korea Utara telah melanggar perjanjian Singapura untuk denuklirisasi,” katanya. “Tetapi citra satelit sebelumnya telah menunjukkan bukti yang cukup membuktikan bahwa Korea Utara tidak meninggalkan program SLBM-nya [rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam].”

Hwang Jin-ha, seorang pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Darat Korea Selatan dan mantan ketua komite pertahanan di badan legislatif negara itu, mengatakan dia yakin informasi terbaru dapat dipercaya.

Menurut Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Angkatan Laut Korea Utara mengoperasikan armada sekitar 70 kapal selam, bersama 430 kapal tempur permukaan. Selain itu Pyongyang juga memiliki 250 kapal amfibi dan 20 kapal penyapu ranjau.

Sedangkan Angkatan Laut Korea Selatan memiliki sekitar 10 kapal selam dengan 110 kapal tempur permukaan dan 10 kapal amfibi. Meski lebih sedikit, kapal Angkatan Laut Korea Selatan diyakini lebih canggih dibandingkan milik Korea Utara yang rata-rata sudah cukup tua.

Facebook Comments