For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Nuklir Kim dalam Bayang-Bayang Kelam Sadam Husein dan Gaddafi

Bom hidrogen Korea Utara

Korea Utara sebenarnya tidak membangun senjata nuklir untuk menghancurkan Amerika atau Korea Selatan. Ada alasan lain yang jauh lebih mengejutkan

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kerap disebut sebagai orang gila karena programnya untuk membangun bom nuklir dan rudal yang mampu meluncurkan senjata ke Amerika.

Namun para ahli mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak gila dengan menginginkan sebuah senjata nuklir. Dan Kim Jong Un sebenarnya juga tidak ingin menggunakan senjata nuklir.

“Dia tidak gila. Dia memiliki kontrol terkonsolidasi atas negara tersebut dengan cara yang sangat efektif meski kejam,” kata Jeffrey Lewis, seorang ahli kebijakan nuklir di Middlebury Institute of International Studies di Monterey kepada Business Insider Minggu 21 Januari 2018.

“Dia hanya bersedia melakukan hal-hal mengerikan untuk melindungi dirinya sendiri, yang menurut saya memberi tahu kita sesuatu tentang kredibilitas ancaman nuklir mereka.”

Ancaman semacam itu memang tujuan dari senjata, kata Lewis, namun hampir pasti bukan tujuan akhir mereka.

“Jika saya adalah Kim Jong Un, saya juga menginginkan senjata nuklir,” tambah Lewis, yang juga mempublikasikan Arms Control Wonk, sebuah situs tentang pengendalian senjata nuklir, pelucutan senjata, dan nonproliferasi.

Lalu apa alasan yang paling masuk akal kenapa Kim Jong Un menginginkan persenjataan nuklir? Lewis menilai alasan itu adalah jejak rekam Amerika sendiri.

Dia mengatakan sebuah momen penting untuk hubungan AS-Korea Utara terjadi selama pemerintahan George W. Bush pada pertengahan tahun 2000an.

“Mereka [Korea Utara] dengan tulus berusaha mengembalikan Humpty Dumpty lagi,” kata Lewis. Perundingan tersebut muncul setelah tuduhan Korea Utara melakukan kecurangan dalam kesepakatan untuk tidak mengejar produksi bahan-bahan nuklir.

Tapi salah satu masalah yang dihadapi oleh pemerintahan Bush adalah rekam jejak Amerika dengan Irak, yang sebelumnya dipimpin oleh Saddam Hussein.

“Bagaimana Anda bisa meyakinkan warga Korea Utara, ketika mereka menandatangani sebuah kesepakatan, mereka tidak berakhir seperti Saddam? Karena Saddam benar-benar memberi senjata pemusnah massal milik mereka, tetapi kami [Amerika] masih terus maju dan mengatakan bahwa mereka memilikinya, dan kami terus maju dan menyerang [Irak], ” kata Lewis.

“Amerika menyadari bahwa mereka harus menemukan cara untuk menyampaikannya kepada Pyongyang bahwa, jika mereka maju dan menghentikan program nuklirnya, ¬†Amerika tidak akan menyerang mereka [seperti Irak].”

Lewis juga menunjuk sebuah kesepakatan pemerintah Bush tentang pelucutan senjata dengan Libya

“Saya tahu mengapa mereka melakukannya pada saat itu, itu keputusan yang tepat,” kata Lewis. “Tapi kami memiliki kesepakatan pelucutan senjata dengan orang itu, kami menyuruh Korea Utara untuk melihat seberapa baik hal-hal yang telah dilakukan dengan Libya – dan kemudian kami berbalik dan menggulingkan pemerintah Libya.”

Keputusan kebijakan luar negeri ini terjadi selama pemerintahan Kim Jong Il – ayah dari Kim Jong Un – tapi anaknya belum melupakannya.

“Kim Jong Un, menurut saya, takut berakhir seperti Saddam Hussein atau Muammar Gaddafi,” kata Lewis.

“Dia takut bahwa kita akan melakukan kepadanya apa yang telah kita lakukan terhadap mereka, dan telah memutuskan bahwa senjata nuklir adalah cara terbaik untuk mencegahnya.”

Tidak mungkin Korea Utara memiliki senjata nuklir dan senjata termonuklir yang bisa diandalkan seperti yang ada di gudang senjata Amerika. Tapi Lewis mengatakan ini tidak terlalu penting dalam gambaran besarnya.

“Setiap sistem militer memiliki masalah dan masalah perkembangan, dan mungkin tidak bekerja sebaik seharusnya,” kata Lewis. “Tapi mereka memiliki semua keahlian ¬†dan mereka telah menunjukkan sebagian besar hal itu.”

Tapi senjata nuklir sebagai senjata melawan Amerika bukanlah satu-satunya alasan mengapa Korea Utara menginginkannya. Beberapa laporan menyarankan Kim Jong Un ingin menggunakan senjata nuklir untuk menguatkan Korea Selatan agar bisa melakukan reunifikasi dengan Korea Utara. Lewis meragukan hal ini benar, meski mengatakan Kim Jong Un tak pernah puas” untuk mendapatkan kekuasaan.

“Saya yakin, jika diberi pilihan antara mengendalikan Korea Utara atau Korea Utara dan Korea Selatan, dia jelas akan lebih memilih untuk mengendalikan semuanya,” kata Lewis. “Namun, saya tidak berpikir bahwa ini menjelaskan perilaku nuklir mereka.”

 

Facebook Comments