For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Tinggalkan Terorisme, Amerika Resmi Jadikan Rusia dan China Sebagai Ancaman Prioritas

James Mattis /Business Insider

Amerika Serikat telah mengubah prioritas ancaman keamanan ke China dan Rusia setelah hampir dua dekade memusatkan perhatian pada perang melawan terorisme. Hal itu terungkap dalam strategi pertahanan nasional baru yang disampaikan Menteri Pertahanan Jim Mattis Jumat 19 Januari 2018.

Strategi baru ini akan memberikan cetak biru selama bertahun-tahun yang akan datang.  Strategi baru ini sudah mulai terbaca saat muncul rancangan yang ditawarkan bulan lalu di mana Presiden Trump menggambarkan meningkatnya ancaman terhadap Amerika Serikat dari Rusia dan China dan juga dari apa yang digambarkan sebagai pemerintah nakal seperti Korea Utara Korea dan Iran.

Tidak seperti  Trump, yang secara mengatakan bahwa Rusia dan China “berusaha untuk menantang pengaruh, nilai dan kekayaan Amerika” tanpa menyebutkan campur tangan Rusia dalam pemilihan 2016, Mattis mengatakan “Bagi mereka yang akan mengancam Amerika dalam demokrasi. Jika Anda menantang kita, ini akan menjadi hari terpanjang dan terburuk Anda,” katanya.

Dalam upaya menggeser penekanan militer ke Rusia dan China setelah bertahun-tahun memerangi terorisme, pemerintah Trump menggemakan banyak pernyataan yang sama yang dibuat oleh pemerintahan Obama, yang terkenal berusaha berpatroli ke Asia setelah bertahun-tahun berperang di Irak. Namun kebangkitan ISIS,  menghentikan misi pivot Asia di tahun-tahun terakhir pemeritahan Obama.

Kini sebuah pemerintahan baru berusaha mengakhiri terorisme sebagai titik perhatian. Mattis menggambarkan peningkatan “volatilitas global dan ketidakpastian, dengan persaingan kekuatan yang besar antar negara menjadi kenyataan yang sekali lagi mereka hadapi.” Dia menyatakan kekalahan ISIS telah kalah di Irak dan Suriah.

“Kami akan terus menuntut kampanye melawan teroris, namun persaingan dengan kekuatan besar – bukan terorisme – sekarang menjadi fokus utama keamanan nasional Amerika” kata Mattis sebagaimana dilaporkan New York Times.

Namun Amerika Serikat masih berperang di Afghanistan, di mana Trump berjanji untuk tidak menetapkan tenggat waktu kapan menarik pasukan. Militer Amerika juga masih banyak berkeliaran untuk melawan kelompok yang mereka sebut sebagai teroris baik di Irak, Suriah, Yaman hingga Somalia.

Tapi karena ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat, komandan militer dan pejabat senior pertahanan Amerika  cemas mengenai apakah 16 tahun pertempuran melawan pemberontakan membuat militer tetap siap menghadapi perang darat dengan kekuatan besar.

Pejabat Pentagon mengatakan bahwa kebutuhan untuk melakukan keduanya – melawan gerilyawan dan bersiap menghadapi perang potensial di antara kekuatan besar –akan membutuhkan upaya besar dan tidak mudah. Ditambah lagi dengan ketidakpastian yang telah mengganggu anggaran Pentagon sejak 2011.

“Sekeras-kerasnya 16 tahun perang terakhir, tidak ada musuh yang telah berbuat lebih banyak untuk menyakiti kesiapan militer Amerika daripada gabungan dari pemotongan pengeluaran pertahanan anggaran, dan sembilan dari 10 operasi terakhir di bawah resolusi yang terus berlanjut, menyia-nyiakan sejumlah besar dolar pembayar pajak yang berharga, ” kata Matis.

Facebook Comments