For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Pentagon Akui Status-6 Rusia Memang Nyata

Status 6 / BBC

Dalam draft Nuclear Posture Review yang dirilis Pentagon, untuk pertama kalinya Amerika Serikat mengakui Rusia memiliki kapal selam tanpa awak nuklir yang memiliki kemampuan serangan sangat menghancurkan.

“Selain memodernisasi sistem nuklir ‘warisan’ Soviet, Rusia sedang mengembangkan dan menggelar hulu ledak nuklir dan peluncur baru,” demikian draf tinjauan postur nuklir yang diterbitkan oleh Huffington Post dan dikutip Defense News Jumat 12 Januari 2018.

Upaya ini, menurut draft tersebut mencakup beberapa peningkatan untuk setiap kaki triad nuklir Rusia dari pembom strategis, rudal berbasis laut dan rudal berbasis darat. Rusia juga mengembangkan setidaknya dua sistem jangkauan antarbenua baru, kendaraan luncur hipersonik dan torpedo bawah laut bertenaga nuklir antarbenua baru.

Sebuah bagan yang menguraikan kendaraan pengiriman nuklir Rusia yang dikembangkan selama dasawarsa terakhir ini menguraikan kemampuannya  termasuk ilustrasi kecil untuk autonomous underwater vehicle (AUV) atau kendaraan bawah laut otonom, yang disebut Status-6.

Grafik hitam dan putih yang diterbitkan Huffington Post membuat sulit untuk melihat apakah kemampuan telah digunakan. Namun, kapal selam tak berawak Rusia  yang dijuluki “Kanyon” oleh Pentagon dan mengikuti nama lengkap Ocean Multipurpose System Status-6 – telah diuji setidaknya satu kali.

Rancangan tersebut menegaskan kembali kebutuhan akan triad nuklir penuh dan tampaknya sejalan, dengan keinginan Presiden Trump.

Washington Free Beacon mengutip sumber-sumber Pentagon yang tidak disebutkan namanya melaporkan pada bulan Desember 2016 bahwa intelijen Amerika Serikat pada 27 November 2016, mendeteksi Status-6 setelah diluncurkan dari kapal selam kelas Sarov yang digunakan untuk menguji dan memvalidasi teknologi baru. Laporan Rusia menunjukkan bahwa kapal itu dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir 100 megaton.

Status-6 dibangun oleh Rubin Design Bureau, produsen kapal selam terbesar ketiga Rusia. Menurut sebuah dokumen yang sepertinya sengaja dibocorkan oleh televisi Rusia, kapal tak berawak itu memiliki jarak 6.200 mil, kecepatan tertinggi melebihi 56 knot dan bisa menyelam sampai kedalaman 3.280 kaki di bawah permukaan laut.

Kapal ini dirancang untuk diluncurkan dari setidaknya dua kelas kapal selam nuklir Rusia, termasuk kelas Oscar, yang dapat membawa empat drone Status-6 secara bersamaan.

Tinjauan postur nuklir tersebut menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat terhadap triad nuklir dari inventarisasi kapal selam rudal balistik, ICBM dan bomber nuklir. Namun belum ada kabar Pentagon tertarik untuk mengembangkan kendaraan bawah laut tak berawak yang mampu mengirimkan nuklir senjata.

 

Namun, telah muncul berbagai spekulasi bahwa pembom terbaru Angkatan Udara, B-21 yang saat ini dalam pengembangan, dapat diatur secara opsional antara berawak dan tidak berawak.

Meski pada Nuclear Posture Review akhir Pentagon dapat menghapus tentang program Status-6, tetapi sejauh ini Pentagon sepertinya mengkonfirmasi keberadaan senjata tersebut sebagai cara untuk menggambarkan apa yang dilihatnya sebagai keuntungan besar dari program senjata nuklir Rusia dalam hal keragamannya.

Tinjauan tersebut mencatat bahwa Rusia meningkatkan jumlah platform yang dapat dilengkapi baik dengan muatan nuklir atau konvensional, yang memungkinkannya untuk memperluas persenjataan nuklirnya tanpa melanggar perjanjian New START.  Rusia juga mengembangkan rudal jelajah yang diluncurkan darat dan memiliki banyak kelas kapal selam nuklir dan varietas ICBM serta rudal jelajah yang diluncurkan dari udara.

Amerika Serikat khawatir dengan kemampuan nuklir Rusia yang semakin beragam dan berkembang, terutama ditambah dengan persepsi Moskow bahwa mereka dapat melakukan serangan nuklir untuk “meningkatkan” konflik dengan pertimbangan mereka sendiri, ” tulis review tersebut. “Persepsi yang keliru ini meningkatkan prospek kesalahan kalkulasi dan eskalasi yang berbahaya.”

Facebook Comments