For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Kenapa Pembelian Su-35 Indonesia Terus Tertunda?

Su-35

Rencana Indonesia untuk membeli jet tempur Su-35 dari Rusia masih belum juga menemui titik jelas. Bahkan mungkin semakin tidak jelas.

Sementara jet tempur F-5 Tiger yang akan diganti sudah tidak bisa terbang cukup lama, belum juga ada kepastian kapan pesawat pengganti datang.

Pada bulan September 2015, Menteri Pertahanan  Ryamizard Ryacudu mengumumkan  Indonesia telah memutuskan  untuk membeli pesawat Su-35 Rusia tersebut, dengan pembicaraan dimulai pada bulan November untuk membahas rincian kesepakatan tersebut.

Namun sejak saat itu, rincian kesepakatan  telah berulang kali berubah yang menjadikan kandidat lain seperti  JAS 39 Gripen dari Swedia dan F-16 Viper dari Amerika Serikat masih belum berhenti untuk mencari celah agar bisa merebut kesepakatan.

Pekan lalu, sebuah delegasi Rusia mengunjungi Kementerian Pertahanan Indonesia  untuk membahas status proyek pertahanan yang sedang berlangsung antara kedua negara. Delegasi tersebut terdiri dari gabungan pejabat Rusia dan perwakilan pertahanan, termasuk atase pertahanan Rusia di Indonesia dan perawkilan dari Rostec dan Rosoboronexport, badan ekspor senjata negara Rusia.

Dalam pertemuan  yang berlangsung pada tanggal 3 Mei tersebut, delegasi Rusia mengemukakan status jet tempur Sukhoi Su-35, yang menunjukkan bahwa meskipun telah melewati beberapa tahap, namun belum bisa dilepas.

Menurut kementerian pertahanan Indonesia masih ada kebutuhan untuk dievaluasi dari tim pengadaan kementerian, seperti masalah offset yakni seberapa besar dana yang harus dikembalikan Rusia untuk investasi ke Indonesia dari anggaran pembelian pesawat tersebut.

Ditambahkan bahwa tim pengadaan  masih  menunggu kepastian dari kementerian perdagangan mengenai transfer perdagangan dan teknologi.

Kendala ini sepertinya akan menjadi pembicaraan yang sangat alot dan panjang. Transfer teknologi, misalnya, memang menjadi tekanan  bagi Indonesia.  Jakarta sedang  berusaha mencari akses lebih besar terhadap teknologi karena sedang berusaha membangun industri pertahanan domestiknya sendiri.

Persoalannya Su-35 adalah salah satu teknologi puncak Rusia yang masih sangat dilindungi. Dengan pembelian sekitar 12 pesawat, akan sulit bagi Indonesia untuk memiliki nilai tawar dalam hal transfer teknologi.

Berkaca pada China yang membeli dua lusin jet tempur ini saja, pembicaraan berlangsung sangat lama dan Rusia tetap ngotot tidak memberikan akses teknologi kunci.

Meski Indonesia dan Rusia menyebut pertemuan terakhir menjadi sebuah kemajuan, tetapi menyelesaikan masalah ini akan sangat tidak mudah. Mungkin akan panjang dan yang dikhawatirkann justru ujungnya adalah bukan sebuah kesepakatan. Dengan kata lain, akhirnya Su-35 tidak akan terbang ke Indonesia.

Baca juga:

Benarkah Su-35 akan Berefek Besar pada Kekuatan Udara Indonesia

Facebook Comments