Diduga Ingin Sabotase Pertemuan Kim-Trump, Penasihat Keamanan Gedung Putih ini Disingkirkan
John Bolton

Diduga Ingin Sabotase Pertemuan Kim-Trump, Penasihat Keamanan Gedung Putih ini Disingkirkan

Penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump, John Bolton yang dikenal sebagai sosok hawkish (menyukai perang) telah  membuat marah Korea Utara dengan komentar yang aneh dan mengancam rencana denuklirisasi pada bulan Mei. Kini sosok tersebut sepertinya telah disingkirkan dari pembicaraan penting tersebut.

Ketika Trump bertemu dengan pejabat Korea Utara Kim Yong Chol di Gedung Putih baru-baru ini, hanya Menteri Luar Negeri Mike Pompeo yang hadir. Bolton, tidak terlihat hadir.

Alasannya kemungkinan besar adalah komentar Bolton pada bulan Mei bahwa Amerika sedang melihat “model Libya” untuk denuklirisasi Korea Utara.

Pemimpin Libya Muammar Gaddafi dibunuh oleh pemberontak selama konflik dengan campur tangan Amerika beberapa tahun setelah Libya membongkar program nuklirnya. Komentar Bolton secara luas dipahami menyiratkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga akan segera menemui ajalnya.

Korea Utara segera merespons setelah dengan menyerang Bolton dan mengatakan mereka tidak bisa menyembunyikan kemarahannya atas komentar tersebut.

Kini Pompeo telah mengatakan kepada Trump tidak mengizinkan Bolton untuk bertemu dengan pejabat Korea Utara agar tidak kontraproduktif.

“Ada ketegangan yang cukup besar di antara mereka sejak itu,” lapor CNN mengutip sumber Selasa 5 Juni 2018.

Bolton tidak pernah mengungkapkan harapan banyak pada pertemuan puncak antara Trump dan Kim Jong Un, dan kini muncul banyak pendapat dari para ahli kemungkinan dia mencoba untuk menyabotase KTT yang akan digelar 12 Juni di Singapura tersebut.

Korea Utara dan Libya adalah tempat yang sangat berbeda, dengan program dan sistem senjata yang berbeda, dan Bolton kemungkinan besar akan tahu bahwa membandingkan dengan Libya akan membuat marah Pyongyang.

Bolton, yang telah mengisyaratkan bahwa dia tidak mempercayai pemimpin Korea Utara dan meyakini Amerika membuang-buang waktu dengan diplomasi yang tidak produktif.