Ketegangan Sedang Mendidih, Pasukan Amerika Tiba di Israel

Ketegangan Sedang Mendidih, Pasukan Amerika Tiba di Israel

Pasukan Amerika tiba di Israel di tengah ketegangan dengan kelompok Hizbullah bergerak ke titik didih.

Pasukan Amerika tiba di Israel untuk ambil bagian dalam Juniper Cobra, sebuah latihan militer utama dua tahunan. Jerusalem Online melaporkan Kamis 1 Februari 2018, pada Juniper Cobra yang terakhir pada tahun 2016, lebih dari 3.000 tentara Amerika ikut ambil bagian.

Menurut Channel 10 News Agency latihan tersebut akan dilakukan skenario adanya serangan rudal simultan besar-besaran terhadap Israel dari front selatan dan utara.

Latihan tahun ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Hizbullah yang berbasis di Lebanon, yang mengancam akan menembakkan rudal ke Israel jika tidak berhenti membangun tembok di perbatasan Lebanon.

Sementara itu, menteri energi Lebanon, Cesar Abi Khalil, mengklaim bahwa negaranya akan mengeksplorasi minyak dan gas di dekat perbatasan maritimnya dengan Israel. Wilayah ini telah diklaim oleh Tel Aviv, sebuah tindakan yang memicu kecaman besar-besaran di seluruh dunia Arab.

Di Depan Institut Studi Keamanan Nasional di Universitas Tel Aviv pada Rabu, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengatakan bahwa rencana terbaru Lebanon untuk mengebor ladang minyak dan gas lepas pantai yang disengketakan yang dikenal sebagai Blok 9 sebagai tindangan “sangat, sangat menantang dan provokatif.

Dalam pidato yang sama, menteri sayap kanan ubu mengancam akan melakukan perang skala penuh melawan Libanon jika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel.

“Tidak seperti Perang Lebanon 2006, tidak mungkin ada gambar penduduk Beirut di pantai sementara orang-orang di Tel Aviv duduk di tempat penampungan. Jika [orang-orang] di Israel duduk di tempat penampungan selama perang berikutnya, semua orang Beirut akan berada di tempat penampungan,” kata Lieberman sebagaimana dilaporkan Reuters.

Pada 28 Januari 2018, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel Ronen Manelis juga memperingatkan oposisi Lebanon bahwa perang dengan Israel dapat menghancurkan Beirut dan mengizinkan Iran untuk mengembangkan rudal presisi di negara tersebut.

“Ini bukan lagi transfer senjata, dana atau konsultasi. Iran secara de facto telah membuka cabang baru, ‘cabang Lebanon’ Iran ada di sini,” tambahnya.

Menurut penilaian Angkatan Pertahanan Israel, Hizbullah memiliki persenjataan setidaknya 100.000 roket jarak pendek dan beberapa ribu lebih rudal yang bisa menjangkau Israel tengah. Selain jumlah besar roket dan rudal, Hizbullah mampu memobilisasi hampir 30.000 pejuang.