Angkatan Udara Amerika Serikat bergerak cepat untuk mengejar strategi pengembangan perangkat lunak baru untuk F-22 Raptor. Perangkat lunak baru ini diperlukan untuk melengkapi pesawat tempur siluman tersebut dengan sensor, radar dan avionik yang lebih baik, prosesor komputer yang lebih cepat dan teknologi senjata yang sangat meningkat.
Strategi akuisisi, yang disebut Raptor Agile Capability Release (RACR), dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Udara Heather Wilson dan berorientasi pada implementasi upgrade perangkat keras dan perangkat lunak baru dengan cepat guna menjaga F-22 tetap ada di depan pesawat tempur yang lain.
Angkatan Udara sekarang beralih ke upgrade perangkat lunak F-22 ke 3.2B baru yang direkayasa untuk memungkinkan teknologi senjata yang meningkat. “Upgrade akan meningkatkan tingkat membunuh F-22 dengan menggunakan AIM-120D dan AIM-9X,” kata Kapten Emily Grabowski, juru bicara Angkatan Udara kepada Warrior Maven.
Saat ini sedang dilakukan pengujian penembakan senjata ini di area uji Eglin, Nellis, Hill, dan Tyndall Air Force Base.
Meski tentu saja Angkatan Udara tidak menentukan ancaman atau musuh tertentu, semua pasti paham bahwa upaya ini dilakukan karena pertahanan udara Rusia yang terus berkembang dengan cepat dan lebih baik serta pengembangan jet tempur siluman China.
“Kami membutuhkan program untuk pergi cukup cepat guna menghadapi ancaman yang akan dihadapi Raptor di masa depan. Kami mengubah struktur kontrak kami dan mengambil beberapa risiko sehingga Angkatan Udara dapat memprioritaskan hal-hal yang mereka inginkan di jet. Kami ingin menambahkan kemampuan secara bertahap ke pesawat ini, ” kata Ken Merchant, Vice President Program F-22, Lockheed, mengatakan kepada Warrior Maven dalam sebuah wawancara dan dikutip National Interest Kamis 1 Februari 2018.
Grabowski menambahkan bahwa tahap pengujian dan evaluasi operasional dijadwalkan untuk selesai pada musim panas tahun ini.
“Mengintegrasikan perangkat lunak dan perangkat keras baru ke dalam sistem senjata merupakan tantangan yang memerlukan pengujian ekstensif. Lebih dari 500.000 baris kode telah dimodifikasi atau ditambahkan untuk mendukung modifikasi perangkat keras yang dilakukan pada pesawat terbang,” kata Grabowski.
Perangkat lunak 3.2B akan meningkatkan fungsionalitas F-22 untuk membawa rudal udara ke udara AIM-120D dan AIM-9X Air dan meningkatkan teknologi lokasi target udara ke darat. F-22 saat ini membawa AIM-9X Block 1 dan upgrade akan memungkinkan Raptor menggendong AIM-9X Block 2.
Raytheon pengembang senjata AIM-9X menjelaskan bahwa varian Block 2 menambahkan desain ulang dan perangkat pengaman penmebakan digital yang meningkatkan penanganan di darat dan keselamatan dalam penerbangan.
Block II juga dilengkapi dengan perangkat elektronik mutakhir yang memungkinkan peningkatan yang signifikan, termasuk kemampuan lock-on-after-launch menggunakan datalink senjata baru untuk mendukung jangkauan jarak jauh.
Bagian lain dari upgrade senjata termasuk rekayasa F-22 untuk menembakkan AIM-120D, yang merupakan rudal luar visual Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile (AMRAAM). Senjata ini dirancang untuk bereoperasi di semua cuaca dan malam hari. “ini adalah rudal fire and forget dengan panduan radar pancar aktif,” Raytheon menyatakan.
AIM-120D dibangun dengan upgrade ke rudal AMRAAM sebelumnya dengan meningkatkan jangkauan serangan, navigasi GPS, unit pengukuran inersia dan data link dua arah, demikian pernyataan Raytheon menjelaskan.
Merchant tidak banyak menjelaskan tentang pengujian yang sedang berlangsung namun mengatakan bahwa sistem senjata itu “berjalan sesuai rencana.”
Merchant mengatakan bahwa pendekatan perangkat lunak tangkas itu, antara lain, bertujuan untuk membantu F-22 mempertahankan teknologi “first look, first shot, first kill” (melihat pertama, menembak pertama, membunuh pertama).
Strategi akuisisi yang berkembang pesat memungkinkan pengembang menambahkan kode komputer baru pada tingkat yang jauh lebih cepat.
Upaya yang dipercepat ini juga dimaksudkan untuk membuka jalan menuju dan update mid-life F-22 yang direncanakan pada tahun 2024. Idenya adalah memastikan pesawat era 80-an dan 90-an akan tetap unggul dan mampu mendominasi udara sampai tahun 2045, bahkan lebih lama lagi.
Mengaktifkan interoperabilitas yang lebih besar antara F-22 dan platform lainnya seperti pesawat F-35 atau jet tempur generasi keempat seperti F-16 adalah bagian penting dari proses modernisasi perangkat lunak. Ini mencakup integrasi link data LINK 16 yang memungkinkan F-22 mentransmisikan data penargetan tanpa memerlukan radio. Pengujian tambahan LINK 16 untuk menguhubugnkan F-35 dan F-22 direncanakan akan berlangsung tahun 2019 dan 2020.
Pertama beroperasi pada tahun 2005, F-22 adalah pesawat tempur multi peran yang dirancang dengan teknologi siluman untuk menghindari deteksi radar musuh serta kemampuan super cruise yakni kemampuan untuk melakukan penerbangan supersonik tanpa perlu afterburner.
Kemampuan ini sangat ditentukan oleh dua mesin turbofan Pratt & Whitney F119-PW-100 yang digunakan pesawat ini. Pesawat ini memiliki lebar sayap 44 kaki dan berat lepas landas maksimum lebih dari 83.000 pound.

