Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir penjualan senjata di seluruh dunia mengalami kenaikan. Perang yang masih terus berkecamuk di berbagai daerah serta ketegangan tinggi di sejumlah titik bumi disinyalir menjadi pendorong peningkatan penjualan senjata ini.
Data yang dikeluarkan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Senin 11 Desember 2017 menunjukkan penjualan senjata pada 2016 mencapai US$374,8 miliar atau sekitar Rp5.079 triliun. Angka ini naik 1,9 persen dari total penjualan pada 2015.
SIPRI mengatakan kenaikan penjualan senjata tahun lalu merupakan yang pertama kalinya terjadi kenaikan setelah lima tahun berturut-turut mengalami penurunan.
Perusahaan senjata Amerika menyumbang 58 persen dari seluruh penjualan senjata dengan total US$ 217,2 miliar dollar (sekitar Rp2.943 triliun) pada tahun 2016 yang meningkat 4 persen dari tahun sebelumnya.
“Operasi militer Amerika di luar negeri dan juga akuisisi sistem senjata besar oleh negara lain telah mendorong kenaikan ini,” kata SIPRI dalam situs resminya.
Lockheed Martin yang berbasis di Amerika masih belum terkalahkan dalam hal penjualan senjata yang mengalami kenaikan sebesar 10,7 persen.
“Dengan akuisisi produsen helikopter Sikorsky pada akhir 2015 dan volume pengiriman pesawat tempur F-35 yang lebih tinggi, Lockheed Martin melaporkan pertumbuhan penjualan senjata yang signifikan pada tahun 2016,” kata Aude Fleurant, Direktur Program Senjata dan Pengeluaran Militer SIPRI.
Penjualan senjata Rusia juga mengalami peningkatan 3,8 persen dengan total mencapai US26,6 miliar atau sekitar Rp361 triliun pada tahun 2016. Namun laju pertumbuhan produsen senjata Rusia telah melambat karena masalah ekonomi negara tersebut.
Brasil, India, Korea Selatan dan Turki dikategorikan sebagai “produsen baru” senjata karena mereka meningkatkan output dan pangsa industri persenjataan senjata di seluruh dunia.
“Persepsi meningkatnya ancaman mendorong akuisisi peralatan militer Korea Selatan, dan semakin beralih ke industri persenjataannya sendiri untuk memenuhi permintaan senjata,” kata Peneliti Senior SIPRI Siemon Wezeman. “Pada saat yang sama, Korea Selatan bertujuan untuk mewujudkan tujuannya untuk menjadi eksportir senjata besar di dunia.”

