Dalam enam tahun ke depan, militer Amerika serikat dan mitra koalisinya akan menginvestasikan dana sekitar US$ 7 miliar atau sekitar Rp95 triliun untuk menambah kekuatan angkatan udara Afghanistan. Salah satunya meningkatkan armada pesawat mereka menjadi dua kali lipat dari yang ada saat ini.
Brigadir Jenderal Phillip Stewart, Komandan Angkatan Udara Amerika yang bertanggung jawab pada misi Train, Advise, Assist Command-Air (TAAC-Air) NATO di Afghanistan berdasarkan rencana saat ini, NATO ingin meningkatkan personel angkatan udara Afghanistan dari 8.000 menjadi 12.000 orang dan menambahkan armada pesawat dari 124 yang ada sekarang menjadi 259 pesawat
Kepada Defense News dalam wawancara 9 November 2017 dia mengatakan perombakan itu tidak hanya menambah pesawat tempur A-29 Super Tucano, namun helikopter UH-60FFF dan pesawat komersial yang dimodifikasi untuk misi pengawasan.
Ketika Amerika Serikat menyerang Afghanistan pada tahun 2001, kemampuan tempur udara negara tersebut telah mengalami keruntuhan sejak masa jayanya di tahun 1970an. Kala itu Afghanistan menerima banyak peralatan dan pelatihan dari Rusia.
Pada tahun 2001, militer Afghanistan tidak memiliki satupun pesawat terbang dan tidak ada pilot aktif. “Mereka masih memiliki beberapa perwira namun mereka masuk ke Angkatan Darat,” kata Stewart.
Dengan bantuan NATO, Afghanistan kini telah memiliki 24 pesawat C-208 angkutan udara ringan, empat pesawat pengangkut kargo dan pasukan C-130, 24 helikopter MD-530, 19 A-29 dan dua helikopter UH-60 Black Hawk. “Dua Black Hawks lainnya dijadwalkan dikirim bulan ini,” kata Stewart.
Selain itu militer Afghanistan juga mengoperasikan 45 helikopter Mi-17 dan empat helikopter tempur Mi-35 buatan Rusia.
Tahun depan, angkatan udara Afghanistan akan menerima satu lagi platform baru yakni AC-208, versi militer dari Caravan Cessna yang akan dilengkapi dengan paket intelijen, pengawasan dan pengintaian. Angkatan Udara Amerika pada bulan September memberikan nOrbital ATK sebuah kontrak senilai hingga US$ 69,4 juta untuk menghasilkan pesawat yang dimodifikasi tersebut.
Perusahaan tersebut dijadwalkan untuk mengirimkan tiga AC-208 tahun depan, dan pilot Afghanistan telah menjalani pelatihan sehingga mereka siap terbang ke pertempuran dalam waktu dekat.
“Itu akan menjadi burung pengintai mereka. Mereka tidak memiliki pengintaian sekarang. Itu akan menjadi gamechanger untuk mereka, ” katanya.
Pesawat tersebut akan memungkinkan untuk menembak roket yang dipandu laser yang saat ini hanya bisa menjatuhkan bom pintar dari A-29.
Setelah 2018, Orbital akan mengirimkan sekitar enam AC-208 setahun sampai akhir 2023 hingga akhirnya Angkatan Udara Afghanistan akan memiliki total 32 pesawat ISR.
Beberapa ratus Black Hawks juga akan terbang ke angkatan udara Afghanistan dari sekarang sampai 2022. Sebanyak 259 UH-60 pada akhirnya akan menjadi bagian dari Angkatan Udara Afghanistan. Alih-alih membeli Black Hawks baru dari Lockheed Martin, militer AS memberi Afghanistan model-A yang diproduksi ulang dengan mesin UH-60L, yang akan membantu meningkatkan kemampuan helikopter untuk terbang di lingkungan yang tinggi dan panas.
Sebanyak 58 helikopter tersebut akan menjadi versi UH-60FFF yang lebih mematikan dengan roket dan senapan kaliber 50.”Kami melatih pilot Afghanistan yang pertama sekarang,” katanya.
Helikopter akan datang hampir dua unit per bulan selama lima atau enam tahun ke depan. “Kami akan melatih kru untuk menerbangkan [mereka]. Itulah salah satu pekerjaan utama kami saat ini, untuk melatih awak pesawattersebut. Dan mereka akan berperang dalam pertarungan berikutnya.”
Pada akhir 2020, UH-60 akan melakukan bagian terbesar misi yang saat ini dilakukan oleh Mi-17 yang menua di Afghanistan. Jumlah Mi-17 akan terus berkurang dari 35 pada tahun 2018 sampai 15 pada tahun 2020 sebelum semuanya akan disingkirkan pada akhir tahun 2021.
Sementara itu helikopter pengintai ringan MD-530, yang dibuat oleh MD Helicopters, juga akan terus berdatangan. Perusahaan tersebut akan mengirimkan 10 helikopter lagi pada 2018 dan 20 lagi pada 2019, yang mendorong jumlah yang dimiliki Afghanistan menjadi 55 MD-530.
Militer Afghanistan juga akan mendapatkan lebih banyak pesawat serangan A-29 dalam beberapa tahun ke depan. Pada bulan Oktober, Sierra Nevada Corp dan Embaer yang membangun pesawat ini mengumumkan bahwa Angkatan Udara Amerika telah memberikan kontrak senilai US$174,5 juta untuk enam pesawat beserta suku cadang dan pelatihan.
Kontrak sebelumnya senilai $ 427 juta yang didanai oleh Amerika meminta total 20 pesawat turboprop A-29 dikirim ke Afghanistan pada 2018. Denga kontrak baru ini maka nantinya ada 26 pesawat turbropops tersebut yang akan terbang dengan pilot Afghanistan.
Stewart mengatakan bahwa, berdasarkan strategi NATO saat ini, tidak ada rencana untuk menambah pesanan A-29 untuk Afghanistan saat ini.


