China: Kami Tidak Takut Ada Masalah di Laut China Selatan

China: Kami Tidak Takut Ada Masalah di Laut China Selatan

China menolak tekanan dari Amerika Serikat untuk menghentikan kegiatannya di Laut China Selatan pada Minggu, mengutarakan kembali kedaulatan mereka di sebagian besar wilayah sengketa itu dan mengatakan bahwa mereka “tidak takut akan adanya masalah”.

Pada hari terakhir dari konferensi keamanan terbesar Asia di Singapura, Laksamana Sun Jianguo mengatakan bahwa China tidak akan diancam, termasuk atas sebuah pengadilan internasional yang sedang ditunda terkait klaim mereka di jalur perdagangan penting itu.

“Kami tidak membuat masalah, namun kami tidak takut akan adanya masalah,” Sun mengatakan dalam Dialog Shangri-La itu.

“China tidak akan menanggung konsekuensinya, ataupun tidak akan mengizinkan adanya pelanggaran apapun terhadap kedaulatan dan kepentingan keamanannya, atau tetap diam terhadap sejumlah negara yang menimbulkan kekacauan di Laut China Selatan”.

China dan Amerika Serikat telah saling tuduh memiliterisasi perairan itu, saat Beijing melakukan reklamasi lahan dan pembangunan besar-besaran di sejumlah wilayah sengkera itu, sementara Washington meningkatkan kegiatan patroli dan latihan militer.

Pada Sabtu, para pejabat tinggi Amerika Serikat termasuk Menteri Pertahanan, Ash Carter, memperingatkan China atas resiko pengasingan dirinya secara Internasional dan menawarkan untuk tetap menjadi penjamin keamanan Asia utama selama beberapa dasawarsa.

Meskipun adanya pernyataan kekhawatiran dari sejumlah negara seperti Jepang, India, Vietnam dan Korea Selatan, Sun menyangkal prospek pengasingan, mengatakan bahwa banyak negara Asia yang hadir dalam Dialog Shangri-La itu “lebih hangat” dan “lebih bersahabat” terhadap China dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kami tidak diasingkan dulunya, kami tidak diasingkan hari ini dan kami tidak akan diasingkan ke depannya,” Sun mengatakan.

“Sebenarnya saya khawatir bahwa sejumlah kalangan dan negara masih memandang China dengan pemikiran dan penilaian ala Perang Dingin. Mereka mungkin membangun dinding dalam pemikiran mereka dan berakhir mengasingkan diri mereka sendiri,” tambahnya.

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mendesak Beijing untuk tidak memberlakukan sebuah wilayah identifikasi pertahanan udara (ADIZ) di atas Laut China Selata, seperti yang mereka lakukan di Laut China Timur pada 2013 lalu.

“Kami akan mempertimbangkan sebuah ADIZ, di atas sebagian Laut China Selatan sebagai sebuah langkah yang provokatif dan mengancam, yang secara otomatis dapat meningkatkan ketegangan dan menuntut adanya pertanyaan terkait komitmen China untuk mengatur sengketa wilayah Laut China Selatan secara diplomatis,” Kerry mengatakan pada saat melakukan kunjungan ke Mongolia.

Sun mengatakan bahwa China ingin menyelesaikan perselisihannya dengan Filipina secara bilateral dan mengatakan bahwa mereka terbuka untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden Rodrigo Duterte.

Duterte mengatakan pada Kamis bahwa dia tidak akan menyerahkan hak-hak negaranya atas wilayah Scarborough Shoal di Laut China Selatan yang disengketakan, wilayah itu direbut oleh China pada 2012.

China mengklaim hampir keseluruhan wilayah laut itu, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim yang bertabrakan, sebuah wilayah dimana kapal-kapal perdagangan mengarunginya dengan muatan senilai triliunan dolar Amerika tiap tahunnya.

“China memiliki kesabaran dan kebijaksanaan untuk menyelesaikan perselisihan apapun dengan cara berdialog. Kami juga meyakini bahwa para negara yang terkait memiliki kebijaksanaan dan kesabaran untuk melakukan aksi damai,” Sun mengatakan. “Saya selalu percaya bahwa berjabat tangan lebih baik daripada kepalan yang berbenturan”.

Wakil Menteri Pertahanan Vietnam, Nguyen Chi Vinh, memperingatkan adanya “kecenderungan yang turun dalam keamanan” di Laut China Selatan.

“Jika tidak dibahas secepat mungkin dan sukses, masalah itu diperkirakan akan berujung kepada persaingan persenjataan, persaingan strategis para kekuatan dengan konsekuensi yang sangat merusak dan tidak dapat diprediksi,” Vinh mengatakan.