For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Penuh Masalah, Pentagon Batalkan Program Pertahanan Rudal Senilai Rp83 Triliun

Raytheon

Pentagon membatalkan kontrak multi-miliar dolar dengan Boeing untuk membangun pencegat rudal balistik baru yang dikenal sebagai  Redesigned Kill Vehicle, menghentikan upaya yang telah penuh dengan masalah dan membuat kemarahan pejabat pertahanan.

Keputusan Michael Griffin, Wakil Menteri Pertahanan Amerika Bidang Riset dan Teknik untuk membatalkan program RKV mulai berlaku Kamis 22 Agustus 2019.

“Mengakhiri program adalah hal yang harus dilakukan,” kata Griffin dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip Breaking Defense.

“Program pengembangan terkadang menemui masalah. Setelah melakukan uji tuntas, kami memutuskan jalur yang akan kami lewati tidak akan membuahkan hasil, jadi kami tidak akan melewati jalan itu lagi. Keputusan ini mendukung upaya kami untuk mendapatkan nilai penuh dari setiap dolar pembayar pajak masa depan yang dihabiskan untuk pertahanan. ”

RKV adalah program teknologi ambisius senilai US$ 5,8 miliar atau sekitar Rp 83 triliun yang dipimpin oleh Boeing untuk meningkatkan Exo-Atmospheric Kill Vehicle atau EKV yang dibangun Raytheon. Keduanya adalah pencegat berbasis darat yang dirancang untuk melindungi Amerika dari serangan rudal balistik jarak jauh.

RKV adalah program teknologi ambisius senilai US$ 5,8 miliar yang dipimpin oleh Boeing meskipun sebenarnya Raytheon yang membangun Kill Vehicle. Program ini untuk meningkatkan menjadi Exo-Atmospheric Kill Vehicle, atau EKV untuk menghancurkan rudal balistik jarak jauh saat mereka masih di luar angkasa.

Loading...

Tidak jelas apa langkah selanjutnya untuk menggantikan EKV, tetapi pejabat pertahanan mengatakan mereka tidak mengharapkan ada penundaan rencana perluasan sistem Ground-based Midcourse Defense (GMD) dari 44 menjadi 64 pencegat yang berbasis di California dan Alaska di tahun-tahun mendatang.

Apa pun yang terjadi selanjutnya, Boeing dan Raytheon kemungkinan akan terlibat karena sejarah panjang mereka dalam pertahanan rudal. Dalam sebuah wawancara bulan lalu, Mitch Stevison, wakil presiden segmen Strategic and Naval Systems Raytheon mengatakan bahwa perusahaan memandang bisnis kill vehicle sebagai hal yang penting, “Kami adalah satu-satunya perusahaan yang memiliki pabrik yang khusus membuat kill vehicle.”

Juru bicara Badan Pertahanan Rudal Mark Wright mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa keputusan untuk mengakhiri program tersebut menggarisbawahi pentingnya penelitian, pengembangan, pengujian dan proses evaluasi yang memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah sebelum mereka dijalankan. “Kami akan mengambil pelajaran dari program yang dihentikan dan menerapkannya selama kompetisi baru. ”

Pengembangan senjata ini telah mengalami masalah bertaun-tahun. Badan Pertahanan Rudal mengatakan pada tahun 2016 ketika memulai program RKV bahwa ia mengharapkan uji terbang pertama pada tahun 2019, dengan operasi pada tahun 2020. Perkiraan terbaru, yang dirilis awal tahun ini dengan permintaan anggaran tahun anggaran 2020, mendorong target ke 2025.

 

Loading...
Facebook Comments