For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Taliban Batalkan Perundingan Damai dengan Amerika

Taliban/ Aljazeera

Upaya menuju perdamaian Afghanistan kembali menabrak dinding tebal setelah Taliban memutuskan untuk membatalkan pembicaraan perdamaian dengan para pejabat Amerika Serikat yang sedianya digelar di Qatar pekan ini.

Taliban dalam pernyataannya Selasa 8 Januari 2019 beralasan ada ketidaksepakatan agenda, terutama menyangkut keterlibatan para pejabat Afghanistan serta kemungkinan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Sebelumnya, pembicaraan perdamaian dijadwalkan akan digelar mulai Rabu 9 Januari 2019 selama dua hari, menurut pernyataan beberapa pejabat Taliban kepada Reuters.

Namun, kelompok gerilyawan itu menolak para pejabat “boneka” Afghanistan bergabung dalam pembicaraan.

Seorang nara sumber di Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa para pejabat Amerika telah bersikeras agar Taliban bertemu dengan para pejabat Afghanisan di Qatar. Sumber itu mengatakan “kedua pihak tidak setuju soal menyatakan gencatan senjata pada 2019.”

Seorang pemimpin Taliban sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan di Qatar, yang seharusnya akan menjadi putaran keempat dengan Khalilzad, akan membahas masalah penarikan pasukan Amerika, pertukaran tahanan serta pencabutan larangan bepergian bagi para pemimpin Taliban.

Sumber-sumber di Taliban mengatakan mereka meminta Amerika membebaskan 25.000 tahanan dan, sebagai imbalannya, mereka akan membebaskan 3.000 tahanan. Tapi, pejabat-pejabat Amerika dikabarkan tidak ingin membahas pertukaran tahanan pada tahap ini.

Duta Besar Amerika di Kabul John Bass pada Rabu mencuit bahwa laporan-laporan soal pembicaraan antara Amerika dan Taliban “tidak akurat”.

“Taliban perlu berbicara kepada sesama rakyat Afghanistan seperti layaknya mereka berbicara kepada media,” katanya.”

Pernyataan terpisah yang dicuitkan oleh Kedutaan Besar Amerika untuk Afghanistan menekankan bahwa pembicaraan antara pihak-pihak Afghanistan sangat penting dilakukan guna dapat menyelesaikan konflik.

Departemen Luar Negeri Amerika kemudian mengumumkan bahwa Utusan Khusus Amerika untuk Rekonsiliasi Afghanistan Zalmay Khalilzad akan memimpin delegasi antarlembaga ke India, China, Afghanistan dan Pakistan mulai 8 Januari.

Delegasi itu akan melakukan pertemuan dengan para pejabat tinggi pemerintah setiap negara untuk “memudahkan penyelesaian politik antara pihak-pihak Afghanistan”.

Kementerian Luar Negeri Amerika mengatakan Khalilzad terus mengkoordinasikan upayanya dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah serta pihak-pihak terkait lainnya di Afghanistan.

“Tujuan AS adalah untuk memajukan dialog di antara pihak-pihak di Afghanistan soal bagaimana mengakhiri konflik, serta mendorong mereka berkumpul di meja perundingan guna mencapai penyelesaian politik,” bunyi pernyataan itu.

Perang di Afghanistan merupakan intervensi militer Amerika paling lama di luar negeri. Perang tersebut telah membuat Washington mengeluarkan hampir US$1 triliun atau lebih dari Rp 14.000 triliun serta menewaskan puluhan ribu orang.

Laporan bulan lalu, bahwa Presiden Donald Trump akan menarik ribuan tentara Amerika dari Afghanistan, telah memunculkan ketidakpastian di Kabul. Afghanistan bergantung pada Amerika Serikat serta negara-negara kuat lainnya untuk mendapat bantuan dan pelatihan militer.

Facebook Comments