For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Laut Sangat Luas, Kok Kapal Bisa Sampai Tabrakan?

Sebuah frigate canggih milik Angkatan Laut Norwegia KNM Helge Ingstad rusak parah setelah bertabrakan dengan kapal tanker Sola TS Kamis 8 November 2018. Tabrakan terjadi di Hjeltefjord dekat Bergen setelah kapal mengikuti latihan bersama NATO.

Ini bukan kali pertama terjadi tabrakan kapal.  Pada tahun 2017, dua kapal perang Amerika juga mengalmai tabrakan, termasuk perusak Kelas Arleigh Burke, USS Fitzgerald yang terlibat dalam insiden besar dengan kapal kontainer ACX Crystal.

Kerap muncul pertanyaan, lautan sangat luas dan dua kapal berukuran besar hingga bisa dilihat dari jarak yang cukup jauh, lalu kenapa sampai bisa terjadi tabrakan?

Bryan McGrath, mantan kapten Angkatan Laut yang pernah memimpin destroyer Kelas Arleigh Burke USS Bulkeley dalam sebuah artikel di War on the Rocks beberapa waktu lalu menjelaskan betapa sulitnya menavigasi kapal satu dengan yang lain.

USS Fitzgerald rusak akibat tabrakan

“Rules of the road” bagi kapal untuk menghindari tabrakan sudah ada, tapi disitulah analogi mobil berakhir.  Di laut tidak ada ‘jalan’ dan kapal saling mendekati satu sama lain dari segala arah, pada jarak yang jauh melampaui apa yang bisa dilihat mata telanjang.  Terlebih lagi, kapal-kapal ini tidak berhenti atau berubah dengan mudah.

“Kapal-kapal besar tidak berbalik atau berhenti sama sekali. Sebuah kapal dagang seberat 29.000 ton yang menempuh 15 knot membutuhkan waktu lama untuk berhenti atau melambat, dan radiusnya untuk berbelok cukup besar,” tulis McGrath dalam War on the Rocks.

Menurutnya dengan menggunakan formula dari sumber ABS, standar International Maritime Organization (IMO)  untuk kapal kontainer yang terlibat dalam tabrakan ini nampaknya sekitar 2,5 mil laut untuk berhenti (pada 15 knot) dan radius putar  lebih dari setengah mil.

“Destroyer 9000 ton yang cukup gesit, tapi pemahaman bahwa kami seperti mobil tidak bisa diterapkan. Keputusan untuk menghindari tabrakan harus  jauh lebih awal dan pada jarak yang jauh lebih jauh daripada  mobil, dan semakin lama keputusan tersebut tertunda, semakin sedikit pilihan untuk menghindari tabrakan,” tambahnya.

Dalam sebuah kecelakaan mobil, titik di mana manuver  mobil  untuk menghindari tabrakan terjadi dalam milidetik sebelum benturan, namun titik itu tercapai dalam puluhan detik atau lebih sebelum benturan antara kapal. Tanpa tindakan awal, yang bisa dilakukan kapal  adalah mencoba dan meminimalkan sudut benturan.

McGrath juga memaparkan beberapa pengalamannya sendiri di mana terkadang sinyal di laut, karena cuaca atau kondisi lokal lainnya, tidak bekerja, menyebabkan gambar yang tidak lengkap.

Menurut McGrath faktor manusia adalah variabel besar kecelakaan selain cuaca dan juga teknologi kapal itu sendiri.

Facebook Comments