For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Suriah, Tanah Tua Yang Penuh dengan Jejak Perang

suriah-map

Pertempuran Homs

Setelah Ottoman mengalahkan penguasa Mamluk Mesir dalam Pertempuran Marj Dabiq pada tahun 1516, kekuasaan Turki atas Mesir dan Suriah dimulai selama lebih dari 300 tahun. Namun, setelah Napoleon menginvasi Mesir, wilayah ini menjadi de facto independen di bawah gubernur Ottoman Muhammad Ali pada tahun 1805.

Ambisi Muhammad Ali meluas melampaui sekedar mengendalikan Mesir. Dia mengatakan, “Saya sangat menyadari bahwa Kekaisaran Ottoman sedang menuju kehancuran. Pada reruntuhannya saya akan membangun sebuah kerajaan besar hingga Efrat dan Tigris.” Tentu saja, ini berarti menyerang Suriah, baik dalam rangka untuk mengambil alih Levant dan untuk sampai ke Konstantinopel.

Pada 1831, tentara Mesir di bawah Ibrahim Pasha, putra Muhammad Ali, bergerak ke Suriah, merebut semua kota-kota utama. Tentara Ottoman bertemu tentara Mesir di Homs pada 9 Juli 1832. Mesir  menggunakan persenjataan yang unggul dan telah dilatih penasihat Eropa.

Tentara Ottoman, yang terdiri dari empat resimen infanteri, tiga resimen kavaleri dan 15.00 laskar, hancur, dengan 2.000 tewas dan 3.000 ditawan.

Mesir mempertahankan kontrol dari Suriah di tengah kemenangan lebih lanjut, dan upaya Ottoman untuk merebut kembali Suriah gagal pada tahun 1839.

Setelah upaya ini, seluruh angkatan laut Ottoman membelot ke Muhammad Ali dan tampak seolah-olah Kekaisaran Ottoman akan runtuh. Namun, dalam rangka untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan di kawasan itu, Inggris dan Rusia turun tangan menopang Ottoman dan mendorong mundur  Mesir dari Suriah.  Ottoman melanjutan pemerintahan atas sebagian besar Timur Tengah sampai Perang Dunia I.

Sumber: National Interest

Facebook Comments