For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

USS Carl Vinson vs Liaoning, Bagaimana Jika Mereka Bentrok?

USS Carl Vinson

Ketegangan antara Amerika dan China bukannya mereda tetapi justru semakin panas. Beberapa hari lalu US Navy merilis gambar bagaimana pertemuan berbahaya kapal perang kedua negara di Laut China Selatan.

Lalu bagaimana jadinya jika armada Amerika dan China akhirnya benar-benar terlibat pertempuran di Pasifik Barat? Meski Amerika  bisa memenangkan kontes seapower, China memiliki aset berbasis darat yang cukup besar di wilayah ini hingga semuanya akan berada pada posisi sulit.

Pertempuran bisa diawali dengan kesalahpahaman ketika Amerika melakukan operasi kebebasan nagigasi di dekat pulau yang dikonflikkan di Laut China Selatan. Sebagai gambaran Amerika menempatkan kapal induk USS Carl Vinson  menuju ke Laut China Selatan. Kapal induk akan disertai kelompok tempurnya yang terdiri dari dua destroyer  USS Wayne E. Meyer dan USS Michael Murphy, dan kapal penjelajah USS Lake Champlain.

Kelompok tempur Liaoning

Sementara itu, kapal induk China Liaoning dikirim juga bergerak ke wilayah ini bersama tiga kapal perusak rudal, dua frigat peluru kendali, korvet anti-kapal selam, dan kapal pendukung.

Jika kedua kekuatan tersebut kemudian berhadap-hadapan dan saling menyerang,  Amerika harus diakui akan menikmati keuntungan awal. Hal ini karena sayap udara Amerika di kapal induk jauh lebih mampu daripada China bahkan tanpa F-35C sekalipun.

Liaoning terakhir terlihat terbang dengan kekuatan udara yang diisi 13 jet tempur J-15. Sekali lagi kelemahan Liaoning adalah sistem peluncuran sky jump yang memaksa jet tempur berat ini harus terbang dengan beban yang tidak maksimal baik dalam hal membawa bahan bakar ataupun senjata.

J-15 siap lepas landas dari Liaoning

Mereka akan berhadapan dengan Carrier Air Wing 2, sayap udara yang saat ini ditugaskan ke Vinson. Air Wing 2 memiliki tiga skuadron tempur – 2, 34, dan 137 – yang terbang masing-masing diperkuat 10-12 F / A-18 Hornets. Mereka memiliki sekitar 34 Hornet yang akan didukung oleh empat pesawat radar peringatan dini E-2C Hawkeye  dari Skuadron Peringatan Dini Udara Carrier 113. Seluruh kekuatan juga akan didukung oleh EA-18G Growler dari Electronic Attack Squadron 136.

Sehingga 13 pesawat tempur China akan terbang dengan muatan yang tidak maksimal ditambah harus diserang habis-habisan dalam perang elektronik yang akan membutakan mereka di udara. Akan sangat berat bagi mereka untuk melawan 34 jet tempur Amerika yang dibentengi dengan pesawat serangan elektronik yang sangat mampu.

Tetapi Amerika membutuhkan semua senjata untuk bisa bisa menembus semua pertahanan kapal yang ada dalam kelompok tempur tersebut di mana jumlahnya lebih banyak dibanding kelompok tempur Vinson.

F/A-18E Super Hornet lepas landas dari USS Vinson

Growler akan memegang peranan penting untuk membatasi kemampuan anti udara dari lima kapal rudal   yang semuanya membawa rudal anti-udara – dan Liaoning yang membawa sistem senjata jarak dekat Type 1130 yang berpotensi dapat menembak 10.000 putaran per menit pada rudal dan pesawat yang menyerangnya.

Hornet dapat bergabung dengan Helikopter MH-60R dari Skuadron Helikopter Strike  Maritim 78 dan skuadron MH-60S, namun Angkatan Laut Amerika mungkin lebih memilih untuk menjaga agar helikopter tetap berada dalam cadangan.

Kemungkinan besar, Hornet yang dilengkapi kemampuan untuk perang anti-udara setelah berhasil merontokkan J-15 akan kembali ke kapal untuk mengambil rudal anti-kapal Harpoon. Tidak lama lagi, Super Hornet akan menerima Harpoon Block II dengan jarak tempuh 134 mil. Itu cukup jauh sehingga pesawat bisa menembakkan kapal   dari luar jangkauan rudal permukaan ke udara China, HQ-9 yang memiliki jangkauan 108 mil laut.

Tapi jika Vinson jika menggunakan Harpoon lama, mereka akan menghadapi masalah karena jarak tembaknya hanya 67 mil laut.  Meski Hornet masih bisa menyelesaikan pekerjaan, mereka harus terbang di dekat permukaan laut, muncul dan menembakkan rudal mereka, dan kemudian menghindari peluru kendali saat mereka melarikan diri.

Dengan demikian mereka bisa menghancurkan armada China, bahkan jika mereka kehilangan beberapa Hornet dalam serangan tersebut.

NEXT: AMERIKA JUGA DIPAKSA MUNDUR
Facebook Comments