For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Imbangi Rusia, NATO Siapkan Latihan Perang Terbesar Setelah Perang Dingin

ilustrasi

Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO sedang bersiap untuk menggelar latihan militer terbesar sejak Perang Dingin berakihr.

Sekretaris Jenderal aliansi Jens Stoltenberg mengungkapkan sekitar 45.000 tentara akan ambil bagian dalam latihan Trident Juncture di Norwegia pada akhir Oktober dan awal November. Latihan fiktif tapi realistis,  dilaporkan sebagai yang terbesar sejak akhir Perang Dingin.

Latihan ini dilakukan hanya beberapa bulan setelah Rusia menggelar latihan militer bersama Vostok 2018 yang melibatkan ratusan personel militer. Latihan ini juga disebut sebagai yang terbesar setelah Uni Soviet runtuh.

Selain pasukan, sebanyak 29 negara anggota NATO dan mitra juga akan mengirim 150 pesawat, 60 kapal, dan 10.000 kendaraan ke tempat pelatihan.

Latihan dilakukan di tengah hubungan antara Rusia dan NATO yang tidak juga kunjung tenang. Utusan Amerika untuk NATO Kay Bailey Hutchinson pada Selasa 2 Oktober 2018 bahkan menuduh Rusia melanggar Intermediate Nuclear Forces Treat 1987.

Dia mengatakan bahwa Amerika mungkin “menghancurkan rudal” Rusia sebelum mereka dapat dikerahkan jika negara tersebut menolak untuk mengubah arah.

Sekutu Barat telah memperkuat kehadiran militer mereka di tahun-tahun setelah aneksasi Crimea oleh Rusia. Trident Juncture 2018 dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas di antara pasukan sekutu dan mitra untuk merespons dengan cepat dan efektif terhadap ancaman eksternal, seperti agresi Rusia.

“Ini akan mensimulasikan tanggapan kolektif NATO terhadap serangan bersenjata terhadap satu sekutu. Dan itu akan melatih kemampuan kami ┬ámemperkuat pasukan kami dari Eropa dan melintasi Atlantik,” jelas Stoltenberg Selasa 2 Oktober 2018 sebagaimana dilaporkan Business Insider.

Dalam upaya untuk mempertahankan transparansi, NATO telah mengundang Rusia untuk memantau latihan militer gabungan tersebut.

“Semua anggota organisasi untuk keamanan dan kerjasama di Eropa, termasuk Rusia, telah diundang untuk mengirim para pengamat,” kata Stoltenberg.

Pada awal September, pasukan Rusia dan China, bersama dengan sejumlah kecil pasukan Mongolia, mengelar latihan bersama di Rusia timur, yang mengarah ke spekulasi signifikan tentang hubungan Rusia-China yang lebih kuat. Dua kekuatan ini sama-sama sedang memiliki hubungan tidak baik dengan Washington.

Rusia menyebut latihan itu belum pernah terjadi sebelumnya, dan mengklaim ratusan ribu pasukan dan puluhan ribu tank dan kendaraan militer lainnya terlibat. Banyak yang menduga bahwa latihan gabungan sebenarnya jauh lebih kecil dari yang dinyatakan.

Facebook Comments